Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di New York, 22 September 2014
Kebijaksanaan yang Sempurna, Memahami Secara Mendalam terhadap Segala Hal, Lautan yang Menaungi Ratusan Sungai, Leluasa Tanpa Hambatan
Jika ingin terbebaskan, maka tidak boleh ada ketidaktahuan. Ketidaktahuan berarti tidak mengerti. Ketika kamu mengerti, kamu tidak akan menyalahkan orang lain. Ketika kamu tahu bahwa anak ini adalah penagih utangmu, utang di masa lalu, maka kamu tidak akan menyalahkannya. Ada seorang pria berbaring di pantai, merasa sangat rileks dan bahagia, tiba-tiba, seseorang menginjak kakinya, dia melompat dan bertanya, “Mengapa kamu menginjakku?” Melihat itu adalah seorang buta, dia tidak mengatakan sepatah kata pun lagi. Ini karena ketidaktahuan menyebabkan kamu meloncat. Ketika kamu memahami hal ini, kamu akan menekan amarahmu. Manusia bukanlah hewan, tidak mungkin tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Banyak orang berkata bahwa mereka tidak dapat mengendalikan diri mereka itu tidaklah benar. Bila menyangkut kepentingan diri sendiri, dia akan dapat mengendalikan diri.
Praktisi Buddhis harus tahu sopan santun, harus mencapai pembebasan, dimulai dari dirinya sendiri, dimulai dari kewibawaan. Praktisi Buddhis harus duduk dan berdiri dengan benar, dan menutup mulut ketika menguap. Menekuni Dharma harus beretika, harus memegahkan tanah suci Buddha. Jika kamu sendiri tidak anggun, bagaimana kamu bisa membiarkan orang lain menekuni Dharma, membuat orang lain mempercayainya? Orang harus sopan. Di kala itu, Konfusius pernah berkata, “Kendalikan dirimu dan kembalilah pada kesopanan”, kata “sopan” sangatlah penting. Hari ini kita menekuni Dharma, kita harus mempelajari kesopanan. Jika memiliki kesopanan dalam hati, maka dapat bersikap sopan dalam penampilan. Kalau seseorang penampilannya jelek, pasti ada yang salah dengan hatinya. Banyak orang berkata “Saya hanya bercanda”. Asalkan dia bercanda, kamu jangan menganggapnya bercanda, kebanyakan adalah yang sudah dipikir di dalam hatinya, dia ingin mencobamu. Semua hal ada akar dan sumbernya.
Ketika orang menderita, dia sedang mengubah karma pikirannya. Semakin menderita, semakin cepat karma pikiran yang berubah, dan semakin cepat pula kekurangan mereka akan terhapuskan, ini adalah mengubah karmanya. Kita harus mengubah semua penderitaan hidup menjadi kebahagiaan, harus menjadikan penderitaan sebagai kebahagiaan, hanya tahu bagaimana menanggung kesulitan dalam membina diri. Penderitaan adalah sebab dari kebahagiaan. Kita harus meningkatkan tingkat kesadaran spiritual kita. Hanya mereka yang menanggung penderitaan baru bisa menemukan cara untuk membebaskan diri dan tidak menderita di masa mendatang. Jika menikmati diri setiap hari, selamanya tidak pernah berpikir bagaimana membebaskan diri atau bagaimana lebih baik dalam membina pikiran. Itulah sebabnya mengapa di kuil yang terlihat menyembah Buddha semuanya adalah orang yang mengalami kesulitan hidup, karena setelah menderita dia baru akan berpikir untuk mencari cara untuk membebaskan dirinya. Berapa banyak orang yang menikmati hidupnya, memiliki uang, ketenaran dan kekayaan, tidak pernah tahu untuk menyembah Buddha, tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. Menanggung penderitaan ketika menekuni Dharma adalah suatu hal baik, merupakan jodoh pendukung, yaitu jodoh yang membuatmu untuk maju.
