Memiliki Kebajikan dan Kebijaksanaan Buddha, Mencapai Kebuddhaan Tanpa Aku (Bagian 2) — 拥有佛德智慧 成就无我佛果(下)

Seminar Dharma San Francisco - Amerika Serikat, 18 September 2014

Memiliki Kebajikan dan Kebijaksanaan Buddha, Mencapai Kebuddhaan Tanpa Aku

Belajar Buddha Dharma bukan hanya sekedar belajar, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari untuk menguji apakah diri sendiri bisa menjalankan sila. Tidak serakah terhadap barang milik orang lain, maka akan hidup dengan leluasa. Tidak membenci orang lain, maka akan sangat bahagia dan sukacita dalam Dharma. Tidak melakukan hal bodoh karena kebodohan, maka tidak akan membenci diri sendiri dan membuat hati diri sendiri tertekan. Tidak memiliki pikiran berarti tersadarkan, praktisi Buddhis harus menyingkirkan semua pikiran yang mengganggu, harus tidak ada pikiran, maka berarti tersadarkan. Harus mencari Buddha Tathagata di dalam hati kita, harus menemukan Buddha sifat dasar di dalam hati kita, agar hati Buddha kita berwelas asih kepada semua makhluk, memahami diri kita sendiri, dan menyelesaikan semua kerisauan di dunia.

Ada sepasang saudara yang tinggal di gedung pencakar langit setinggi 80 lantai. Suatu hari, ketika mereka pulang dari liburan, mereka menemukan sebuah kertas tertulis di pintu masuk tangga yang berbunyi, “Lift sedang mati listrik, silakan naik sendiri.” Mereka tidak punya pilihan selain menaiki tangga sambil membawa koper besar. Saat mereka menaiki tangga ke lantai 20, mereka sudah kelelahan. Abang berkata, “Tasnya terlalu berat. Bagaimana kalau kita taruh saja di lantai 20? Setelah lampu hidup, kita baru turun dan mengambilnya, akan lebih ringan” Adik setuju. Setelah mereka meletakkan tas mereka di lantai 20, mereka melanjutkan menaiki tangga dengan santai sambil mengobrol dan tertawa. Namun masa-masa indahnya tidak berlangsung lama. Ketika mereka mencapai lantai 40, mereka semakin lelah. Mereka mulai saling mengeluh dan menyalahkan satu sama lain, mengapa tidak membaca pemberitahuan di sebelah lift, terus bertengkar saat naik. Ketika mereka mencapai lantai 60, mereka bahkan tidak punya energi untuk berdebat. Adik berkata, “Sudah, jangan bertengkar lagi. Ayo naik tangga saja!”  Akhirnya mencapai lantai 80, mereka sangat gembira. Namun saat sampai rumah, mereka baru sadar kunci rumah tertinggal di tas koper di lantai 20.

 

Kisah ini memberi tahu kita tentang kehidupan modern saat ini. Saat berusia 20 tahun, kita hidup dalam harapan, memikul beban yang berat, dan berada di bawah tekanan besar, namun belum dewasa. Setelah berusia 20 tahun, kita meninggalkan tekanan orang banyak, lepaskan beban, mengejar cita-cita, dan hidup bahagia selama 20 tahun. Saat menginjak usia 40 tahun, baru menyadari bahwa masa muda telah berlalu, dan telah menghabiskan 20 tahun dalam penyesalan, rasa bersalah, keterikatan, dan keluhan. Saat berusia 60 tahun, kita menyadari bahwa tidak banyak lagi hari yang tersisa dalam hidup ini, dan mengatakan pada diri sendiri untuk tidak mengeluh lagi. Begitu juga suami istri, “Jalani hidup dengan baik. Kamu adalah Aku dan Aku adalah kamu, kamu jangan tidak senang melihatku dan Aku juga tidak akan tidak senang melihatmu, mari kita jalani saja hidup berdampingan!” Katakan pada diri sendiri untuk tidak mengeluh, hargai kehidupan diri sendiri di hari tua, dan jalani sisa-sisa tahunmu dengan tenang. Setelah tiba di penghujung hidup, baru menyadari bahwa banyak hal yang belum selesai, dan semua impian tertinggal di usia 20 tahun. Telah sibuk sepanjang hidup, namun tidak dapat menyelesaikan apa pun, inilah kehidupan kita. Berharap semua orang menghargai kehidupan, menghargai jodoh, menghargai berkah, menjalani hidup dengan baik, dan temukan jalan untuk melampaui dan terbebaskan, sehingga hati kita tidak lagi menderita kesulitan dan kepedihan hidup.

