Pikiran Tanpa Kekacauan adalah Bentuk Pemusatan Pikiran Sifat Dasar
Pertama-tama Master akan membahas tentang “zhu xin guan jing – menjaga kejernihan pikiran”hari ini. “Zhu xin guan jing – menjaga kejernihan pikiran”, berarti menjaga pikiran sendiri, melihat apakah diri sendiri bersih atau tidak. Karena pikiran-hati kita bisa menjadi tidak bersih. Bagaimana bisa menjadi tidak bersih? Karena dia sering ternodai oleh enam kekotoran duniawi, oleh karena itu harus sering dilihat, ini yang disebut “guan” – mengamati. Jika dirimu sendiri melihat ada sesuatu yang tidak baik pada dirimu, maka harus segera dihilangkan, ini disebut sebagai “guan jing – mengamati kejernihan”. “Guan jing – mengamati kejernihan”, berarti membuatnya menjadi bersih, harus “dibersihkan” sejenak.
Pikiran tanpa kekacauan adalah bentuk pemusatan pikiran dari sifat dasar. Pikiran yang tidak pernah kacau, maka orang ini akan menjadi sangat tenang dan stabil. Kamu bertanya kepadanya: “Bagaimana cara mengerjakan hal ini?” Dia segera “Oh, yang ini begini …” Dia selamanya selalu tenang, dia tidak akan panik. “Aduh, pikiran saya kacau-balau”, ada murid yang pikirannya sepanjang hari selalu kacau, “Aduh, dia sepanjang hari selalu begini, aduh, saya harus bagaimana ya?” Kamu panik, berarti kamu tidak memiliki konsentrasi pikiran; jika kamu tidak memiliki konsentrasi pikiran, berarti kamu tidak memiliki kebijaksanaan; tidak ada kebijaksanaan akan membuatmu menjadi bodoh, jika kamu bodoh, maka kamu akan dipandang rendah oleh orang lain. Pikiran harus bisa tenang, langit tidak akan runtuh.
Dalam menekuni ajaran Buddha Dharma, kita harus membaginya menjadi 3 tahap:
Pertama, “li ren – membangun orang”. Yakni kamu harus bisa bersikap dan berperilaku sebagai orang yang benar dan bertanggungjawab – seseorang yang mampu berdiri tegak di atas bumi menopang langit. Dalam menekuni Dharma, kita harus bisa bertanggung jawab kepada langit dan bumi, jadi orang harus layaknya seorang manusia, ini yang disebut sebagai “li ren”. Dasar dari menekuni ajaran Buddha Dharma adalah “li ren”. Jika kamu bisa membangun karakter orang yang baik dan benar, jangan hidup di Alam Manusia namun perilaku dan sikapnya seperti binatang atau setan. Oleh karena itu, Master tidak suka melihat murid-murid berbicara berbisik-bisik. Yang dikatakan dengan berbisik adalah kata-kata yang tidak bisa diperdengarkan orang lain. Memang apa yang perlu dibisikkan? Berbisik-bisik di hadapan orang lain berarti tidak menghormati orang lain. Orang lain melihatmu berbisik-bisik di hadapannya akan mengira kamu sedang membicarakan dia, berarti kamu adalah orang yang tidak sopan, orang yang tidak beretika. Jika orang lain berkata: “Aduh, Master Lu, Bodhisattva sudah datang.” Kemudian Master berbisik-bisik bicara dengannya, kalau dilihat orang lain akan menjadi seperti apa? Dalam menekuni Dharma, bisa menjadi orang yang baik baru bisa menjadi Buddha, maka pertama-tama harus bisa bersikap dan berperilaku baik layaknya seorang manusia.