Praktisi Buddhis harus belajar untuk menjadi lebih bahagia dan lebih sederhana ketika masih muda, dan menjadi lebih sederhana dan lebih bahagia ketika sudah tua. Benar-benar belajar untuk merasa leluasa, harus memahami bahwa pikiran diri masih memiliki kemampuan untuk merasa leluasa ketika sedang menderita dan menerima balasan karma. Kehidupan seseorang tidak dapat dipisahkan dari kebahagiaan dan kesederhanaan. Orang yang sederhana mudah untuk bahagia, dan orang yang bahagia pasti sangat sederhana. Keleluasaan sejati adalah memahami bahwa saya memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah saya sendiri; mundur selangkah, laut menjadi luas dan langit terbuka lebar, kita baru bisa memperoleh kebebasan yang sesungguhnya di dunia.
Hidup seharusnya lebih sederhana. Orang zaman sekarang terlalu rumit. “Halo, kamu sangat bersih akhir-akhir ini!” “Apa maksudnya? Dulu Aku tidak bersih?” “Paman tua, kamu terlihat sangat bersemangat hari ini!” “Apa maksudnya…” Orang tidak boleh memiliki terlalu banyak maksud, karena terlalu banyak maksud akan menjadi tidak berarti. Jika ada maksud, maka akan tidak berarti, ketika tidak ada maksud, maka sesungguhnya akan berarti. Setiap langkah dalam kehidupan memerlukan pengorbanan. Menekuni Dharma juga harus berkorban, jika mendapatkan apa yang diri sendiri inginkan, maka juga akan kehilangan sesuatu yang tidak ingin kamu kehilangan. Selama seseorang meminta sesuatu, ia harus memberikan pengorbanan. Ini seperti jika seseorang ingin membeli sebuah rumah besar, maka dia harus membayar sejumlah uang yang besar, mengajukan pinjaman ke bank, dan bekerja dua kali lebih keras untuk melunasi pinjaman tersebut. Orang selalu menyesal, mereka lupa apa yang mereka inginkan dan menyesali apa yang telah mereka lakukan. Seseorang tidak boleh selalu hidup dalam penyesalan. Ketika kamu mendapatkan sesuatu dan kemudian kehilangannya, tidak boleh hidup dalam penyesalan, hendaknya berpikir bahwa itu adalah jodoh, maka tidak akan hidup dalam hubungan yang menyedihkan.
Seorang penjual rokok berbicara tentang manfaat merokok di sebuah pasar di Paris. Seorang lelaki tua melangkah ke panggung dan berkata kepada semua orang, “Hadirin sekalian, lelaki ini mengatakan bahwa merokok memiliki banyak manfaat. Saya beri tahu kalian, selain manfaat yang dibicarakannya, masih ada tiga manfaat lagi: anjing akan takut padanya; pencuri tidak akan mencuri dari rumah seorang perokok; perokok akan awet muda!” Tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan di bawah. Penjual rokok bertepuk tangan dan mendesaknya untuk melanjutkan, “Bisakah kamu memberi tahu kami mengapa demikian?” Orang tua itu berkata, “Orang yang merokok sepanjang tahun sering kali bungkuk. Anjing mengira dia akan mengambil batu untuk memukulnya, jadi anjing akan lari saat melihatnya. Orang yang merokok sepanjang tahun akan batuk setiap malam, ketika pencuri membobol rumahnya, akan berpikir dia tidak sedang tidur, lalu melarikan diri. Jarang perokok yang berumur panjang, jadi mereka selalu muda. “Jadi harta karun tetaplah harta karun. Sesuatu yang baik, meskipun dikatakan seburuk apa pun, ia tetaplah sesuatu yang baik; Sesuatu yang buruk, meskipun dikatakan sebaik apa pun, ia tetaplah sesuatu yang buruk. Sebuah ajaran sesat, ajaran apa pun yang tidak tahan dikritik dan tidak mendapat pengakuan dari banyak orang, bukanlah sesuatu yang benar. Praktisi Buddhis harus memahami, kita menghadapi banyak ajaran yang sesat dalam kehidupan. Ada yang bilang, selama bisa menemukan pria kaya, tidak peduli