 

Berharap semua orang menekuni Dharma dengan baik.  Hanya mereka yang sungguh-sungguh menekuni Dharma yang dapat memperoleh pembebasan sejati. Semua akan baik-baik saja kalau dapat berpikiran terbuka. Banyak orang bertanya: “Master, apa itu tersadarkan? Apa itu potensi kesadaran dan  melepaskan?” Dijelaskan  dengan Bai Hua Fo Fa, tersadarkan berarti menyerah, melepas, dan tidak terjerat. Orang yang benar-benar bisa melepaskan, dia akan tidak masalah dengan apa pun. Hari ini yang saya lewati, maka biarlah berlalu, semuanya bisa dilepaskan dan melihat melampauinya. Itu barulah pelepasan yang sebenarnya.

 

Membina pikiran adalah perlombaan melawan ketidakkekalan hidup diri sendiri. Para teman se-Dharma dan teman-teman di sini, berapa usia kalian? Di manakah kalian berada setelah 50 tahun kemudian? Apakah kalian masih akan menyesal dan merasa sedih karena sesuatu yang kalian katakan atau lakukan hari ini? Kita tidak tahu di mana kita akan berada setelah 50 tahun nanti. Hal-hal yang kita anggap penting saat ini mungkin akan segera berakhir. Sama seperti ketika kita masih kecil, dimarahi atau dipukul orang lain, kita akan merasa sangat sedih dan merasa bahwa sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Tetapi sekarang, kalau dipikir-pikir lagi, itu sangatlah sederhana. Berlomba melawan ketidakkekalan berarti berlomba melawan kehidupan dan nyawa diri sendiri. Kita harus mempersiapkan diri sebelum kehidupan kita yang singkat ini berakhir.

Orang tidak boleh terikat oleh karma. Orang lain mengejar ketenaran dan kekayaan, kamu juga mengejar ketenaran dan kekayaan. Orang lain korup, dan kamu pun melakukan korupsi. Orang lain sedang mencelakai orang lain demi keuntungan mereka sendiri, dan kamu juga mencelakai orang lain dan hidup demi keuntungan diri sendiri, ini adalah menciptakan karma. Terhadap kekuatan karma diri sendiri, kita harus memperbaikinya, mengurangi kesalahan kita, dan akhirnya menghilangkannya. Pertama-tama, harus mengakui kesalahan yang dilakukan diri sendiri di masa lalu, “Saya salah, saya akan berubah”; kemudian kurangi kesalahan. Terhadap hal yang tidak baik, pelan-pelan menguranginya; Tidak ada kesalahan berarti perlahan tidak melakukan kesalahan lagi.

 

Praktisi Buddhis harus memiliki kebajikan Buddha, mengandalkan karakter Buddha, moral dan sifat kebajikan untuk membina pikiran, maka akan memiliki kebijaksanaan Buddha di dunia, karena karakter Buddha bisa membuat kita menghilangkan ketersesatan dan tersadarkan, karena Buddha memiliki kebijaksanaan yang melampaui manusia. Berharap semua orang dalam melakukan apapun harus dipikirkan terlebih dahulu, apakah saya mengecewakan Bodhisattva, orang lain, atau hati nurani diri sendiri? Memiliki buah Kebuddhaan adalah hal yang paling penting. Jika kamu tekun melakukan hal baik setiap hari dan tidak melakukan hal buruk, selama 365 hari kamu adalah orang baik; Jika kamu tidak melakukan hal baik setiap hari dan hanya melakukan satu hal buruk, dalam satu tahun kamu adalah seorang penjahat besar. Harus menanggung akibat dari Kebuddhaan diri sendiri, harus menekuni Dharma dan membina pikiran dengan baik serta memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk diri sendiri. Jadilah orang yang tidak mementingkan diri sendiri, hanya memikirkan orang lain dan tidak memikirkan untuk diri sendiri, maka akan mencapai buah Kebuddhaan tanpa Aku.

