Ikrar Harus disesuaikan dengan kemampuan; Ikrar yang terlalu besar sama dengan berbohong 许愿要量力而为,许愿过大就是打妄语

 

 

Wenda20130616B 01:00:36

Ikrar Harus disesuaikan dengan kemampuan; Ikrar yang terlalu besar sama dengan berbohong

Pendengar wanita: Ada seorang rekan se-Dharma yang dalam kehidupan sebelumnya, ketika menjalankan pembinaan diri, ia pernah membuat ikrar yang terlalu besar. Akibatnya, dalam kehidupan sekarang ia mengalami banyak masalah. Jadi, ketika kita berikrar, bagaimana seharusnya kita menyesuaikan dengan kemampuan diri sendiri? Apa akibatnya jika kekuatan ikrar terlalu besar?Misalnya, jika kita menekuni ajaran Xin Ling Fa Men dan berikrar untuk membimbing orang lain. Jika kita berikrar dengan jumlah yang sangat besar, tetapi kemampuan kita saat ini mungkin belum mampu membimbing sebanyak itu. Namun, jika kita berusaha tekun membina diri, meningkatkan energi dan kemampuan, lalu sebisa mungkin membimbing orang lain hingga akhirnya dapat mencapai target tersebut, apakah hal seperti ini tidak menjadi masalah?

Master menjawab: Ini benar-benar bermasalah. Jika ikrar yang kamu ucapkan tidak sebanding dengan kemampuanmu untuk melaksanakannya, maka itu adalah berbohong. Sesuatu yang sebenarnya tidak mampu kamu lakukan, tetapi kamu menganggapnya sebagai ikrar, itu disebut berbohong. Karena ketika seseorang melakukan sesuatu yang memang mampu ia lakukan, berarti ia benar-benar membantu makhluk hidup. Tetapi ketika kamu sebenarnya belum mampu menyelamatkan atau membimbing makhluk hidup, namun mengatakan, “Saya mampu menyelamatkan dan membimbing makhluk hidup,” sebenarnya kamu sedang berbohong. Maka itu, Bodhisattva tidak berbohong. Orang yang berbohong akan menerima akibat buruk. Itulah sebabnya banyak orang yang meskipun belajar Buddha Dharma dengan sangat tekun, mengapa akibat buruk tetap terus-menerus datang? Karena ia telah membuat banyak ikrar yang sebenarnya tidak seharusnya dibuat. Ia melakukan banyak hal yang sebenarnya belum mampu ia lakukan, tetapi memaksakan diri untuk melakukannya. Semua ini tidak sesuai dengan  aturan dan ajaran Dharma. Setidaknya, kamu harus memiliki kemampuan untuk melakukannya terlebih dahulu, baru membuat ikrar tersebut. Misalnya, kalau Kṣitigarbha Bodhisattva bukan seorang Bodhisattva, Beliau juga tidak akan berikrar, “Selama neraka belum kosong, saya bersumpah tidak akan menjadi Buddha. Lihatlah banyak orang di dunia ini. Mereka bahkan belum mencapai tingkat Bodhisattva dalam kehidupan sekarang, tetapi sudah mulai membuat ikrar yang sangat besar: “Dalam banyak kehidupan mendatang, saya akan kembali ke dunia untuk memenuhi ikrar saya.” “Saya akan pergi ke neraka untuk menyelamatkan sekian banyak orang.”Sekarang saja dia belum mampu mencapai tingkat Bodhisattva dalam kehidupan ini. Coba pikirkan, bagaimana mungkin dia bisa mencapainya di kehidupan berikutnya? Lagi pula, jika karma buruknya sendiri masih sangat berat, pada akhirnya karma akibat berbohong karena ikrar yang terlalu besar justru akan semakin berat (Lalu, apakah ada cara untuk memperbaikinya?) Sangat sederhana. Jika sudah terlanjur membuat ikrar besar, harus bertobat kepada Bodhisattva. Sampaikan kepada Bodhisattva:“Saya akan berusaha melakukannya dengan sepenuh kemampuan saya.” Karena itu, ketika membuat ikrar, jangan mengatakan, “Saya pasti bisa melakukannya,” atau “Saya pasti akan melakukan ini dan itu,” jika sebenarnya kemampuan kita belum mencukupi. Ini juga termasuk berbohong. Bodhisattva tidak berbohong, termasuk dalam hal seperti ini. Kalau kamu tidak mampu menyelamatkan makhluk hidup, tetapi mengatakan, “Saya pasti akan menyelamatkan makhluk hidup,” bukankah itu juga merupakan berbohong? Coba pikirkan. Jika kamu bahkan tidak mampu menyelamatkan hantu, maka hantu akan terus mengawasi dan mengikuti kamu, bukankah kamu bisa terseret oleh dia? Jadi, segala sesuatu harus dilakukan sesuai dengan kemampuan. Seberapa besar kapal Dharma yang dimiliki seseorang, sebanyak itulah orang yang mampu ia selamatkan. Jika kamu hanya memiliki sebuah perahu kecil yang hanya mampu menampung sepuluh orang, tetapi kamu memaksakan diri membawa seratus orang untuk diselamatkan, bukan hanya kapalnya yang akan terbalik, tetapi kamu sendiri juga akan jatuh ke sungai dan tenggelam.

 

wenda20130616B  01:00:36  

许愿要量力而为,许愿过大就是打妄语

女听众:有一位师兄在过去修行当中上辈子许的愿许得过大,导致这辈子有了很多麻烦。那我们在许愿的时候应该如何根据自己的能力来许愿呢?愿力过大会有什么样的后果呢?如果我们修行心灵法门去许愿度人,如果许下的数量很大,但是自己目前的能力可能做不到度这么多人,但是如果自己努力修行增加能量然后尽量地度人,也有可能完成这个目标,这样没有问题吧?

台长答:这个完全有问题,如果你许的愿和你做不到的事情成一个正比,那就是打妄语,你做不到的事情你以为是许愿,那你就叫妄语。因为当一个人能够做到的事情他去做,就是实实在在地帮助众生;当你不能救度众生的时候,你说我能救度众生,实际上你就在打妄语。所以菩萨不打妄语,打妄语的人会得到恶报的。所以很多人虽然是学佛学得很精进,为什么恶报连连呢?因为他许了很多不该许的愿,他做了很多自己做不到而拼命想去做的事情,这一些都是不如理不如法的。至少你有这个能力做,那么你才能许这个愿。比方说地藏王菩萨他要不是菩萨的话,他连这个“地狱不空,誓不成佛”他都不会许这个愿。你看看我们很多的人在人间还没有成为菩萨了,他已经开始许大愿了:“我以后累世要到人间乘愿再来,我要到地狱里面去救多少人。”他现在这辈子菩萨都成不了,你说说看他下辈子怎么能成呢?而且他自己的孽障这么重,最后就是个妄语业报加重(那么这种有什么办法去弥补呢?)很简单,已经许了大愿的话要跟菩萨忏悔,跟菩萨说:“我尽自己的力量。”所以在许愿的时候不能说我一定能做,我怎么样怎么样,这就叫妄语,菩萨不打妄语包括这些的。你救不了众生,你说我一定要救众生,难道这不是妄语吗?你想想看你救不了鬼,那鬼天天盯着你,你不被他拖下去吗?所以要量力而行,一个人要有多大的法船才能救多少的人,你是一个小舢板,只能坐十个人,你救上一百个人,不但船翻了,连你自己也会掉到河里去淹死。