Seminar Dharma Melbourne, 7 Desember 2014
Melepaskan Semua Jodoh, Bersyukur, Membina Pikiran dan Perilaku, Mencapai Kebuddhaan
Welas asih yang dimiliki setiap orang membuat dunia menjadi lebih damai, orang-orang lebih baik hati, dan masyarakat lebih harmonis. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih! Hujan Dharma, hati yang welas asih, terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma, semua tamu, kaum elit sosial, rekan media, dan relawan Buddhis dari seluruh dunia, terima kasih.
Seminar Dharma tahunan Melbourne mempererat hubungan sesama umat Buddhis. Dedikasi tanpa pamrih dari begitu banyak relawan membuat kita merasakan cinta kasih semua makhluk hidup di dunia. Cinta kasih semua makhluk hidup adalah cinta kasih tanpa pamrih, itulah cinta kasih Bodhisattva yang welas asih.
Sekarang bulan Desember, segera satu tahun akan berlalu. Beberapa orang telah bertambah banyak jasa kebajikan dan kebijaksanaan di tahun lalu, sementara yang lain telah bertambah lebih banyak penderitaan. Di tahun ini, berapa banyak perbuatan baik yang telah kita lakukan, berapa banyak waktu yang telah kita sia-siakan, berapa banyak perbuatan buruk yang telah kita lakukan, berapa banyak kebahagiaan dan penderitaan yang telah kita bawa kepada orang lain, dan berapa banyak kerisauan dan kebahagiaan yang telah kita bawa kepada diri kita sendiri? Seseorang yang tidak membina pikiran itu ibarat hidup di bioskop. Menyaksikan suka, duka, amarah, dan kebahagiaan dalam film ini, emosi diri berubah seiring alur cerita, sebentar sedih, sebentar bahagia. Pada akhirnya film berakhir dan semua orang pergi. Kehidupan manusia adalah suatu kekosongan. Sebelum kematiannya bos Apple, Steve Jobs, masih berpikir untuk meningkatkan kualitas ponselnya, tetapi ia telah meninggalkan kita. Kita selalu berpikir bahwa waktu masih panjang, sehingga kita menyia-nyiakan banyak waktu setiap hari.
Tahun lalu, jumlah kematian akibat kecelakaan mobil di seluruh dunia mencapai 1,24 juta, jumlah pasien kanker yang meninggal mencapai 1,8 juta, jumlah kasus bunuh diri mencapai 1 juta, dan jumlah orang yang meninggal karena berbagai penyakit mencapai 3 juta. Jumlah kematian tahun lalu mencapai 56 juta. Dengan memikirkan angka-angka ini, telah membuat kita memahami sebuah kebenaran: kita hidup di dunia yang tidak kekal. Hidup kita berlalu perlahan-lahan tanpa kita sadari. Orang tua kita dulu sama seperti kita, demi anaknya mereka bekerja keras mencari nafkah dan hidup, pada akhirnya meninggalkan kita dengan tangan kosong. Apakah kita masih ingin mendapatkan lebih banyak materi di dunia ini yang tidak dapat kita bawa pergi? Hanya dengan meninggalkan hal-hal materi duniawi, mencari makna hidup yang sejati, memahami sebab dan akibat, serta membina perilaku dan pikiran, barulah bisa memperoleh keberadaan abadi di dunia spiritual. Sulit untuk mendapatkan tubuh manusia dan mengenal ajaran Buddha Dharma. Hanya dengan memahami kehidupan, memahami dunia, melepaskan semua jodoh, mencintai negara dan rakyat, menaati hukum, memiliki keyakinan dan pikiran yang benar, serta menjauhi segala kejahatan dan mengamalkan segala kebaikan, barulah bisa berhasil membina diri dalam satu kehidupan.
