Kebijaksanaan Dalam Keheningan, Kehidupan Yang Sempurna (Bagian 2) — 静中常智 圆满人生(下)

Seminar Dharma Vancouver, 27 September 2014

Kebijaksanaan Dalam Keheningan, Kehidupan Yang Sempurna

Selama seseorang berhati yang baik, maka ia akan memiliki pengetahuan dan kesadaran yang benar. Jika seseorang hidup demi orang lain setiap hari, ia tidak akan melakukan kesalahan apa pun, inilah pengetahuan yang benar. Mengapa ibu itu mulia? Karena ibu tidak memiliki  ego di dalam hatinya, hanya ada anak-anaknya, ia baru dapat memiliki pengetahuan dan kesadaran yang benar. Ibu selalu demi anak-anaknya, dan anak-anaknya akan selalu mencintainya. Jika merasa memiliki penyakit di dalam hati,  sedih, tidak bisa berpikiran terbuka, dan membenci orang lain, maka harus menggunakan metode yang luar biasa untuk menyembuhkan kekurangan diri sendiri. Karena telah melakukan kesalahan, maka harus memperbaikinya, maka akan memiliki pikiran yang benar. Jika sering mengatakan diri sendiri telah melakukan kesalahan, maka perlahan tidak akan melakukan kesalahan. Jika selalu berpikir bahwa diri sendiri tidak melakukan kesalahan, maka akan membuat lebih banyak kesalahan. Inilah penyimpangan yang dikatakan dalam Buddhisme. Jika seseorang melekat harus bagaimana terhadap suatu hal, ia pasti akan tersesat. Memperbaiki kesalahan berarti memperbaiki penyimpangan. Pengetahuan yang benar berarti memahami dengan benar kebenaran dari hal-hal ini, kesadaran benar yang muncul adalah potensi kesadaran. Seseorang harus tercerahkan dan harus tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini seperti pohon yang memiliki akar dan air yang memiliki sumber, dengan demikian barulah bisa menghasilkan energi yang baik. Orang yang selalu memiliki kebaikan di dalam hatinya, ia tidak akan sering mengalami musibah. Inilah yang dikatakan oleh para leluhur kita, “Satu kebaikan dapat mengurai ratusan malapetaka.”

Seorang pria pergi mengunjugi seorang cendekiawan yang sukses dan bertanya kepadanya, “Bisakah Anda memberi tahu saya apakah ada takdir di dunia ini?” Cendekiawan itu berkata, “Tentu saja ada.” Pria itu bertanya, “Jika takdir sudah ditentukan, apa gunanya saya berjuang?” Cendekiawan itu meraih tangannya, berpura-pura membaca telapak tangannya, memberi tahu dia tentang kesehatan dan karirnya, lalu berkata, “Genggam tanganmu sekarang, di mana takdirmu sekarang?” Pria itu tiba-tiba tersadar: “Ternyata takdir itu ada di tangan diri sendiri.” Cendekiawan itu berkata: “Meskipun takdir itu ada di tangan kita sendiri, bukan di mulut orang lain. Namun, banyak orang melakukan hal-hal yang salah dalam hidupnya karena mereka mempercayai apa yang dikatakan orang lain, karena orang lain mengatakan bahwa dia tidak baik, dia mengubah konsep pemikirannya yang benar. Ini adalah takdir tidak berada di tangannya sendiri. Sebagian besar takdir berada di tangan kita sendiri. Ada banyak garis takdir yang mengalir dari telapak tangan kita. Sebagian di antaranya berada di luar kendali manusia, yaitu takdir; yang dapat dikendalikan adalah keberuntungan.

 

Dalam hidup seseorang bisa sukses atau tidak, takdir mencakup 70%, dan keberuntungan mencakup 30%. Banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk mengubah takdirnya tetapi sangat sulit. Meramal nasib tidak pernah mengatakan meramal takdir keberuntungan. Keberuntungan ada di tangan diri sendiri. Memang sangat melelahkan menggunakan 30% untuk mengubah 70%, tetapi setelah menekuni Dharma, ada Bodhisattva memberkati, maka dapat menggunakan 30% untuk mengubah takdir diri sendiri. Inilah yang dimaksud dengan menekuni Dharma untuk mengubah takdir. Praktisi Buddhis dapat mengubah takdir keberuntungan diri sendiri. Jika menekuni Dharma tidak dapat mengubah takdir, mengapa sang Buddha membawa ajaran Buddha Dharma ke dunia 2.500 tahun yang lalu? Tujuannya adalah agar menekuni Dharma benar-benar mengubah takdir keberuntungan dalam hidup.

