Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 23 Juni 2014
Menjunjung Buddha Dharma untuk Mendorong Perdamaian Dunia, Memberikan Manfaat Kepada Semua Makhluk Hidup dengan Welas Asih, Mewujudkan Tanah Suci Jiwa Manusia dengan Pencerahan
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Para murid Buddha bersatu, Naga Langit Pelindung Dharma, penuh sukacita Dharma! Kita bilang jika berjodoh, maka akan bertemu walau jaraknya ribuan mil. Master memberi tahu semua orang, memiliki jodoh setiap hari bertemu. Terima kasih Bodhisattva memberkati dan para biksu yang melindungi Dharma, serta niat baik semua teman se-Dharma. Mari kita menghargai jodoh, menjalin banyak jodoh baik, dan menyelamatkan makhluk yang berjodoh secara meluas di Hong Kong.
Semakin baik pembinaan seseorang, semakin besar kebajikannya. Namun ingatlah bahwa ujian iblis akan semakin banyak. Mengapa praktisi Buddhis akan belajar di hari ini dan tidak belajar lagi di esok hari? Karena ada banyak ujian iblis. Praktisi Buddhis harus memperkuat keyakinan diri dan melindungi bodhicitta murni diri sendiri dengan baik. Banyak murid yang belajar namun sesat, ini adalah hal yang sangat menyedihkan bagi Master. Pertama-tama, kita harus belajar untuk menjalankan sila, harus mengendalikan keserakahan diri, mengikuti ajaran tidak mengikuti orangnya, dan menggunakan keyakinan benar dan pikiran benar untuk mengatasi pikiran-pikiran yang mengganggu dan pikiran-pikiran jahat yang muncul setiap saat.
Semua murid di seluruh dunia sedang mendengarkan rekaman acara Master. Master pernah dengan sungguh-sungguh mengajari seorang murid di radio untuk tidak menceritakan lelucon kotor, tidak boleh melakukan penyelewengan dalam keuangan, dan harus menekuni Dharma dengan tulus. Dalam acara program, dia sering bercanda dengan Master. Terakhir kali Master sangat cemas dan berkata, “Kamu tidak boleh seperti ini. Kamu mengidap leukemia dan hanya sisa hidup 6 bulan.” Saat itu, dia berkata, “Tidak, saya baik-baik saja.” Dalam waktu kurang dari lima bulan, leukemia menyebar di seluruh tubuhnya dan dia sekarang sudah meninggal, baru berusia 41 tahun. Jaga dirimu sendiri!
Hidup ini sungguh kosong, datang kosong dan pergi juga kosong. Menginginkan ketenaran dan kekayaan sepanjang hidup, tetapi pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa, semuanya seperti gelembung mimpi. Dunia ini adalah sebuah tempat wisata, kita harus meninggalkannya suatu hari nanti, datang ke dunia ini karena jodoh sebab akibat. Tiba di dunia ini, kita harus melenyapkan karma (sebab dan akibat) diri sendiri baru bisa memiliki jodoh baik. Orang yang ingin terbebas dari enam alam baru bisa tiada derita, asal mula derita, akhir derita, dan jalan pencerahan. Sesungguhnya, tiada sesuatu yang dicapainya.
Ada bermacam-macam penderitaan dalam hidup. Namun sebagian besar penderitaan disebabkan oleh pikiran. Jadi, harus membina pikiran kita dengan baik, menjaga mentalitas yang baik, menghadapi hidup dengan sikap optimis dan positif, berpuas diri dan selalu bahagia, maka hidup akan secara alami bahagia dan bebas dari kekhawatiran.
Di kala itu, Su Dongpo dan Foyin sedang minum teh di kedai teh. Ketika pelayan melihat bahwa Foyin adalah seorang biksu, dia bersikap sangat dingin terhadapnya. Karena Su Dongpo sangat terkenal di daerah setempat, pelayan itu sangat ramah terhadapnya. Su Dongpo merasa sangat malu dan mengingatkan pelayan untuk bersikap sopan. Pelayan itu orang picik, dia tetap mengabaikan biksu Foyin. Setalah melakukan pembayaran, Foyin mengeluarkan beberapa perak dari sakunya dan memberikannya kepada pelayan, dan mengucapkan terima kasih dengan rendah hati. Su Dongpo berkata, “Sikapnya sangat buruk.” Foyin berkata, “Dia adalah orang picik yang penuh ambisi” Su Dongpo bertanya pada Foyin, “Lalu mengapa kamu begitu sopan padanya dan menghadiahinya uang?” Foyin berkata, “Mengapa saya harus membiarkan dia memutuskan perilaku saya?” Apakah dia tidak baik pada saya dan saya harus marah untuk mengungkapkan kemarahan saya. Haruskah saya menundukkan kepala jika dia memperlakukan saya dengan baik? “Sebagai manusia, kita harus mandiri, pikiran tidak berubah sesuai keadaan, orang lain serakah, saya tidak serakah. Pikiran dikendalikan oleh diri sendiri, maka akan mengurangi banyak kerisauan di dunia.