Kemudian, langkah kedua adalah harus menjadi orang yang baik hati. Orang yang baik hati adalah orang yang bersedia membantu orang lain. Mau membantu orang lain baru disebut sebagai baik hati, orang yang baik hati baru akan membantu orang lain, orang yang baik hati baru mau menolong kesadaran spiritual semua makhluk. Sesungguhnya, dua poin yang baru saja saya bahas tadi sudah cukup. Yang pertama adalah menekuni ajaran Buddha Dharma Mahayana, kalau dikatakan dalam {Bai Hua Fo Fa} adalah menjadi orang yang baik hati (orang yang membantu orang lain baru bisa menjadi orang yang baik hati); orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pernah mau membantu orang lain, maka tidak memiliki kebaikan hati, dia hanya menjadi dirinya sendiri. Tentu saja, banyak orang yang bahkan tidak bisa bersikap dan berperilaku dengan baik layaknya manusia, maka dia tidak bisa menjadi orang yang benar, maka orang yang tidak bisa membangun karakter yang baik tidak akan bisa menjadi orang yang baik hati.
Langkah ketiga, menggunakan “sila-konsentrasi-kebijaksanaan” untuk mengendalikan “ketamakan-kebencian-kebodohan” diri sendiri. Sila – berpantang bisa menangkal ketamakan, jika memiliki pikiran yang tamak harus menaati sila. Misalnya, barang ini tidak seharusnya saya ambil, maka saya tidak mengambilnya, saya sudah menaati sila, saya sudah menghilangkan ketamakan. “Wah, barang ini bagus sekali, orang-orang semua mengambilnya.” “Saya harus taat pada sila, saya tidak boleh tamak.” Ketamakan-kebencian-kebodohan”ini sesungguhnya dihilangkan menggunakan “sila – konsentrasi -kebijaksanaan”. “Konsentrasi” bisa menghilangkan “kebencian”. Apabila kamu memiliki konsentrasi pikiran, maka kamu tidak akan membenci orang lain, kamu bisa menenangkan diri sendiri. Kamu merasa saya tidak ada perlunya membenci dia, kamu merasa saya tidak ada perlunya marah-marah padanya, saya tidak perlu …. Kebijaksanaan bisa menghilangkan kebodohan. Ketika seseorang memiliki kebijaksanaan, maka kebodohannya akan hilang. Karena dia sudah mengerti, maka dia tidak akan berpikir sembarangan. Kebodohan adalah berpikir sembarangan. Misalnya, Tante Zhou berpikir: “Aih, alangkah baiknya kalau saya bisa hidup sampai usia 120 tahun ke atas.” Ini yang disebut sebagai kebodohan. “Saya tidak mau hidup sampai usia 120 tahun, saya ingin menyesuaikan jodoh, cepat lambat saya akan pergi ke Surga, saya harus bisa melepas.” Ini baru yang disebut sebagai kebijaksanaan yang sesungguhnya. Semua orang yang memiliki kebijaksanaan bisa menangkal kebodohan. Kebodohan adalah batu sandungan yang menghalangi kamu untuk melangkah maju, jika menggunakan istilah masa kini, adalah memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan, melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan, ini namanya khayalan belaka. Mengapa bisa memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan? Misalnya besok pagi akan ada lotere sebesar 30 juta, tahukah kalian, ada berapa banyak orang yang malam hari tidak tidur khusus pergi membeli lotere? Benar-benar bodoh sekali. Apakah mereka memiliki kebijaksanaan? Sedangkan orang yang memiliki kebijaksanaan akan berpikir: “Kemungkinan untuk memenangkan lotere ini terlalu kecil. Uang untuk membeli lotere lebih baik saya gunakan untuk membeli koran, bisa dibaca, hati juga akan merasa lebih puas, atau untuk beli sarapan, masih bisa makan dengan senang. Setidaknya uang ini bisa saya gunakan untuk sesuatu yang lebih nyata.” Membeli lotere benar-benar sama dengan kosong, hanya orang yang tidak memiliki kebijaksanaan baru akan melakukan hal ini, maka mereka disebut sebagai “para petualang”. Jika petualangan kamu berhasil, maka kamu berhasil; namun jika petualangan kamu gagal, maka tamatlah kamu.