Di dunia ini, masalah terbesar manusia adalah kemelekatan, karena hal-hal yang paling kamu melekat adalah hal-hal yang paling menyakitimu. Jika kamu paling melekat dengan perasaan, maka perasaanlah yang menyakitimu; jika kamu paling melekat dengan anak-anak, anak-anaklah yang paling menyakitimu; jika kamu paling melekat dengan karir dan uang, maka karir dan uang yang akan paling menyakitimu; hal atau orang yang paling kamu melekat dan tidak bisa kamu lupakan, semakin besar kesakitan yang dia berikan kepadamu. Beginilah orang-orang tersakiti sedikit demi sedikit selama dia hidup di dunia ini. Jika tidak bisa melepaskan segala sesuatu di dunia, itu seperti bermimpi. Mimpi yang kamu alami di malam hari disebut mimpi hitam, dan mimpi yang kamu alami di siang hari disebut mimpi putih. Mimpi di malam hari akan terbangun setelah di pagi hari, tetapi sulit untuk terbangun dari mimpi yang kamu alami di siang hari. Inilah yang sering kita sebut “bermimpi di siang bolong”. Orang yang telah terbangun adalah orang yang tersadarkan, dan orang yang belum terbangun adalah orang sesat. Kita harus segera tersadarkan, tidak boleh hidup dengan penuh kemelekatan di dunia ini, menyakiti kita, menyakiti orang lain, dan bahkan lebih menyakiti jiwa kebijaksanaan kita.
Ada seorang teman se-Dharma di Sydney yang selalu merasa tidak nyaman di hidungnya, sehingga ia pergi memeriksakan diri ke dokter spesialis THT, dan hasilnya ia menderita kanker hidung stadium lanjut. Dokter mengatakan bahwa karena tumbuh pada bagian yang berbahaya, tidak boleh menjalani operasi. Ia bertanya kepada dokter berapa lama ia bisa hidup, dan dokter mengatakan ia bisa hidup setengah tahun lagi. Setelah menangis tersedu-sedu bersama keluarganya, teman se-Dharma itu dengan tegas berkata, “Semua orang pada akhirnya akan mati. Saya berikrar akan menyelamatkan lebih banyak orang. Dalam enam bulan ke depan, saya akan menyelamatkan semua orang yang saya bisa. Selama saya masih hidup, saya akan belajar dan mempraktikkan ajaran Buddha. Dan bila saya mati pun, saya akan tetap bertekad untuk mencapai Kebuddhaan.” Ia dengan tekun menyelamatkan orang setiap hari, berikrar, melepaskan makhluk hidup, melafalkan paritta, dan bervegetarian. Ia menangis dan menelepon semua orang untuk memberi tahu mereka bahwa ia telah menderita akibat tidak membina pikiran dan menekuni Dharma di masa lalu. Ia telah menyelamatkan banyak orang. Selama enam bulan, ia melewati masa dalam penderitaan dan juga sukacita dalam Dharma. Kemudian, ia merasa hidungnya tidak ada rasa aneh lagi, jadi ia pergi untuk pemeriksaan ulang. Dokter berkata kepadanya: “Sel-sel kanker telah menghilang, kamu baik-baik saja.” Ia berkata: “Jika bukan karena penyakit ini, saya tidak akan pernah memiliki tekad sebesar ini, dan saya mungkin akan menyia-nyiakan lebih banyak waktu. Saya sudah tahu bahwa hidup ini tidak kekal. Saya telah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan dan menemukan nilai kehidupan yang sejati.” Sebenarnya, setiap dari kita di dunia ini sama seperti telah mengidap kanker, yaitu kematian yang tak terhindarkan. Karena kita tidak memahami hal ini, maka sebelum kematian tiba, kita justru sibuk mengejar dan menuntut, tanpa berpikir untuk menolong atau menyelamatkan orang lain. Kita mengira bahwa kita akan hidup lama, lalu menjalani hidup tanpa makna yang sekadar hanya menghabiskan waktu, hanya akan membawa lebih banyak materi duniawi ke dalam kuburan yang akan kita masuki nanti. Praktisi Buddhis harus menyelamatkan makhluk hidup, membuat dirinya terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan, agar dirinya memasuki Alam Sukhavati, setiap hari harus membina perilaku dan pikiran, mencapai tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva. Inilah mentalitas praktisi Buddhis sejati.