Orang-orang yang hidup di dunia ini selalu berpikir bahwa mereka harus memiliki kekayaan agar bisa berharga. Hidup akan bermakna jika mereka memiliki reputasi. Makna hidup yang sebenarnya adalah karena kamu mempunyai keyakinan, karena kamu memiliki keyakinan yang welas asih, inilah landasan hidup yang paling penting, dan hidupmu akan menjadi yang paling sempurna. Belajar bertoleransi adalah suatu pembinaan diri, suatu tingkat kesadaran spiritual dan kebajikan. Jadi, kita harus bertoleransi terhadap orang lain. Laut yang menaungi ratusan sungai memiliki toleransi yang besar. Praktisi Buddhis harus memiliki pikiran yang seluas lautan tetapi selalu berada di tempat yang paling rendah, harus belajar dari bulir padi yang semakin tumbuh tinggi, pucuknya akan menunduk semakin rendah. Kebijaksanaan praktisi Buddhis ada di dalam dirinya bukan di luar.
Ada seorang biksu kecil di sebuah kuil yang sangat nakal dan tidak menaati sila. Dia selalu memanjat tembok untuk bermain di luar pada malam hari. Biksu tua itu mendengar tetangga membicarakannya berkali-kali. Jadi suatu malam dia berjalan ke tembok kuil dan menunggu, setelah beberapa saat, dia melihat biksu kecil itu dengan pelan membawa kursi ke sudut dan memanjat dinding untuk bermain di luar. Biksu tua menggelengkan kepalanya dan berpikir: “Biksu kecil ini…” Dia duduk di kursi menunggu biksu kecil itu pulang. Biksu kecil itu capek bermain dan kembali memanjat tembok. Ketika dia menginjaknya, mengapa kursinya begitu lembut? Begitu dia melihat biksu tua itu duduk di kursi, dia gemetar ketakutan. Dia tidak tahu bagaimana biksu tua itu akan menghukumnya. Biksu tua itu menyentuh bahunya yang sakit diinjak dan berkata, “Nak, cuaca semakin dingin, cepatlah tidur.” Biksu kecil itu merasa malu, wajahnya memerah sampai ke akar telinga. Mulai saat itu, tak seorang pun di kuil yang keluar sembarangan.
Welas asih dan toleransi manusia dapat mengubah hati dan pikiran setiap orang, bisa membuat welas asih kita menghasilkan bunga yang lebih subur. Perut yang besar mampu menampung, menampung langit dan bumi. Memiliki pikiran yang luas baru bisa memperoleh kebahagiaan dari lubuk hati yang paling dalam. Toleransi, tidak mempedulikan keuntungan dan kerugian pribadi, tidak mementingkan ketenaran dan kekayaan, menyingkirkan keegoisan dan pikiran mengganggu, utamakan pada kepentingan semua makhluk, keluarga yang harmonis akan lancar dalam segalanya, mencintai negara baru bisa memiliki semua orang. Berharap semua orang harus menjaga tubuh setiap orang dengan baik, karena tubuh diberikan oleh orang tua, jika tidak merawat tubuh sendiri adalah tidak berbakti. Jika tidak menjaga jiwa kebijaksanaan diri dengan baik, maka akan mengecewakan Guan Shi Yin Pu Sa.