 

Kita semua orang hidup di saat ini, kegembiraan dan kesedihan di masa lalu sudah berlalu. Masa lalu tidak boleh disimpan dalam hati. Kebencian seseorang terhadap orang lain di masa lalu bagaikan virus komputer yang tersimpan di dalam hati; kecemburuan terhadap orang lain adalah virus lain yang tersimpan di dalam hati; membenci ini dan itu, tidak mampu menoleransi ini dan itu, hati penuh dengan virus, maka suatu hari akan rusak. Singkirkan hati sepenuhnya dan lupakan semua hal buruk di masa lalu, baru akan memiliki hari esok yang akan dipenuhi dengan hati yang lebih baik dan lebih welas asih. Kegembiraan dan kesedihan masa lalu telah berlalu. Kegembiraan dan kesedihan masa depan belum tiba. Manfaatkan hari ini tanpa ragu-ragu atau khawatir berlebihan, jangan membenci orang lain, jangan membalas dendam terhadap orang lain. Kebencian dan dendam hanya akan memperdalam penderitaan diri sendiri dan orang lain. Jika kamu tidak sengaja menjatuhkan seratus yuan hari ini dan merasa uang itu jatuh di suatu tempat, apakah kamu akan menghabiskan dua ratus yuan untuk naik mobil mencarinya? Orang-orang zaman sekarang akan melakukan ini, hanya karena satu kalimat amarah dari orang lain, ia akan menghabiskan waktu yang tak terhitung banyaknya untuk merasa sedih. Marah demi suatu hal, akhirnya merugikan orang lain tapi juga tidak menguntungkan diri sendiri, bahkan sampai jatuh sakit karena emosi, bukankah ini seperti menghabiskan dua ratus yuan hanya untuk menemukan seratus yuan? Jelas-jelas tahu bahwa sebuah hubungan yang telah hilang tidak mungkin bisa kembali, tetap saja terus masih merasa sedih, patah hati, dan tenggelam dalam kenangan, terus-menerus menyakiti diri sendiri, bukankah ini adalah kemelekatan? Di dunia ini, yang berlalu adalah masa lalu. Masa lalu tidak dapat diperoleh dan masa depan belum tiba. Hanya dengan memanfaatkan saat ini barulah menghargai hidup diri sendiri.

 

Sang Buddha tidak pernah memaksa orang lain melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai. Sang Buddha Sakyamuni yang agung hanya memberi tahu makhluk hidup apa yang baik dan apa yang jahat. Baik dan buruk harus dipilih sendiri. Banyak orang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan, menyakiti orang lain dan juga diri mereka sendiri, dan masih tidak mau mengakui alasan kesalahan mereka, inilah akar dari menyakiti diri sendiri. Hidup sepenuhnya berada dalam kendali setiap makhluk hidup itu sendiri. Seekor keledai, meskipun memakan rumput terbaik, tetap tidak bisa menjadi seekor kuda yang tangguh. Ketika kemelekatan dan diskriminasi mengendalikan pembinaan diri seseorang, tidak peduli seberapa tekun juga tidak dapat menjadi Buddha.

 

Seorang pria kaya melihat temannya yang seorang petani sangat miskin, jadi dia memberinya seekor sapi untuk membuka tanah kosong, dan berkata: “Ketika musim semi tiba, saya akan membawa benih, menabur benih, dan kamu akan keluar dari kemiskinan di musim gugur.” Pria miskin itu berterima kasih padanya dan ingin bekerja keras dengan penuh harapan. Namun setelah beberapa hari, sapi itu harus makan rumput dan pria itu harus makan nasi. Hidup menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Dia berpikir: “Lebih baik jual saja sapinya, beli beberapa ekor kambing, sembelih satu untuk dimakan, dan sisanya bisa berkembang biak, kalau anak-anak kambing sudah besar, bisa dijual dan menghasilkan uang.” Namun setelah memakan satu kambing, kambing-kambing yang tersisa tak juga melahirkan anak. Hidup pun kembali terasa sulit. Orang miskin itu berpikir: ” Kalau begini terus, saya akan kelaparan lagi. Lebih baik saya jual kambing-kambing ini dan beli ayam saja. Ayam bisa bertelur, dan telurnya bisa dijual untuk menghasilkan uang.” Beberapa hari kemudian, dia tidak tahan lagi karena telur ayam tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Akhirnya, ia mulai menyembelih ayam. Ketika tinggal satu ekor ayam terakhir, orang miskin itu benar-benar putus asa dan tidak ingin menjadi kaya lagi. “Lebih baik menyembelih semua ayam, membeli seceret arak, minum tiga cangkir, dan lupakan semua masalah.” Ketika musim gugur tiba, orang kaya yang baik hati datang dengan membawakan benih untuk ditanam, tetapi ia menemukan bahwa orang miskin itu sedang minum arak dan makan sayur acar, dan rumahnya benar-benar kosong. Orang kaya itu pun pergi, dan orang miskin itu tetap miskin.