Ketika seseorang menyadari kesalahannya sendiri, ia adalah tersadarkan; memperbaiki kesalahannya adalah sukses; menyadari semua kesalahannya, adalah tersadarkan sepenuhnya; memperbaiki semua kesalahannya adalah kesempurnaan. Berharap semua orang dapat melihat dunia ini dengan jernih. Jika ada hal-hal yang tidak dapat kamu terima, itu berarti kamu belum memiliki welas asih; jika kamu masih memandang rendah orang lain, itu berarti kamu belum memiliki kebijaksanaan. Orang yang memiliki kebijaksanaan tidak memiliki nafsu keinginan, jika memiliki nafsu keinginan akan berujung pada kekecewaan. Jika seseorang hidup dalam kekecewaan sepanjang hari, ia akan putus asa, oleh sebab itu, bahkan harapan pun seharusnya jangan kita miliki, karena harapan akan berujung pada lebih banyak kekecewaan.
Seorang pelukis memiliki kebiasaan tidur siang di rumah, ia sehat jasmani dan rohani, hidup dengan leluasa. Namun kini ia tidak bisa tidur karena dua lukisannya tiba-tiba terjual dengan harga sangat tinggi. Setiap kali ia terpikirkan deretan angka panjang di rekening banknya, ia menjadi begitu bersemangat hingga tak bisa mengendalikan hatinya. Kemudian, karena sedikit ketenaran yang ia peroleh, hidupnya menjadi semakin sibuk, menghadiri berbagai acara, salon, dan jamuan makan. Bukan hanya tidur siangnya yang hilang, bahkan malam pun ia sering mengalami insomnia. Kesehatannya semakin memburuk. Pikirannya seperti lentera yang berputar, berantakan. Dahulu, ia melukis sambil minum teh, hidup dalam dunia yang tenang dan sederhana, tak pernah memusingkan soal tidur, ia hidup bagaikan di surga. Namun, sejak ketenaran dan kekayaan datang, ia seolah satu kali melangkah ke neraka. Gembira atau tidaknya hidup ini, bahagia atau tidak, bukan ditentukan oleh berapa banyak uang yang dimiliki dan di posisi apa dia berada, melainkan tergantung pada bagaimana cara dia menjalani hidup ini. Tidak terikat oleh ketenaran dan kekayaan di dunia, maka hidupmu baru bisa benar-benar terbebaskan. Inilah yang sering dikatakan dalam agama Buddha, memiliki kehidupan yang terbebaskan baru akan memiliki kehidupan yang sebenarnya.
Menurut para Buddha dan Bodhisattva, mereka yang memiliki kesadaran disebut sebagai Buddha atau Bodhisattva; sedangkan mereka yang tidak memiliki kesadaran disebut sebagai manusia biasa. Jika kamu mengetahui hal ini dan merasakannya, kamu adalah seorang Bodhisattva; jika kamu tidak memperhatikan hal ini dan tidak memiliki kesadaran, kamu adalah manusia biasa. Jadilah orang yang benar dan tidak sesat, yang murni dan tidak ternoda, yang sadar dan tidak bingung. Saya hidup dengan jujur dan lurus; apapun yang terjadi, tidak akan menyangkut saya, sehingga tidak akan sulit tidur setiap hari. Saya bersih, tidak pernah melakukan kejahatan apa pun, hati saya terang dan tidak ternoda. Saya memahami segala sesuatu di dunia ini, maka saya tidak akan terjerumus dalam ketersesatan. Inilah yang sering diajarkan oleh para Buddha dan Bodhisattva: “Kesadaran, Kebenaran, dan Kemurnian.”