Seperti yang semua orang ketahui, banyak orang akan melakukan banyak hal impulsif ketika mereka sedang bersemangat. Inilah sebabnya beberapa orang kembali ke kehidupan awam setelah menjadi biksu. Ada seorang jenderal yang tangguh dalam pertempuran dan bosan dengan perang dan melihat melampaui dunia fana. Dia pergi ke Kuil Dahui untuk meminta Guru Zen menjadikan dia seorang biksu. Guru Zen melihatnya dan berkata: “Kamu punya keluarga, dan memiliki banyak tingkah laku kemasyarakatan, nanti kita bahas lagi.” Jenderal berkata, “Guru Zen “Saya telah melepaskan segalanya sekarang, istri, anak-anak, dan keluarga. Mohon mentahbiskan saya menjadi seorang biksu.” Guru berkata, “Nanti saja kita bahas lagi.” Jenderal itu tidak berdaya. Suatu hari, dia bangun pagi-pagi dan pergi ke kuil untuk menyembah Buddha. Ketika dia melihat guru Zen, dia tetap meminta untuk menjadi biksu. Guru Zen mencoba berkata kepadanya: “Jenderal, mengapa Anda datang untuk memuja Buddha di pagi hari?” Jenderal berkata, “Untuk menghilangkan amarah di dalam hati, saya bangun pagi-pagi dan memberi hormat kepada Sang Bhagavā,” Guru Zen berkata dengan tersenyum. “Kamu bangun pagi-pagi sekali, apakah kamu tidak takut istrimu akan mencari pria lain?” Ketika jenderal mendengar ini, dia langsung memarahi: “Kamu monster tua, kata-katamu terlalu menyakitkan.” Guru Zen ketawa terbahak-bahak dan berkata: “Hanya satu gerakan kipas yang lembut, api dalam hatimu kembali menyala, begitu temperamental, bagaimana bisa melepaskan?
Melepaskan bukanlah sesuatu yang keluar dari mulut, yang diucapkan mulut. Sepertinya tercerahkan ketika mengatakannya, namun menjadi bingung ketika menghadapi keadaan. Jika seseorang yang menekuni Dharma dan sepertinya memahaminya, maka dia sebenarnya akan bingung, dan kemudian dia akan melihat segala sesuatu di dunia ini secara terbalik, ini adalah bertolak belakang dengan kebenaran. Oleh karena itu, amarah tidak bisa diubah begitu saja, perlu membina diri dengan sungguh-sungguh. Jangan membuat orang lain tertawa karena impulsif. Orang zaman sekarang selalu ingin memperbaiki kesalahannya, tapi tidak punya keteguhan hati. Memperbaiki tabiat buruk itu sama dengan membina pikiran, butuh keteguhan hati dan kegigihan. Kegigihan bisa membawa kesuksesan. Orang yang menekuni Dharma dan membina pikiran harus mempelajari pemikiran Bodhisattva agung, harus banyak menyelamatkan orang, harus terus-menerus membina pikirannya, tekun membina pikirannya. Itu adalah akar dasar dalam menekuni Dharma.
Semua orang menjalin jodoh yang baik, kita selamanya tidak akan terpisah satu sama lain seperti halnya anggota keluarga. Jika menjalin jodoh buruk, kita akan ingin berpisah ketika bersama setiap hari. Oleh karena itu, setiap perkataan Bodhisattva selalu menyentuh bagian penting kita dalam dunia ini. Bodhisattva meminta kita menjalin jodoh baik secara meluas, dan menanam ladang berkah secara meluas. Hidup puluhan tahun, banyak orang yang berpegang teguh pada harta duniawi, yang merupakan hal yang menyedihkan dan merisaukan. Kita harus menggunakan reputasi materi di dunia untuk menukar dengan jalan yang bebas dari rintangan dan kerisauan, itu adalah jalan untuk menekuni Dharma. Kita harus membiarkan kebijaksanaan Bodhisattva memasuki hati manusia dan merasakan kebijaksanaan Bodhisattva setiap hari untuk menyelesaikan kerisauan di dunia. Kita harus memiliki hati yang bersyukur dan bertoleransi. Bersyukur akan membuat orang berwelas asih. Banyak orang membantumu melakukan sesuatu. Ketika kamu bersyukur, kamu akan merasa “Saya harus lebih banyak berkorban, harus lebih baik padanya”. Ini adalah welas asih.
Terdapat tiga unsur bagi orang yang ingin sukses: 1. Harus memiliki ambisius, orang yang berambisius tidak mudah merosot. 2. Harus mempunyai kesadaran, “Kesadaran” artinya perasaan, arti lainnya adalah pengetahuan. Orang yang berpengetahuan memiliki ilmu yang tiada habisnya, maka bisa mengatasi segala kesulitan. Dari manakah pengetahuan berasal? Buddha Dharma dan prinsip-prinsip kemanusiaan yang Master ajarkan kepada kalian adalah ilmu pengetahuan. Ketika kalian belajar dan mendengarkannya, kalian adalah orang yang berpengetahuan. 3. Harus punya tekad. Orang sukses, orang yang bisa mencapai tingkat kesucian, orang yang bisa melampaui enam alam, siapa yang tidak punya tekad? Orang yang memiliki tekad yang kuat, tidak ada yang tidak dapat dicapai.