 

Banyak orang pernah memiliki impian, pernah mendapat kesempatan, dan bahkan pernah mengambil tindakan. Namun yang paling sulit adalah bertahan hingga akhir. Dalam meraih kesuksesan, yang paling menantang adalah memiliki ketekunan dan tekad yang kuat. Jika seorang praktisi Buddhis ingin terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan, ia harus menahan air mata untuk menguraikan jodoh buruk. Jika anggota keluarga marah kepadamu hari ini, itu karena balasan karma kehidupanmu sebelumnya. Kita harus menahan air mata untuk mengendalikan diri, bersabar menanggung penghinaan, dan bertekun, serta mengubah kebiasaan buruk diri sendiri. Penderitaan orang yang menekuni Dharma adalah sementara, sedangkan penderitaan orang yang tidak menekuni Dharma adalah seumur hidup.

 

Dalam Buddhisme mengajarkan tentang ketidak-kekacauan, yaitu Bodhi. Pikiran tidak boleh kacau, kebijaksanaan akan selalu ada dalam ketenangan. Ketika seseorang tenang, kebijaksanaan akan lahir. Bisakah seseorang memiliki kebijaksanaan ketika ia marah? Dalam budaya Tiongkok, ketika seseorang akan marah, orang lain akan berkata, “Kamu harus tenang, harus tenang.” Dalam masyarakat Barat, juga sama mengatakan harus  menenangkan diri. “cool down — tenang”. Seseorang hanya ketika berada dalam ketenangan, ia baru bisa melahirkan kebijaksanaan. Hati yang gelisah sepanjang hari akan membuat pikiran kacau. Seseorang yang dipenuhi kerisauan setiap hari tidak akan menjalani hidup dengan lancar. Seseorang yang sepanjang hari tak bisa tersenyum, maka kebahagiaan akan menjauhi dirinya. Jika hari ini kamu masih bisa tersenyum, itu berarti masih ada sedikit kebahagiaan dalam hidupmu. Dan jika kamu masih bisa tertawa lepas, itu pertanda bahwa kebahagiaan telah datang menghampirimu. Ketika kita tidak menuntut, barulah bisa terbebas dari kemelekatan. Jika hari ini sudah merasa nyaman tinggal di rumah dengan dua kamar dan satu ruang tamu, maka jangan lagi dirisaukan soal ingin punya rumah yang lebih banyak. Ada orang yang awalnya sudah merasa nyaman tinggal di apartemen dua kamar satu ruang tamu di kota. Tapi setelah menghadiri pesta orang lain yang jauh lokasinya, lalu melihat rumah mewah itu, hatinya mulai tergoda: “Wah, rumahnya besar sekali, kamar mandinya saja ada beberapa, dapurnya luas sampai bisa dipakai menari. Saya juga ingin rumah yang lebih besar dan lebih bagus.” Sama seperti manusia pada umumnya, setiap hari melihat istrinya sendiri, dan tidak  merasa istrinya cantik. Tapi saat melihat wanita lain di luar, rasanya semua terlihat lebih menarik daripada istrinya sendiri. Padahal, kecantikan sejati dari seorang istri adalah hati nuraninya. Bahkan jika Marilyn Monroe menikah denganmu, kamu melihatnya selama 10 tahun pun tak merasa dia cantik. Kecantikan yang sejati berasal dari hati, bukan dari penampilan luar, itulah mentalitas yang seharusnya dimiliki oleh seorang praktisi Buddhis.