bisa menikah atau tidak, jika kamu mendengarkan dan menyetujui ajaran sesat ini, maka kamu telah tersesat. Banyak orang mengatakan bahwa semua orang melakukan hal-hal buruk, dan jika kamu melakukannya juga, maka kamu juga mempercayai ajaran sesat. Banyak hal di dunia ini seperti kemasan. Kemasannya sangat cantik, tetapi yang menarikmu bukanlah hal-hal yang benar-benar sesuai aturan dan ajaran Dharma. Hanya ketika kamu benar-benar memahami dan mengetahuinya, baru bisa memperoleh pengetahuan dan kesadaran sejati, pengetahuan yang benar, dan kesadaran yang benar. Hal-hal yang benar-benar baik dapat bertahan dalam ujian. Orang baik yang terus-menerus menunjukkan kesalahanmu, dia adalah orang baik; Seseorang yang setiap hari memuji kekuranganmu seolah-olah itu adalah kelebihan, ia bukanlah orang yang benar-benar baik. Kita harus memahami bahwa nasihat yang jujur tidak enak didengar dan obat yang baik rasanya pahit.
Seseorang yang benar-benar bijaksana adalah orang yang mampu mencari jalan keluar untuk setiap masalah yang dihadapi, dan menyelesaikannya dengan cara yang harmonis — itulah yang disebut kebijaksanaan. Kebijaksanaan manusia bagaikan matahari, yang dapat menerangi kegelapan; seperti tanah yang subur, dapat menyuburkan akar yang baik; seperti cermin, yang dapat melihat menembus segalanya. Seseorang yang berhati nurani baik, apapun yang dihadapinya selalu adalah hal baik. Orang yang baik hati pasti akan mendapat balasan yang baik juga. Seperti lautan besar yang mampu menaungi ratusan sungai. Jika seseorang berhati yang luas, benda sekotor apapun yang dituang ke dalam laut, juga dapat menjadi biru. Kebijaksanaan bagaikan air, sesuatu yang bening dan transparan, yang tak terlihat dan tak dapat disentuh, namun hadir saat dibutuhkan. Sebanyak apapun yang kamu miliki hari ini, harta, rumah dan kekayaan dunia, jika kamu tidak memiliki kebijaksanaan, semuanya akan sia-sia. Kebijaksanaan tidak terlihat dan tidak bisa disentuh, namun kebijaksanaan muncul bersama dengan hal-hal. Ketika sesuatu hal terjadi, orang lain tidak dapat memikirkan solusinya, tetapi kamu bisa, itu berarti kamu memiliki kebijaksanaan. Ikutilah jodoh nidana di dunia untuk mewujudkan kebijaksanaan diri sendiri. Ketika kerisauan datang, kebijaksanaan akan muncul. Semakin banyak kerisauan, semakin banyak kebijaksanaan yang kamu miliki untuk menghentikannya dan mengatasinya. Inilah yang dimaksud dengan kerisauan adalah Bodhi.
Jika seseorang ingin mengubah dirinya, yang diandalkan adalah motivasi jangka panjang dan daya tahan yang kuat. Perubahan dalam hidup bergantung pada akumulasi hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Hanya dengan terus berusaha tanpa henti, hari ini berbuat sedikit kebaikan, besok menanam sedikit kebajikan, lusa terus memperkenalkan Dharma kepada orang-orang dan mengasihi sesama, dengan hati penuh welas asih, keadaan pasti akan berubah. Seiring berjalannya waktu, seseorang akan perlahan membentuk dan memperhalus budi pekertinya, sepenuhnya mendedikasikan diri dalam menekuni Dharma, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi semua makhluk. Ketekunan yang terus-menerus adalah salah satu prinsip penting bagi seorang praktisi Buddhis. Banyak orang gagal dalam bisnis atau usaha karena tidak punya ketekunan. Mereka mencoba sedikit, melihat tidak mendapat keuntungan lalu menyerah. Terus begitu, di sini sedikit, di sana sedikit, akhirnya tidak mencapai apapun. Ada pepatah kuno Tionghoa yang berbunyi, ” Ada 360 jenis profesi, setiap profesi bisa melahirkan juara.”
