Jika memiliki kehidupan hubungan suami istri, apakah boleh berikrar pembinaan yang suci dan tidak melakukan perbuatan asusila 有夫妻生活是否可许愿不邪淫

Master Lu Menjawab Surat Keraguan (354) 28-12-2019

Jika memiliki kehidupan hubungan suami istri, apakah boleh berikrar pembinaan yang suci dan tidak melakukan perbuatan asusila

Tanya: Sebelumnya saya mengira bahwa hubungan suami istri yang normal tidak termasuk perbuatan asusila, sehingga saya berikrar untuk tidak berbuat asusila. Setelah mendengar wejangan Master dalam sesi tanya jawab tanggal 15 Desember, bahwa orang yang masih menjalani hubungan suami istri sebaiknya tidak berikrar menjalankan Lima Sila. Jika tidak, setiap kali melakukan hubungan suami istri, alam akhirat akan mencatatnya satu kali, dan hal ini juga dapat berdampak buruk kepada suami. Suami saya saat ini belum membina diri, sehingga hubungan suami istri sulit untuk dihindari. Setelah mendengar hal tersebut, saya merasa sangat takut dan cemas. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Jawab: Tidak apa-apa. Master juga pernah menjelaskan bahwa jika tingkat kesadaran spiritual seseorang belum tinggi, maka hubungan suami istri juga dianggap sebagai hal yang normal. Jadi, tidak perlu terlalu takut atau cemas. Namun, jika seseorang adalah praktisi yang menjalankan pembinaan yang suci dan sudah berikrar untuk membina diri dengan suci, maka ia tidak boleh lagi melakukan hubungan suami istri apa pun. Jika seseorang berikrar menjalankan Lima Sila dan tidak melakukan perbuatan asusila, tetapi standarnya lebih rendah, yaitu selama tidak pergi mencari hubungan dengan orang lain di luar, maka hubungan suami istri yang normal masih dianggap sebagai hubungan yang benar. Namun, jika standarnya lebih tinggi, berdasarkan ajaran Buddha Dharma, selain untuk memiliki anak, hubungan suami istri lainnya dianggap sebagai perbuatan asusila, karena itu adalah mentalitas yang berbeda, dan bukan merupakan hal yang baik. Ini tergantung tinggi rendahnya tingkat kesadaran spiritual diri. Jika melakukan hubungan suami istri, selama tidak melakukan perbuatan buruk, maka pada kehidupan berikutnya masih memungkinkan untuk terlahir sebagai manusia. Namun, ia tidak dapat terbebas dari Enam Alam, karena tingkat kesadaran spiritualnya belum cukup tinggi. Jika kamu adalah seorang Bodhisattva atau seorang biksu, atau seorang praktisi Buddhis yang tingkat kesadaran spiritualnya sudah sangat tinggi, maka kamu tidak boleh melakukan hal tersebut. Jika seseorang sudah berikrar untuk membina diri dengan suci, maka meskipun dengan pasangan suami atau istrinya sendiri, juga tidak boleh. Jika tetap melakukannya, maka termasuk perbuatan asusila.

 

卢台长开示解答来信疑惑(三百五十四)2019-12-28

有夫妻生活是否可许愿不邪淫

问:以前我以为正常的夫妻生活不属于邪淫,我就许愿不邪淫。听师父12月15日问答开示,有夫妻生活的不要许五戒,不然,有一次地府会给记录一次,而且会害了先生。我先生目前没有修,避免不了夫妻生活。我听后很惶恐,现在该怎么办?

卢台长答: 没有关系,师父也讲过,如果境界不高,夫妻之间也算正常,不用太惶恐;但如果是一个清修的人,已经许愿清修了,就不能再做任何夫妻之事了。许愿守五戒、不邪淫,如果要求低一点,只要不去外面乱找,正常的夫妻之间,也算正的;如果要求高一点的话,按照佛法界讲起来,除了生孩子以外的都算邪淫,因为是另外的心态,都不是很好的事情。要看自身境界高低。如果做夫妻事,只要不做坏事,下辈子投人没问题,但超脱不了六道,因为你境界不高;如果你是一个菩萨或者法师、境界很高的学佛人,就不能这样做。如果许愿清修了,哪怕是夫妻也不可以,否则就是邪淫。