 

Kita praktisi Buddhis harus memperlakukan orang lain dengan kesetaraan pikiran, memperlakukan orang lain seperti orang tua kita sendiri, dan memperlakukan generasi muda seperti anak kita sendiri, apakah kamu masih akan marah? Banyak orang memiliki terlalu banyak tuntutan terhadap sesuatu. Ketika mereka tidak dapat memenuhi tingkat tertentu, maka akan menyakiti diri sendiri. Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan, harus belajar untuk berpikir dari sudut pandang orang lain. Berita kemarin mengatakan bahwa seorang mahasiswa berusia 20 tahun di Lanzhou, karena pacarnya direbut oleh orang lain, berdua berpacaran di jalan. Dia berlari ke depan dan membunuh kedua orang itu dengan pisau, seseorang datang untuk mencegahnya, dia pun menusuk orang itu. Pada akhirnya, dia tahu bahwa dia harus membayar dengan nyawanya, lalu dia pun bunuh diri. Inilah yang disebut kemelekatan Aku, karena dia merasa merebut pacar adalah tindakan egoisme, dan dia membunuh orang karena merasa dirinya tidak sanggup menerima kenyataan itu sehingga melakukan tindakan yang salah. Orang seperti ini adalah kemelekatan Aku. Semuanya diutamakan pada ego dirinya, mementingkan diri sendiri, dan melekat pada perasaan, pikiran, dan gengsinya sendiri. Selalu mengutamakan ego dirinya sendiri, melindungi diri sendiri, dan mengejar terhadap kepentingan diri sendiri, sehingga akan mengalami berbagai macam konflik dan kerisauan. Berharap kalian jangan selalu memikirkan diri sendiri, harus belajar dari keagungan ibu yang memikirkan anak-anak, belajar dari keagungan para Bodhisattva yang memikirkan semua makhluk, dan belajar dari Lei Feng yang memikirkan orang lain setiap hari, baru akan mendapatkan lebih banyak. Hanya tahu memberi tanpa menanyakan apa yang akan dituai, pasti akan mendapatkan lebih banyak pahala di dunia.

 

Kita menasihati orang lain untuk membina pikiran, jangan menyalahkan orang lain. Kebijaksanaan manusia tidak hanya tercermin dalam satu aspek. Tidak semua benih di dunia ini dapat tumbuh menjadi pohon besar, tidak semua bunga dapat berbuah, tidak semua orang dapat menikmati hidup yang sempurna, tidak semua hati dapat memperoleh ketenangan, dan tidak semua hubungan asmara dapat bertahan selamanya. Hidup itu tidak sempurna. Tiba di dunia ini maka tidak dapat menemukan kesempurnaan. Siapa pun yang mengejar kesempurnaan justru akan memikul luka dan kekurangan di dalam hatinya, lalu menanggung penderitaan batin karenanya, dan itu adalah sesuatu yang wajar dalam hidup. Selama kita hidup di dunia ini, maka harus belajar menyesuaikan jodoh. Karena segala sesuatu tidaklah sempurna, maka baik-baiklah menyesuaikan jodoh. Menerima kenyataan dan menghadapi kesulitan hidup dengan tenang, inilah sikap mental yang positif dan penuh semangat untuk terus berkembang.

 

Seorang guru Zen bertanya kepada murid-muridnya: “Ketika merebus sepanci air, dan kehabisan kayu bakar di tengah jalan. Apa yang harus dilakukan?” Beberapa murid berkata pergi membeli, dan yang lain berkata pergi meminjam. Guru Zen berkata: “Mengapa kalian tidak membuang setengah air di dalam panci?” Segala sesuatu di dunia ini tidak selalu bisa berjalan sesuai harapan, merelakan baru bisa mendapatkan. Merelakan keserakahan dan nafsu keinginan, yang diperoleh adalah kedamaian pikiran; Lepaskan kepentingan diri sendiri, akan memperoleh jodoh baik dari semua makhluk. Seseorang yang dapat membantu orang lain akan memiliki jodoh baik dan jodoh pendukung. Harus banyak membantu orang lain, maka jodoh baik akan muncul di sekelilingmu.