Pada masa Musim Semi dan Musim Gugur serta Periode Negara-negara Berperang, Raja Wu mendaki Gunung Monyet. Ketika monyet-monyet itu melihat begitu banyak orang berbaju besi datang, mereka semua lari berhamburan, hanya seekor monyet yang melompat-lompat di atas pohon memamerkan kemampuannya. Pada saat itu, Raja Wu mengangkat busur dan anak panahnya, membidik ke arah monyet itu, lalu melepaskan anak panah. Tak disangka, monyet itu sangat hebat dan berhasil menyambar anak panah itu. Raja Wu sangat marah dan memerintahkan pengawalnya untuk memanah bersama-sama, monyet itu pun tertembak mati. Raja Wu berbalik dan berkata kepada Yan Buyi, “Monyet ini begitu sombong akan kelincahannya, meremehkan-Ku, dia mencari mati sendiri! Kamu jangan terlalu menunjukkan rasa bangga, dan perhatikan ekspresimu! “Yan Buyi sangat takut dan meminta orang suci Dong Wu untuk untuk membimbingnya bagaimana cara menghilangkan kesombongan, menjadi sangat rendah hati, dan mengubah semangat jiwanya. Orang suci itu sering mengatakan kepadanya: “Dalam menekuni Dharma dan berperilaku harus melepaskan dan melihat melampaui segalanya. Mendampingi seorang raja ibarat mendampingi seekor harimau.” Dengan demikian, ia perlahan-lahan menghilangkan kesombongannya, menjauhi ketenaran dan kekayaan, menolak kemewahan dan kehormatan, tiga tahun kemudian dia pun mengapat pengakuan dari kaisar. Praktisi Buddhis tidak boleh sombong, jangan karena merasa telah mempelajari sedikit kemampuan, keahlian, atau pengetahuan tentang ajaran Buddha, lalu sering menyalahkan orang lain. Tanpa disadari, pengetahuanmu mungkin hanya dianggap sedikit saja oleh orang lain. Kesombongan yang berlebihan jarang berakhir dengan baik. Praktisi Buddhis harus menjauhi dari kesombongan, menenangkan hati seperti air yang tenang. Hanya ketika pikiran tenang, barulah dapat melihat banyak kebenaran dalam dunia ini. Sebagai contoh, dua orang sedang bertengkar di jalan, mereka yang terlibat dalam pertengkaran sering kali tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, hanya para pengamat di sekitarnya yang bisa melihat dengan jelas. Dalam hidup ini, yang paling dibutuhkan adalah kebijaksanaan. Seseorang yang menciptakan kebahagiaan bagi orang lain pasti adalah orang yang telah memahami segalanya dan menemukan sifat dasarnya, dan pasti hidup dalam kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang membawa penderitaan bagi orang lain, sesungguhnya adalah orang yang paling menderita.
Orang harus menyingkirkan sifat kompetitif yang tidak sehat dalam dirinya — yaitu sifat yang selalu ingin menang dalam segala hal, dan merasa dirinya paling. Seseorang harus meredamkan sifat kompetitifnya, jangan bersaing, maka akan hidup dalam keleluasaan dan kedamaian. Melampaui keinginan-keinginan duniawi dan mengejar kesempurnaan karakter, merendahkan diri dan menghargai orang lain, maka akan terbebas dari keinginan sesaat, tidak akan khawatir dan risau. Hanya ketika seseorang memandang keuntungan di sekitarnya sebagai hal yang biasa, ketika orang lain mendapatkan sesuatu — “Saya tidak apa-apa, itu memang pantas untuknya. Apa yang dimiliki orang lain adalah hasil kerja keras dia sendiri. Saya harus belajar darinya.” Dengan begini, kamu tidak akan ada kerisauan. Orang yang tidak ada kerisauan baru akan mendapatkan.