Orang yang telah mencapai pencerahan harus mempelajari beberapa prinsip hidup, harus berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan, harus sangat berhati-hati dan waspada saat berbicara. Dengan demikian, dia akan lebih jarang membuat kesalahan dan tidak akan sering berbuat salah. Bersabar dalam menghadapi kerisauan. Seseorang harus mampu bersabar terhadap kerisauan diri sendiri dengan penuh perhatian. Orang yang berbudi luhur harus memiliki lebih sedikit hobi, tidak memiliki terlalu banyak hobi, dia akan hidup sederhana dan bebas. Harus merawat hati, kurangi pemborosan pada diri sendiri. Jangan sepanjang hari mengenakan pakaian bagus, makan makanan enak, atau tinggal di rumah yang baik, ini akan mengurangi berkah kebajikanmu. Ada orang yang sejak kecil diramalkan memiliki berkah dan keberuntungan yang tak terbatas seumur hidup. Karena itu, ia hidup mewah sejak kecil, dan ketika berusia beberapa puluh tahun, ia sudah jatuh miskin dan tidak punya uang lagi. Ada pula orang yang diramalkan memiliki nasib yang sama, tetapi sejak kecil ia hidup hemat, tetap sederhana dalam makan dan tempat tinggal meskipun tahu dirinya memiliki nasib baik. Akibatnya, berkah dan umur panjangnya terus berlanjut. Harus menghargai berkah, seseorang yang menghargai berkah keberuntungan baru akan memiliki berkah keberuntungan. Orang yang bersih memiliki lebih sedikit keserakahan, jika kita dirinya bersih, maka harus memiliki sila. Kita harus memupuk kebajikan saat hidup di dunia, seseorang harus memiliki moral dalam berbicara, memiliki moral dalam memberi, dan memiliki moral dalam membantu orang lain. Praktisi Buddhis harus belajar melepaskan, nafsu keinginan yang tiada batas terhadap hal-hal materi akan melukai jiwa diri sendiri. Jika mampu melepaskan keinginan terhadap materi, maka akan menyempurnakan kehidupan spiritualnya. Kehidupan dimulai dengan sebuah tangisan, lalu membawa kerisauan seumur hidup dan pada akhirnya meninggalkan dunia tanpa daya. Kebodohan sepanjang hidup seseorang adalah karena ketidaktahuan tentang diri sendiri dan lingkungan hidupnya; ia salah memahami, salah menilai, dan akhirnya melakukan kesalahan. Hidup itu menderita, banyak orang kehilangan nyawa karena tidak tahu cara hidup. Tidak tahu bagaimana mengelola keluarga, maka akan kehilangan keluarga; tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan anak, pada akhirnya kehilangan hubungan perasaan dengan anak-anak. Bodhisattva berkata, “Hidup ini menderita,” kita harus meninggalkan penderitaan dan memperolah kebahagiaan, terbebas dari ketersesatan baru bisa tersadarkan.
Seseorang membina pikiran berarti memelihara hatinya. Untuk memelihara hatinya, ia harus memiliki sedikit keinginan, artinya tidak ada nafsu keinginan. Tanpa nafsu keinginan, hati akan damai. Jika saya puas hari ini, hati saya akan tenang. Semakin banyak nafsu keinginan yang dimiliki seseorang, semakin kacau hatinya. Semakin besar nafsu keinginannya, semakin besar pula tekanannya. Semakin besar keserakahan, semakin lelah hidup seseorang. Hari ini menginginkan ini dan besok menginginkan itu, selamanya hidup dalam nafsu keinginan, ia selamanya akan hidup dalam suasana hati yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Beginilah munculnya penderitaan dan kerisauan orang-orang.
Seorang teman se-Dharma tinggal di sebuah gedung. Ia melihat sebuah keluarga membuang sekantong sampah di koridor umum. Hari Senin, ia merasa kesal melihat sampah itu. Ia memandang rendah keluarga itu dan merasa orang yang membuang sampah itu tidak tahu sopan santun. Hari Selasa, ia lewat dan melihat sekantong sampah itu, lalu kembali kesal. Ia berpikir, “Aku tidak akan membantumu menyapu atau membuangnya. Biarkan kamu yang menderita sendiri.” Hari Rabu, ia melihat sampah itu lagi dan berpikir, “Kalau kamu tidak membuangnya selama sebulan, rumahmu akan bau busuk.” Hari Kamis, ia melihat sampah itu dan merasa sangat tertekan dan sedih. Kisah ini memberi tahu kita bahwa kita manusia kurang memiliki toleransi. Kita melihat sampah setiap hari. Kita lebih suka membiarkan hati kita dipenuhi keluhan, kebencian, dan frustrasi daripada membantu orang lain menyelesaikan masalah mereka. Kita hidup dalam keluh kesah dan keluhan tentang orang lain. Orang-orang seperti itu telah menanamkan suasana hati yang gelap di hati mereka. Setiap orang memiliki sampah di hatinya. Jika mulutmu memarahi, membenci, iri, dan mengutuk orang lain, bukankah itu sampah di hatimu? Setiap hari memarahi orang lain, bukankah itu sama dengan membuang sampah dari hati? Setelah teman se-Dharma ini memahami kebenaran, ia membantu pihak lain membersihkan sampah tersebut. Sejak saat itu, ia tidak lagi melihat kantong sampah ini, tidak ada sampah lagi di hatinya. Kebencian hanya akan menambah kesedihan. Hanya welas asih yang dapat membuat suasana hatimu merasa nyaman.