 

Praktisi ​​Buddhis harus memahami untuk bersikap hormat, berbicara dengan hormat kepada orang lain, berbicara dengan penuh kasih, dan selalu mengatakan kebenaran daripada kebohongan, berarti berkata-kata yang baik. Biarkan Buddha di hati diri mekar seperti bunga teratai. Ucapkan kata-kata Buddha, bertindak seperti Buddha, berpikir seperti Buddha, dan berbicara seperti Buddha, ini adalah dasar untuk menjadi seorang Buddha di dunia. Kekurangan manusia adalah suka melihat kesalahan orang lain, ini adalah akar dari kerisauan. Semakin melihat orang lain melakukan kesalahan, hati akan semakin risau dan sedih. Seiring berjalannya waktu, maka akan membenci diri sendiri dan menyakiti diri sendiri. Jangan terlalu memperhitungkan kesalahan orang lain, dan terhadap keyakinan diri sendiri harus bisa menahan ujian. Dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan orang lain, kita sering kali membiarkan sikap dan perilaku orang lain memengaruhi keyakinan kita terhadap kehidupan, suasana hati, dan cara kita bertindak. Ketika tindakan orang lain membuat kamu berubah, itu seperti sedang mengemudi sembari berbicara atau menelepon, mungkin bisa lupa berbelok dan akhirnya kehilangan arah menuju tujuan. Praktisi Buddhis harus berkonsentrasi dalam menekuni ajaran Buddha Dharma, kurangi membicarakan kekurangan orang lain dan lebih banyak membicarakan kelebihan diri sendiri, ini adalah mentalitas yang baik, adalah energi yang positif. Jika kamu lebih banyak membicarakan hal-hal yang baik, hatimu  akan semakin baik. Jika kamu melihat kekurangan orang lain setiap hari, hatimu pasti akan memiliki kekurangan. Jika kamu membuat hatimu semakin murni, kamu akan memiliki mentalitas yang lebih baik.

 

Seorang anak yatim sedang mengemis di jalan dan melihat seorang kaya lewat. Anak itu berkata, “Tuan, mohon kasihanilah saya dan berilah saya sepuluh yuan.” Orang kaya itu sangat welas asih dan bertanya, “Nak, di mana orang tuamu?” Anak itu berkata, “Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melihat mereka.” Orang kaya itu bertanya, “Lalu di mana kamu tinggal?” Anak itu berkata, “Saya tinggal di gudang kosong di sebuah pabrik.” Orang kaya itu berkata, “Nak, kamu ikuti saya.” Anak itu berkata, “Saya hanya ingin sepuluh yuan. Mohon kasihanilah saya dan berilah saya sepuluh yuan.” Orang kaya itu berkata, “Yang saya berikan kepadamu tidak hanya sepuluh yuan. Ikutilah saya!” Orang kaya itu sambil berjalan sambil berpikir, “Ketika saya membawanya pulang, saya akan meminta para pelayan untuk memandikannya dengan baik, memotong rambutnya, dan mentraktirnya makan malam. Biarkan dia bermain dengan anak-anak saya, beri dia tempat untuk tidur, dan biarkan dia menyatu dengan keluarga besar saya… “Saat dia berjalan dan berpikir, segera akan sampai di rumah. Ketika dia menoleh ke belakang, anak laki-laki kecil itu sudah hilang. Apa arti kisah ini? Orang-orang sekarang tidak menerima welas asih dari orang lain, hanya ingin mendapatkan sedikit keuntungan langsung untuk dirinya sendiri. Selama bisa mendapatkan keuntungan di depan mata, tidak peduli seberapa besar keuntungannya, itu tidak masalah, karena dia tidak dapat melihat masa depan. Bill Gates berkata, “Saya selalu melihat dunia dengan teleskop,” jadi dia melihat sangat jauh. Jika seorang praktisi Buddhis hanya memohon untuk dirinya sendiri dan tidak tahu untuk memberi, begitu permohonan untuk kepentingan pribadinya kepada Buddha tidak terkabulkan, ia akan segera berhenti belajar  Buddha Dharma, seperti anak ini. Menekuni Buddha Dharma saat ini adalah benih sebab, dan ketika berkah datang barulah buah akibatnya.