Kalian adalah murid-murid Master dan juga murid-murid Bodhisattva. Kalian harus bekerja keras untuk menyelamatkan orang. Jika kamu memilih untuk hidup di mata orang lain, kamu ditakdirkan untuk mati di mulut orang lain. Praktisi Buddhis hendaknya hidup leluasa dan damai, jangan biarkan omongan kosong orang lain mengganggu atau menghalangi jalan hidup kita. Banyak orang yang seumur hidupnya dikarenakan perkataan orang lain, “apa yang dipikirkan orang lain, apa yang dikatakan orang lain” sehingga mencelakai dirinya sendiri. Mereka tidak memiliki kebebasan sama sekali. Tidak boleh karena sikap baik atau buruknya orang lain terhadapmu dan memengaruhi kemampuanmu untuk membuat keputusan yang benar, itu adalah orang yang tidak memiliki kebijaksanaan dan kebebasan. Mencari Bodhisattva setiap hari, namun sebenarnya Buddha ada di dalam hati kita.
Orang harus menyelamatkan dirinya sendiri; tidak dapat mengandalkan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Banyak orang lanjut usia yang mengandalkan anak-anaknya untuk mendapatkan makanan, kehidupan apa yang mereka jalani? Banyak orang yang hidup bergantung pada orang lain, berapa banyak masa muda yang terbuang sia-sia? Segala sesuatu di dunia ini adalah tidak kekal, semuanya adalah fenomena yang rapuh dan tidak stabil, pada akhirnya semuanya akan lenyap seperti debu yang tertiup angin. Semua yang dimiliki, dan semua hal yang kamu pikir dapat kamu miliki dan andalkan, semuanya bersifat sementara dan pasti akan meninggalkan kita. Jadi apa lagi yang tidak bisa berpikiran terbuka? Kehidupan yang telah kita jalani, sudah berlalu ya berlalu. Mengapa masih tidak bisa berpikiran terbuka? Apakah kita masih harus menderita karena pertengkaran dengan orang lain saat masih kecil? Masa lalu harus dilupakan, dan masa depan harus dirangkul. Untuk memiliki masa depan yang baik, maka harus membina masa kini dengan baik.
Ketika seorang praktisi Buddhis diserang orang, maka harus memperlakukannya dengan welas asih. Bahkan jika dia mengatakan kamu tidak baik, kamu harus tersenyum dan berkata, “Kami jarang berkomunikasi. Dia juga sangat kasihan. Mengapa dia membicarakan saya? Dia tidak bisa berpikiran terbuka. Dia memarahi saya, saya tidak masalah, dia akan sangat sedih, saya merasa sangat sedih untuknya.” Perlakukan orang lain dengan baik saat kamu diganggu. Jika orang lain menindasmu, kamu berpikir dengan baik-baik, “Dia benar-benar sangat kasihan. Kita mungkin pernah menjadi saudara di kehidupan sebelumnya. Di kehidupan ini bersikap begini pasti ada alasannya.” Orang lain memfitnahmu, kamu harus berlapang dada untuk menoleransinya. Meskipun dia memarahimu, kamu pikirkan: “Tidak apa-apa. Saya juga pernah memarahi orang lain sebelumnya. Ini adalah pembalasan!” Jika berpikir seperti ini, kamu tidak akan marah lagi. “Hanya saja pembalasan datangnya sangat terlambat, karena saat itu saya memarahi orang lain, mengatakan keburukan orang lain, hingga sekarang dari mulut orang ini memarahi saya, memfitnah saya, pembalasan datangnya begitu terlambat. Seharusnya datang lebih awal, balasan karma langsung.” Pembalasan mengikuti kita bagaikan bayangan, cepat atau lambat akan menimpa dirimu. Berharap semua orang bersikap toleran. Memiliki toleransi akan memiliki kehidupan yang baik. Landasan kehidupan yang baik adalah mampu memaafkan orang lain, berwelas asih kepada orang lain, dan bersikap toleran terhadap orang lain. Praktisi Buddhis hidup dalam masyarakat nyata, baru bisa menjalani kehidupan yang nyata.