Orang-orang sekarang mengutamakan kenikmatan materi, tetapi mengabaikan kekayaan dunia spiritual, sehingga membawakan terlalu banyak distorsi mental. Mereka merasa tidak nyaman dengan semua orang dan selalu melihat kesalahan orang lain. Mereka selalu merasa bahwa segala sesuatu dan semua orang tidak adil bagi dirinya sendiri, sehingga akan bertengkar, merasa risau, saling iri, membenci orang lain, dan hidup dalam kerisauan setiap hari. Praktisi Buddhis harus memahami bahwa kita hidup untuk membahagiakan orang lain. Menekuni Dharma dan menyelamatkan orang bergantung pada karakter. Menjadi orang baik dan menyelamatkan orang bergantung pada kebijaksanaan. Hubungan antar sesama bergantung pada kebajikan. Kita harus menghadapi segala sesuatu di dunia ini dengan welas asih dan kebijaksanaan. Kamu akan menemukan bahwa ruang dalam hidupmu akan tiba-tiba menjadi lebih cerah. Melihat semua orang adalah begitu indah, mentalitasmu pun akan menjadi indah. Pada saat ini, kamu akan memiliki Bodhicitta dan cinta kasih Bodhisattva, berharap semua orang memahami hal ini.
Tiongkok adalah negara kuno dengan sejarah 5.000 tahun. Tiongkok dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi etiket. Semangat etiket yang paling mendasar adalah menghormati orang lain. Menghormati orang lain berarti menghormati diri sendiri. Penghormatan bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang kita peroleh, sebuah ungkapan tulus dari kasih sayang hati kita sendiri. Dalam menekuni Dharma, pertama-tama harus menghormati orang lain. Rasa hormat akan menumbuhkan kepercayaan dan dapat mengubah musuhmu menjadi temanmu. Untuk menekuni ajaran Buddha Dharma, harus menggunakan pikiran yang setara untuk mengakui pencapaian orang lain, memuji orang lain, dan menghormati kepribadian orang lain. Dengan demikian, masyarakat akan lebih stabil, orang-orang akan lebih bersatu, dan keluarga akan lebih harmonis. Menghormati semua orang, menghormati yang tua, dan menyayangi yang muda juga merupakan kebajikan yang sangat penting bagi kita praktisi Buddhis.
Setiap orang yang hidup di masa kini harus memahami bahwa keseluruhan hidup kita saling bergantung satu sama lain. Jasa orang tua yang membesarkan kita, ajaran yang diberikan oleh guru kepada kita, kasih sayang pasangan dan saudara kandung, pelayanan dari masyarakat, serta karunia alam berupa sinar matahari, air, dan udara yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma. Sejak kita memiliki kehidupan sendiri, kita sudah tenggelam dalam lautan kasih karunia. Harus bersyukur kepada orang lain, terima kasih kepada anugerah dari alam. Mendengarkan Dharma, terima kasih atas welas asih Bodhisattva, hati kita akan menjadi lebih welas asih, dan akan mengurangi konflik, tubuh dan pikiran menjadi tenang dan damai, jiwa menjadi sehat. Hanya dengan meneladani Bodhisattva kita baru bisa menjadi Buddha. Pertama-tama, harus bersyukur, bersyukur bahwa dapat membuat dirimu memahami kebenaran terhadap banyak hal, lautan yang menanungi ratusan sungai, tidak peduli apa pun perubahan yang terjadi di dunia, bersyukurlah terlebih dahulu. Pertengkaran antar suami istri, bersyukurlah terlebih dahulu, “Karena kamu, saya punya keluarga ini”; ketika orang tua dan anak-anak tidak bahagia, bersyukurlah terlebih dahulu, “Karena saya punya anak, berapa banyak kebahagiaan yang dibawakan ke dalam keluarga ini”; ketika anak-anak dan orang tua tidak harmonis, bersyukurlah, “Tanpa ibu, aku tidak akan ada di dunia ini, ayah dan ibu telah berkorban begitu banyak demi membangun sebuah rumah tangga untukku.” Hanya anak yang memiliki rasa syukur seperti ini yang akan tahu berterima kasih, memiliki pekerjaan yang layak, dan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dirimu adalah pribadi yang memiliki keyakinan dan pikiran benar. Orang-orang sekarang hanya tahu untuk dirinya sendiri. Apa yang dimiliki orang lain, mereka berusaha rebut dengan segala cara, bahkan apa yang seharusnya bukan milik mereka pun tetap ingin direbut. Inilah kehidupan yang tidak normal.