 

Master memberitahu kalian sebuah pikiran yang luar biasa, kalian pikirkanlah baik-baik. Jika kamu terlalu menyukai sesuatu, maka kamu akan menjadi budaknya. Jika kamu terlalu mementingkan sesuatu hal, maka kamu akan menjadi budaknya. Ada orang yang terlalu terobsesi dengan sebuah rumah yang dekat dengan pegunungan dan laut, maka dia akan bekerja keras untuk mewujudkannya sepanjang hidupnya, bekerja dua atau tiga pekerjaan hanya untuk melunasi pinjaman. Semakin besar nafsu keinginan dan keserakahan seseorang, maka akan semakin lelah pula hidupnya. Masa lalu seseorang adalah masa lalu, sudah berlalu, maka tidak ada lagi. Jangan melekat untuk mengejar hal-hal dari masa lalu, ini  akan semakin menyakiti dirimu sendiri. Hati manusia seperti sebuah botol, dimana botol adalah kosong. Jika mengisi jus jeruk ke dalamnya, orang-orang akan mengatakan itu adalah jus jeruk. Jika mengisi susu di dalamnya, orang-orang akan mengatakan itu adalah susu. Botol ini adalah kosong, jadi, mengapa kamu harus menaruh semua kecemburuan, kebencian, dan kata-kata buruk yang orang lain katakan tentang dirimu atau hinaan yang mereka katakan tentang dirimu ke dalam botol itu? Ini seperti memasukkan racun ke dalam hati, maka hati pun menjadi racun. Mengapa hati seseorang dipenuhi dengan kerisauan? Tidak mudah menjadi manusia di dunia ini, jadi mengapa menambah kerisauan lagi pada kehidupan yang sudah tidak memuaskan? Ini adalah tindakan manusia yang menyakiti diri sendiri. Tidak mudah bagi seorang untuk menahan kebiasaan buruknya dalam berperilaku dan menekuni Dharma.  Membutuhkan keberanian untuk menundukkan kepalanya dan membutuhkan ambisi untuk mengangkat kepalanya.

 

Di San Francisco, ada seorang pria yang penuh dengan depresi dan kerisauan. Dia keluar dengan mengendarai mobil di pukul lima pagi, sambil memikirkan penderitaan dan kerisauannya sendiri, dia mengendarai mobilnya langsung ke terowongan kereta bawah tanah, tidak dapat maju maupun mundur. Untungnya, tidak ada kecelakaan yang terjadi, tetapi seluruh jalur kereta bawah tanah San Francisco berhenti. Setelah kendaraan dipindahkan dan relnya diperiksa, baru bisa beroperasi normal. Lalu pria ini ditangkap polisi dalam keadaan kebingungan. Jika pikiran tidak dapat mengendalikan perilakunya sendiri, maka perilaku akan menyakiti jiwa. Orang yang tidak mampu mengalahkan kerisauan, tidak akan pernah mampu mengalahkan dirinya sendiri. Yang paling sulit dikalahkan bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri, tetapi diri sendiri. Banyak orang dalam seumur hidupnya ingin megubah orang lain, praktisi Buddhis jangan berpikir untuk mengubah orang lain dalam seumur hidupmu, karena cara terbaik untuk mengubah orang lain adalah dengan mengubah diri sendiri.

 

Belajar Buddha Dharma adalah belajar menyucikan diri, harus memiliki kebijaksanaan dan rasional. Dalam hidup kita di mana-mana perlu rasional. Jika praktisi Buddhis tidak mempunyai akal sehat, maka akan timbul banyak masalah besar. Harus mempunyai keyakinan, harus percaya bahwa Bodhisattva pasti akan menyelamatkan kita. Di dunia ini, keyakinan adalah harta yang dapat diperoleh siapa pun secara gratis. Seseorang yang memiliki keyakinan yang baik dapat mengatasi segala kesulitan. Titik awal semua orang sukses berasal dari keyakinan kecil. Taipan minyak dunia, Rockefeller, pernah berkata: “Walaupun kalian mengambil semua yang kumiliki sekarang, asal tinggalkan keyakinanku sendiri, Aku bisa mendapatkan kembali semua yang telah hilang dalam sepuluh tahun.” Dengan keyakinan, maka ada peluang untuk menciptakan keajaiban. Begitu juga dalam menekuni Dharma, kita harus mempunyai keyakinan, percaya bahwa tubuh kita akan sembuh, percaya bahwa orang-orang yang kita sayangi akan kembali, dan keluarga akan harmonis, keyakinan adalah kekuatan tekadmu. Ketika kekuatan tekad sudah matang, ia akan berubah menjadi motivasi. Kita harus memperkuat keyakinan dan pandangan kita, dan mempraktikkannya dalam tindakan kita sendiri. Inilah “Keyakinan, tekad dan tindakan.”