Ada seorang dokter bodoh salah diagnosis hingga menyebabkan kematian anak orang lain. Untuk mengganti rugi, dia memberikan putranya sendiri kepada orang lain sebagai anak angkat. Setelah beberapa waktu, dia kembali mengobati pembantu orang lain sampai mati. Sebagai kompensasinya, dia memberikan pembantunya sendiri kepada orang tersebut. Suatu malam, seseorang mengetuk pintu dan berkata, “Dokter, istri saya sakit perut. Mohon dokter datang dan bantu mengobatinya.” Dokter itu memanggil istrinya keluar dan berkata, “Istriku sayang, kamu harus bersiap untuk pergi.” Kita harus memikirkan bagaimana cara menghindari hal-hal buruk terjadi daripada selalu menyiapkan kompensasi yang tidak berguna. Orang selalu berpikir tentang cara menebus kesalahan setelah melakukan kesalahan. Mengapa tidak bisa belajar dari Bodhisattva untuk memahami sebab dan akibat? Kalau sedari awal kita sudah tahu dalam hati apa akibatnya kalau kita menanam benih hari ini, maka kita tidak akan menerima akibat yang buruk. Praktisi Buddhis harus takut terhadap semua sebab. Bodhisattva takut akan sebab; para makhluk takut akan akibat. Mereka berani melakukan apa pun, ketika akibatnya datang baru merasa takut. Kita menekuni Dharma, takut akan sebab, baru tidak takut balasan karma buruk.
Praktisi Buddhis harus tersadarkan. Banyak orang yang tidak menekuni Dharma di masa lalu. Mereka masih tidak tahu apa itu tersadarkan. Itu adalah pemenuhan pikiran dan kehidupan. Bila pikiran memiliki ajaran Buddha Dharma, ia akan tahu bahwa ia hidup di antara semua makhluk dan tidak akan mati. Tidak akan terobsesi oleh kenikmatan duniawi. Ketika kamu melihat kegembiraan dunia, janganlah kamu terobsesi olehnya. Segala sesuatu yang merangsang mengandung unsur halangan iblis. Berjudi dan menggunakan narkoba semuanya sangat merangsang. Kita harus memahami bahwa gaya hidup yang kita pikir harus kita jalani di masa lalu sering kali tidak cocok untuk kita, dan banyak hal yang kita lakukan dalam hidup ini tidak cocok untuk kita. Jangan menyia-nyiakan hidup kita yang berharga pada orang-orang dan hal-hal yang tidak berharga. Banyak orang yang karena dulunya disakiti dan ditindas, mereka merasa bersalah dan membenci lalu menyakiti dirinya sendiri, harus melupakannya.
Kehidupan yang berharga adalah kehidupan nyata, tidak terobsesi oleh kepalsuan duniawi, semuanya adalah kosong. Mokugyo (muyu) yang berongga, dalamnya adalah kosong, baru bisa berbunyi; Genderang yang berongga, bagian tengahnya adalah kosong, maka suaranya baru terdengar jauh. Kita harus bisa melihat kebenaran dari segala hal di dunia ini, kosongkan hati diri sendiri, murnikan pikiran, baru bisa menampung segala hal, menoleransi hati semua orang, karena hati semua makhluk adalah hatiku.
Orang yang menekuni ajaran Xin Ling Fa Men harus mencintai negara dan rakyatnya, harus mematuhi hukum, harus berwelas asih kepada orang lain baru bisa memperoleh lebih banyak jodoh baik.