 

Hati manusia akan berubah ditengah-tengah keserakahan. Seorang yang sangat baik, karena keserakahan akan uang, ketenaran, dan kekayaan, hatinya akan perlahan berubah. Keserakahan akan berangsur-angsur berubah menjadi keserakahan yang tak terpuaskan. Pada saat dia tiba-tiba menyadari kebenaran, perubahan sifat manusia telah selesai. Benih yang ditanam telah mulai berakar dan bertunas, sudah terlambat untuk menyesal, ini adalah menciptakan sebab dan memperoleh akibat. Kartu kredit adalah sejenis produk konsumen yang diciptakan berdasarkan pemahaman para psikolog tentang sifat keserakahan manusia, karena ketika yang digunakan bukan uang tunai, orang cenderung menggunakannya tanpa berpikir panjang. Keserakahan manusia membuat mereka merasa seolah-olah tidak benar-benar mengeluarkan uang saat tidak melihat uang fisik. Konsep menghabiskan seribu yuan secara tunai berbeda dengan menghabiskan seribu yuan dengan kartu kredit. Orang tidak boleh serakah, ada tiga harta dalam hidup: Pertama, harus belajar mengalah. Mengalah adalah semacam transformasi dalam hidup. Jika dalam hubungan suami istri keduanya tidak mau saling mengalah, maka rumah tangga itu tidak lagi menjadi rumah yang harmonis. Setelah belajar mengalah, maka akan memperoleh pembebasan. Menolak untuk mengalah berarti menolak harapan. Kedua, kesabaran. Kesabaran dapat melindungi diri sendiri. Jika seseorang merasa telah melakukan kesalahan, ia harus bersabar, kesabaran adalah dasar dari kebijaksanaan dan membawa keberkahan. Banyak orang yang bersabar hingga hari ini barulah memiliki keluarga. Banyak orang tidak bisa bersabar, maka akan kehilangan keluarga. Banyak orang orang yang tidak dapat menoleransi kesalahan anaknya, maka akan kehilangan anaknya. Banyak orang yang tidak dapat bersikap toleran dalam perusahaan, maka akan kehilangan jabatannya, inilah kesabaran. Mampu bersabar terhadap hal-hal yang paling sulit dalam hidup, itulah yang akan membuatmu sanggup meraih apa yang tak bisa diraih oleh kebanyakan orang. Dalam hidup yang tak terkalahkan, orang yang bersabar adalah yang tak tertandingi. Ketiga, Kebulatan, mengerti bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah kosong, segala sesuatu di dunia ini adalah palsu, tidak dapat diperoleh, mendapatkannya hari ini, tetapi akan hilang di esok hari. Berapa banyak orang yang menikah dengan penuh sukacita, namun akhirnya bercerai dengan penuh kesedihan? Apa yang dimiliki hari ini tidak berarti akan memilikinya selamanya. Sebagai manusia harus selalu berintegritas, ada perolehan, maka akan ada kehilangan. Hiduplah dengan kelapangan hati terhadap dunia, menoleransi kesalahan orang lain, baik itu perbuatan maupun ucapan. Coba renungkan, ban mobil bisa berputar cepat di jalan karena bentuknya bulat. Tidak peduli mobil jenis apa pun, ban yang bisa berjalan hanya yang berbentuk bulat. Demikian pula dalam kehidupan manusia, hanya dengan kelapangan dan kebulatan hati segalanya bisa maju dan berkembang.

 

Suatu kali dalam pelajaran ekonomi, guru bertanya, “Murid-murid, apa perbedaan antara ‘tou zhi – investasi’ dan ‘tou ji – spekulasi’?” Seorang murid mengira dirinya sangat mengerti, berdiri dengan tenang dan menjawab: “Yang satu bahasa Mandarin dan yang satu lagi bahasa Kanton.” Karena orang Kanton mengucapkan “tou zhi — investasi” sebagai “tou ji.” Setiap orang di dunia memiliki pemahaman yang berbeda terhadap suatu hal, yang akan menghasilkan efek yang berbeda dalam kehidupan. Menjalani hidup dengan riang gembira, juga merupakan satu kehidupan; menjalani hidup dengan sedih dan pilu, juga merupakan satu kehidupan. Jika memandang hidup dengan sikap optimis, maka hidup akan penuh harapan, karena adanya masa depan, maka penderitaan hari ini tidak berarti akan berlanjut di esok hari. Jika memandang hidup dengan hati pesimis, maka kehidupan terasa penuh kesuraman dan kekecewaan. Kehidupan yang nyata inilah hidupmu yang sebenarnya. Hati seorang praktisi Buddhis penuh dengan harapan, membuatmu memperoleh kedamaian dan kebahagiaan abadi.