 

Sungguh menyedihkan bagi manusia untuk hidup di dunia ini. Seorang pemburu menangkap seekor burung, ini adalah seekor burung yang hanya bisa berbicara, ia berkata kepada pemburu: “Jika kamu melepaskanku, Aku akan memberimu tiga nasihat.” Pemburu berkata: “Katakan padaku dulu, dan Aku bersumpah akan melepaskanmu pergi.” Burung berkata: “Baik. Pertama, jangan sesali apa yang telah kamu lakukan. Kedua, jika seseorang mengatakan sesuatu yang menurutmu mustahil, maka jangan percaya padanya. Ketiga, saat kamu tidak bisa mendaki lebih tinggi, jangan memaksakan diri untuk terus memanjat.” Pemburu melepaskan burung itu. Setelah burung itu terbang, ia ingin menguji apakah si pemburu telah mendengarkan nasihatnya, jadi ia berkata kepadanya: “Kamu begitu bodoh, kamu begitu tolol, kamu melepaskanku pergi, kamu tidak tahu bahwa di dalam mulutku tersimpan sebuah mutiara yang tak ternilai harganya. Mutiara inilah yang membuatku begitu pintar.” Pemburu itu menjadi marah ketika mendengarnya. Ia segera memanjat pohon untuk menangkap burung itu, tetapi ia tidak dapat memanjat, lalu ia terjatuh dan kakinya patah. Burung itu berkata lagi, “Kamu telah melupakan semua nasihatku. Aku sudah bilang padamu, ‘Jangan sesali apa yang telah kamu lakukan.’ Kamu melepaskan aku pergi dan sekarang kamu menyesalinya. ‘Jangan percaya apa yang dikatakan orang lain yang menurutmu mustahil.’ Bagaimana kamu bisa percaya bahwa seekor burung kecil dapat memiliki mutiara yang tak ternilai di paruhnya? Sudah kubilang jangan memanjat, tetapi kamu tidak percaya dan bersikeras memanjat. Sekarang kamu lihat, sudah mematahkan kedua kakimu.” Praktisi Buddha harus mendengarkan nasihat orang lain. Nasihat yang bermaksud baik adalah bahasa welas asih. Tidak peduli siapa pun orangnya, harus menerimanya. Kita harus belajar dari laut dan bersikap toleran. Kita harus belajar dari bunga teratai, harus memiliki kualitas keindahan pribadi. kita harus belajar dari pohon pinus dan bersikap ulet. Menekuni Dharma harus memiliki kebijaksanaan. Belajar menjadi manusia berarti belajar menjadi Bodhisattva. Orang yang dapat menjadi Bodhisattva pasti memiliki sifat Kebuddhaan dan memiliki ajaran Buddha Dharma. Berharap semua orang dapat menekuni Dharma dan melindungi Dharma dengan baik.

 

Yang terluas di dunia ini adalah daratan, lebih luas dari daratan adalah lautan, dan yang lebih luas dari lautan adalah hati kita. Tutup mata kalian dan bayangkan “Saya ingin membangun sebuah rumah”, dan seketika sebuah rumah akan muncul di pikiranmu. Jika kamu berpikir “Saya ingin menjadi kacang hijau yang sangat kecil”, maka hatimu akan langsung menjadi sekecil kacang hijau. Jadi hati seseorang bisa besar atau kecil. Mengapa kita tidak bisa memperluas hati kita dan bersikap toleran terhadap orang lain dalam hidup? Hanya dengan pikiran yang luas baru dapat menoleransi segalanya. Semakin besar toleransimu, semakin besar pula pencapaianmu di masa depan. Praktisi Buddhis harus menanggapi segala sesuatu dengan ringan, harus meninggalkan ilusi dunia, harus belajar untuk bersikap optimis. Orang-orang optimis datang ke sini dengan senang hati, itu berarti kamu tidak memiliki terlalu banyak kerisauan. Jika kamu duduk di bawah dan tidak bisa tertawa, itu berarti kamu memiliki terlalu banyak kerisauan. Orang yang optimis akan melupakan kekesalannya jika ia hanya peduli pada tawa, sedangkan orang yang pesimis akan lupa tersenyum jika ia hanya peduli pada kekesalan. Kita harus belajar untuk tidak melupakan asal-usul saat menikmati hasil, menjalani hidup dengan mengikuti arus secara bijaksana, dan menghargai jodoh tidak memaksakan jodoh. Jika hari ini memang milik saya, saya akan memperjuangkannya. Jika bukan milik saya, tak akan memaksanya. Ketika seseorang leluasa, lingkungan berubah hatinya tidak akan berubah. Kita harus menghargai kehidupan. Tidak peduli apa pun yang terjadi, hati kita tidak akan tergerak.