Ini adalah sebuah kisah nyata. Di Inggris, ada seorang kakek tua yang hidup sebatang kara, istri dan anak-anaknya telah tiada. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah besar yang indah, dikelilingi taman yang luas. Tanpa anak, tanpa keluarga, tubuhnya pun semakin lemah dan dipenuhi penyakit. Akhirnya, ia memutuskan untuk pindah ke panti jompo, dan mengumumkan akan menjual rumah cantiknya itu. Harga awal rumah tersebut adalah 80.000 poundsterling, namun akhirnya harga naik menjadi 100.000. Kakek tua itu dipenuhi kesedihan, jika bukan karena masalah kesehatan, ia tidak akan menjual rumah yang telah menemaninya hampir sepanjang hidupnya. Dengan penuh ketulusan, ia membungkukkan badan dan berkata: “Kakek tua, saya sangat ingin membeli rumah ini, tapi saya hanya punya 10.000 poundsterling. Jika kamu mau menjualnya kepada saya, saya akan membiarkanmu tetap tinggal di sini dan hidup bersama saya. Kita bisa minum teh, membaca koran, dan berjalan-jalan bersama setiap hari. Saya akan membuat kamu bahagia. Percayalah, saya akan merawatmu dengan sepenuh hati.” Setelah berpikir cukup lama, kakek tua akhirnya tersenyum sambil meneteskan air mata dan menjual rumah itu kepada si pemuda hanya seharga 10.000 poundsterling. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup ini, untuk mewujudkan impian tidak selalu harus berjuang sampai saling menjatuhkan, dan juga tidak perlu menipu orang lain. Terkadang, yang kita perlukan hanyalah sebuah hati yang penuh kasih.
Budaya tradisional Tiongkok menjunjung tinggi: mengabdi dengan setia kepada negara dan berbakti kepada orang tua di rumah. Budaya ini menekankan pentingnya menghargai ilmu dan moral dibanding kekuatan militer, serta menjunjung tinggi keharmonisan. Pertikaian yang tiada henti hanya akan mendatangkan lebih banyak konflik dan penderitaan bagi diri sendiri. Nilai-nilai luhur dari budaya tradisional ini telah memberi manfaat besar bagi generasi demi generasi keturunan Tionghoa. Kita, para Tionghoa di Australia, menjadikan budaya Tionghoa sebagai fondasi. Selama Perang Dunia II, banyak orang Tionghoa ikut bergabung dalam militer untuk melawan para penjajah. Ahli jantung keturunan Tionghoa, Profesor Zhang Ren Qian, telah memberikan kontribusi besar bagi Australia. Dan berapa banyak orang Tionghoa yang setiap hari membantu pembangunan di Australia. Semua ini berakar dari budaya Tionghoa. Pada Dalam KTT G20 yang baru saja berakhir, meskipun Australia memberikan tekanan besar terhadap Tiongkok dalam isu Laut Tiongkok Selatan, dan Tiongkok sepenuhnya dapat membalas balik tekanan. Sebaliknya, pemimpin Tiongkok kita justru menandatangani perjanjian perdagangan bebas. Membalas dendam dengan kebajikan, perjanjian ini memberikan manfaat besar bagi para petani dan sektor jasa di Australia. Inilah keunggulan dari budaya luhur Tiongkok — menaklukkan orang dengan kebajikan, seperti yang diajarkan oleh Konfusius: bersikap welas asih terhadap sesama.