Apakah karma itu? Master beri tahu kalian. Dalam berperilaku, kalian harus mawas diri, tidak boleh melakukan kesalahan, tidak boleh salah melakukan hal apapun, kalau tidak akan ada balasan buruknya. Karena saat kamu menanam satu bibit karma, maka pasti akan ada balasan karmanya, ini yang disebut sebagai karma – sebab akibat. Apakah yang disebut sebagai perputaran kembali? Bila dikatakan dengan bahasa yang lebih sederhana, yakni dalam melakukan segala hal, semuanya merupakan pelajaran bagi kita. Ini adalah perkataan Master, logikanya sangat sederhana. Misalnya, banyak orang melakukan kesalahan dan tidak mau menerima pelajaran, di kali berikutnya ia kembali melakukan kesalahan dan menimbulkan masalah, saat itu dia kembali menerima pelajaran, ini yang disebut sebagai “perputaran kembali”. Misalnya, menikah dengan seorang pria jahat, sudah salah menikah, lalu menikah lagi, kembali salah lagi, dan menikah lagi … bukankah ini namanya perputaran kembali? Ini adalah balasan karma. Kita melakukan kesalahan dan mendatangkan pelajaran bagi diri sendiri, bukankah ini adalah perputaran kembali dirimu?
Menekuni Dharma harus bisa tersadarkan total. Harus bisa memahami secara menyeluruh, harus sampai total. Apakah maksud dari “terbuka kesadarannya”? Yaitu baru saja mulai sedikit demi sedikit tersadarkan. Apakah yang disebut sebagai kesadaran total? Berarti saya sudah sepenuhnya mengerti maka saya baru mau mengubah diri sendiri secara total. Oleh karena itu, orang yang sudah tersadarkan secara total bisa melepaskan apapun, sedangkan seseorang yang potensi kesadarannya masih belum memadai, masih belum bisa melepaskan apapun. Misalnya hari ini dia merasa, “Aduh, masalah ini tidak seharusnya begini, tetapi … namun … mungkin …”, dia kembali “menangkap” masalah itu, dia kembali tidak bisa melepaskannya. Seperti kita hidup di dunia ini, masalah yang kamu anggap penting, sesungguhnya menurut saya tidak penting. Bagaikan orang yang sudah tersadarkan secara total, maka dia pun mampu melepaskan segala hal yang ada di dunia ini.
Kalau begitu, bagaimana cara melepaskannya? Saya beri satu contoh sederhana kepada kalian, apa yang disebut dengan melepas. Ada orang yang datang tergesa-gesa dan berkata: “Gawat, gawat, ada masalah.” Karena dia yang bermasalah, sedangkan dirimu sendiri tidak merasakan apapun, baginya ini sangat penting, tetapi bagi kamu ini tidak ada pentingnya. Jika pada saat itu, kamu tidak memiliki perasaan seperti ini, berarti kamu mampu melepas. Saya akan menguraikan masalah ini dari sudut pandang yang berbeda, tujuannya bukan meminta kalian untuk jangan memperhatikan orang lain, melainkan untuk menunjukkan apa yang disebut sebagai kesadaran total. Di kuil, orang-orang yang benar-benar sudah bisa melepas, jika kamu menghampirinya: “Guru, keluarga kami tertimpa masalah besar.” “Lepaskanlah segala jodoh, terbukalah sedikit kesadaran, A Mi Tuo Fo.” Karena itu bukan masalahnya, maka tentu saja dia bisa melepas. Akan tetapi dia bisa melepas, makanya dia bisa menjadi Buddha, karena dia tahu bahwa segala hal di dunia ini adalah palsu, sedangkan kalian berpendapat kalau semua itu adalah nyata, makanya kalian baru menyebutnya sebagai “masalah besar”. Akan tetapi masalah sebesar apapun baginya bagai tidak ada masalah, dengan begini baru bisa melepaskan. Tentu saja, dari sudut pandang yang lain, bagaimana cara membantu orang lain adalah satu kaidah yang berbeda. Saya sekarang hanya membantu kalian, supaya kalian mengerti bagaimana bisa melepaskan segala jodoh terlebih dahulu.