 

Di sebuah ngarai yang berbahaya, terdapat sebuah jembatan gantung dari rantai besi. Satu orang buta, satu orang yang tuli, dan satu orang normal dengan pendengaran dan penglihatan yang baik semuanya ingin menyeberangi jembatan tersebut. Ketiga orang itu berpegangan pada rantai besi dan berjalan di udara. Alhasil, si buta dan si tuli dapat menyeberangi jembatan dengan lancar, sedangkan si normal terjatuh ke jurang. Apakah orang normal lebih buruk daripada orang buta dan tuli? Kelemahan orang yang normal justru berasal dari terlalu pintarnya dia, terlalu peka terhadap apa yang didengar dan dilihat. Orang buta itu berkata: “Saya tidak bisa melihat.  Saya tidak tahu gunung itu tinggi dan jembatan itu berbahaya. Saya memanjat dengan perlahan dan tenang dan berhasil melewatinya.” Orang tuli berkata, “Saya tidak bisa mendengar gemuruh dan amukan ombak di bawah kaki saya, rasa takut relatif berkurang pada saya.” Demikian juga dengan praktisi Buddhis, jangan terlalu banyak mempertimbangkan masa depan atau masa lalu, dan jangan sok pintar, seolah-olah tahu segalanya. Mengapa orang yang banyak tahu menjadi penderita skizofrenia? Mengapa orang yang banyak tahu malah membuat hatinya sendiri menjadi kesal?

 

Ketika orang-orang zaman sekarang melihat orang lain tidak tersenyum, mereka berpikir “kamu tidak baik padaku, aku akan mengabaikanmu”, menambah satu kerisauan. Seorang teman se-Dharma berkata, “Ketika saya melihat bos mengabaikan saya di tempat kerja, saya merasa telah melakukan kesalahan dan sangat sedih sepanjang hari. Kemudian baru mengetahui bahwa bekalangan ini bos telah bertengkar dengan istrinya di rumah dan tidak bahagia setiap hari. Mereka bertengkar selama sebulan, dan saya pun bersedih selama sebulan di tempat kerja.” Sebagai manusia, kita harus memahami untuk menyalakan pelita Buddha di dalam hati kita. Menemukan jalan Buddha, menjadi orang bijaksana, dan selalu menyalakan pelita hati diri sendiri di dunia yang penuh kerisauan, sehingga sabda Sang Buddha tetap abadi, tetap bertahan selamanya, dan pikiran Buddha selalu menyertai. Tidak peduli bahaya di dunia, jangan melihat lima kekotoran duniawi, jangan mendengarkan hal-hal yang jahat, jangan takut, karena tidak ada rasa takut, jauhilah pikiran kontradiksi dan khayalan, dan menyesuaikan jodoh terhadap segala hal di dunia ini. Ini adalah kebenarannya. Jika tidak berpikir dan tidak melihat, maka kerisauan akan hilang dengan sendirinya. Jika tidak mendengar dan berbicara, dari mana datangnya benar dan salah? Sering melafalkan paritta, pikiran menjadi murni. Sering melepaskan makhluk hidup, akan bersyukur. Sering berikrar akan terkabulkan permohonan. Inilah tiga pusaka Xin Ling Fa Men.

Kita tidak boleh marah. Marah berarti menggunakan kesalahan orang lain untuk menghukum diri sendiri. Jika kamu sakit karena marah, tidak ada seorang pun yang akan menggantikanmu. Setiap hari tahu untuk menjaga diri sendiri dengan baik, jadi mengapa masih marah pada orang lain? Jangan membenci, jangan menyimpan dendam, konflik akan selalu ada, jika tidak memikirkannya, maka akan hilang dalam waktu singkat. Menguraikan jodoh buruk mengandalkan pada rasional, harus mengubah kerisauan menjadi kebijaksanaan, harus menggunakan kebijaksanaan untuk membina pikiran, baru bisa benar-benar terlepas dari kerisauan duniawi, mencapai Empat Alam Brahma dan menikmati bersama di Surga Barat.