 

Ada empat akar bencana besar di dunia: yang pertama adalah alkohol, yang merupakan racun yang menembus usus. Minum alkohol yang berlebihan akan merusak liver. Alkohol adalah racun penyakit liver. Yang kedua adalah nafsu birahi, yang merupakan pisau baja yang mengikis tulang. Jika seseorang terjerumus dalam hawa nafsu, bagaikan sedang disayat oleh pisau yang menggerogoti tulangnya sendiri. Ketika asmara seseorang mengalami kegagalan, rasa sakitnya seperti hati yang dicabut keluar, sangat menyiksa. Yang ketiga adalah amarah. Kemarahan seperti harimau buas yang turun dari gunung, bisa mati karen marah. Baru-baru ini di Shenyang, seorang lelaki tua bertengkar dengan seorang pemuda demi memperebutkan tempat duduk di bus. Lelaki tua itu sangat marah sehingga dia menampar pemuda itu empat kali. Pemuda itu tidak melawan dan pergi sambil tersenyum. Lelaki tua itu meninggal di bus dalam keadaan marah besar, mati karena kemarahan. Mengapa seseorang harus membiarkan dirinya dikuasai oleh kemarahan yang dipicu oleh orang lain? Yang keempat adalah uang, adalah akar dari bencana. Betapa banyak peristiwa terjadi, betapa banyak orang celaka, bukankah semuanya karena uang? Di zaman sekarang, orang-orang melakukan perbuatan jahat, bukannya menjalani hidup sebagai manusia sejati, melainkan melakukan perbuatan licik dan menyimpang setiap hari. Terdapat 4 “setan” dalam diri pria:  Pagi-pagi sudah marah “setan kecil hati”; Pulang jam 9 malam  “setan mabuk”; Pulang jam 12 pagi  “setan nafsu”; Pulang jam 4 pagi “setan judi”.

 

Praktisi Buddhis harus memiliki pembinaan diri. Ada satu kisah nyata, sebuah bus melaju di jalan, penumpangnya tidak banyak. Seorang pria duduk di kursi paling belakang dan tertidur. Tiba-tiba sopir menginjak rem, dan orang itu langsung terpental ke depan. Orang-orang di sekitarnya tercengang, mengira akan terjadi pertengkaran atau perkelahian. Tak disangka, pria itu adalah seorang praktisi Buddhis, dia berdiri dan berkata sambil tersenyum: “Pak sopir, ada apa memanggil saya?” Bukankah seseorang harus memiliki mentalitas yang baik, harus memahami orang lain? Bukankah harus merasa  bahwa hidup ini bukan diperoleh dari ramalan? Terkadang, kata-kata bijak dapat menguraikan kerisauan, dan pola pikir yang damai dapat menyelesaikan masalah. Pikiran praktisi Buddhis harus melepaskan dan melihat melampaui segalanya, maka tidak akan menyakiti diri sendiri. Apa yang akan terjadi jika mereka berdebat dalam waktu yang lama? Mungkin akan sama seperti orang tua di Shenyang. Pikirkanlah, bertengkar dan berkelahi dengan orang yang paling dicintai di rumah setiap hari, marah dengan anak sendiri, apakah layak? Mulai hari ini, menekuni Dharma harus mengubah hidup dengan baik, menghargai segala yang ada di sekitar kita. Ketika kamu masih memiliki, maka harus bersyukur. Jangan menunggu sampai sudah kehilangannya barulah berpikir, “Betapa bodohnya saya. Mengapa saya tidak bisa menahan saat itu?” Belajar Buddha Dharma berarti belajar menabur sebab, dan sebab ini selamanya tidak boleh dilupakan. Bodhisattva takut akan sebab dan makhluk hidup takut akan akibatnya. Manusia seringkali baru sadar setelah musibah terjadi dan terpikir , “Betapa sedihnya saya. Apa yang harus saya lakukan?” Sedangkan Bodhisattva sudah tahu terlebih dahulu apa hasil dari setiap perbuatan sebelum bertindak. Inilah sebabnya mengapa makhluk hidup takut akan akibat dan Bodhisattva takut akan sebab. Berharap semua orang menekuni Dharma dengan baik, membina pikiran dengan baik, dan membina diri dengan baik, sehingga kita dapat menjalani kehidupan yang penuh kesempurnaan dan kebahagiaan.