Jika kita merasa hal ini tidak penting, maka sesungguhnya sudah tidak ada masalah apa-apa lagi. Coba kalian pikirkan, jika kita melakukan kesalahan pada suatu hal, kita merasa panik sekali, membuat tubuh kita jadi sakit, bukankah itu karena kita merasa hal ini sangat penting sekali? Sesungguhnya Master mengajarkan kalian untuk memahami makna dari “melepas”, dengan kata lain kalian jangan memikul “beban” ini di tubuh kalian. Bukankah saya pernah menceritakan sebuah kisah pada kalian? Ada seorang biksu tua yang mau menyebrangi sungai, akan tetapi biksu tua sudah tidak kuat berjalan, sedangkan biksu kecil masih terlalu kecil, pada akhirnya ada seorang ibu paruh baya yang memikul biksu tua ini menyebrangi sungai. Biksu tua berkata pada wanita itu: “Terima kasih, Amitabha.” Kemudian melanjutkan perjalanan menaiki gunung. Sedangkan si biksu kecil malah terus memikirkan hal ini, tidak lama kemudian dia menghampiri si biksu tua dan berkata: “Guru, sewaktu dia memikul kamu di punggung, apakah kamu merasa senang? Ada perasaan apa?” Biksu tua berkata: “Dia (ibu itu) sudah melepaskan saya, sedangkan saya juga sudah melepaskannya, namun kamu malah ‘memikulnya’.” Dengan kata lain, kamu memikul “beban” ini yakni si wanita ini ke dalam pikiranmu. Hal yang tidak ada, semuanya adalah pemikiranmu sendiri, sebaliknya kamu malah menjadikan hal ini sebagai beban yang berat dan memikulnya di hatimu (di dalam pikiranmu). Orang lain tidak memiliki pemikiran seperti ini, kamu sendiri yang memikirkannya, bukankah berarti kamu yang sedang memikul “beban”nya?
Coba kalian pikirkan, Bodhisattva benar-benar adalah seorang ahli filsafat yang Maha Besar, setiap teorinya selalu sangat bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia. Seseorang yang benar-benar bisa menjadi Bodhisattva, berarti dia bisa menjadi orang yang paling baik. Sedangkan “orang yang paling baik” ini adalah sebutan dalam bahasa sehari-hari, namun sesungguhnya, dia adalah Bodhisattva. Jika kamu bisa menjadi orang yang diperlakukan dengan baik oleh jutaan bahkan puluhan juta orang, bukankah kamu adalah Bodhisattva? Apakah kalian bisa begitu? Kalian masih egois dan memikirkan keuntungan diri sendiri. Apakah kalian bisa melupakan diri sendiri? Master beri satu contoh: sekarang Master memiliki batang emas 24 karat, di atasnya tertulis empat kata: “yi qie jie kong” – semuanya adalah kosong. Maka selanjutnya jika saya bertanya, beri ke murid yang mana ya, kalian semua pasti akan berebutan. Apakah kalian semua sudah kosong? Kalian mengira batangan emas bertuliskan “yi qie jie kong” ini adalah sebuah plat. Sebenarnya adalah supaya kalian paham bahwa semuanya adalah kosong, yakni semuanya akan kembali ke kekosongan. Jika kalian menganggap emas batangan ini sebagai suatu barang nyata, lalu masih berebutan “saya mau, saya mau!”, kalau begitu kalian sama sekali tidak memahami makna dari empat kata ini. “Yi qie jie kong” – semuanya adalah kosong, berarti sudah tidak ada apa-apa lagi. Sesungguhnya, jika Master berkata: “Saya berikan ini untuk kalian, siapa yang mau?” Siapapun seharusnya tidak mau. “Karena pada dasarnya semua adalah kosong, saya sama sekali tidak mau, untuk apa saya memilikinya?” Ini baru dinamakan menyadari makna sesungguhnya dari Ajaran Buddha Dharma, ini baru disebut sudah mencapai kesadaran total. Jika kamu masih mengatakan: “Saya sudah berpikiran terbuka terhadap apapun, semuanya adalah kosong. Aduh, saya mau batangan emas ini.” Ini berarti belum mencapai kesadaran total.
Ada beberapa kalimat syair di dalam hati Master yang ingin sampaikan kepada murid-murid sekalian:
Potensi kesadaran sesungguhnya datang secara alami,
Tersesatkan karena berada di Alam Manusia.
Apabila bisa sepenuhnya tersadarkan,
Segalanya dalam sekejap menjadi kosong.
