15. Menyelaraskan Unsur Yin dan Yang, Membina Diri dengan Benar Mengikuti Jalan Kebuddhaan 理顺阴阳,修正佛道

15. Menyelaraskan Unsur Yin dan Yang, Membina Diri dengan Benar Mengikuti Jalan Kebuddhaan

Ingatlah, manusia hidup di dunia ini, harus bisa bertanggung jawab kepada yin, yang, dan kelima unsur yang dimiliki diri sendiri. Dengan kata lain, kamu berjalan dengan bergantung kepadanya, harus berjalan mengikuti energi yin, yang, dan kelima unsur, bukan melawannya, atau berjalan berlawanan arah dengannya, kalau tidak, kamu pasti akan dirugikan. Banyak anak-anak kecil yang setiba di pusat perbelanjaan, melihat ada elevator otomatis yang berjalan naik, namun ada sebagian anak-anak yang malah suka berjalan mundur. Coba pikirkan, mereka harus menggunakan berapa besar kecepatan untuk berlari, baru bisa berlari keluar dari elevator ini? Betapa lelahnya. Oleh karena itu, ketika seseorang berjalan ke atas melawan arus, maka sesungguhnya berarti dia sedang mundur. Seorang praktisi Buddhis, jika yang dipelajarinya tidak benar, maka pasti yang dipelajarinya sudah menyimpang. Demikian juga dengan sebuah Pintu Dharma, jika dia tidak mengikuti ajaran Buddha Dharma Guan Shi Yin Pu Sa, tidak mengikuti Dharma yang benar, jalan yang benar, keyakinan yang benar, waktu yang benar dalam pembinaannya, berarti dia sudah menyimpang. Bukankah Master pernah berkata kepada kalian? Sama seperti sebuah jam, asalkan jam ini tidak tepat, maka dia termasuk barang yang terbuang; jika jam tangan yang kamu pakai setiap hari terlambat dua menit, maka jam kamu ini bukanlah sebuah jam yang benar, melainkan sebuah jam yang melenceng. Dalam menekuni Dharma, kita harus lurus benar. Mengapa ada begitu banyak orang yang belajar mengikuti Master? Karena benar. Kita mengerjakan segalanya sesuai aturan, kita tidak pernah menjelek-jelekkan Pintu Dharma lain, kita dengan nyata membina diri sendiri dan mencapai hasilnya, kita sangat rendah hati, kita luar biasa hati-hati, maka Xin Ling Fa Men baru bisa berkembang sampai sebesar hari ini.

Kalian setiap murid harus berpikir baik-baik, nantinya murid-murid semakin lama semakin banyak, maka kalian lebih harus membunyikan “lonceng peringatan” bagi diri sendiri. Kalian duduk di sini, harus lebih rajin daripada mereka, bukannya hanya sebuah status saja. Hari ini ada teman di internet yang mengatakan: “Dalam hati kami, Master Lu adalah guru kami, kami tidak harus mendapatkan sebuah status, asalkan kami belajar baik-baik, maka kami adalah murid Master Lu.” Perkataan teman dari internet ini diperuntukkan bagi kalian, maka kalian seharusnya merasa malu. Jika mengerjakan sesuatu tidak seperti murid Master, lalu apa gunannya kalian duduk di sini? Apa gunanya kamu menjadi murid Master? Teman se-Dharma ini dari dalam hati mendisiplinkan diri sendiri dengan keras, maka dalam hati, dia sudah menjadi murid Master. Hari ini di internet, ada 4-5 orang yang menulis begitu.

Ingatlah, kita datang ke dunia ini dengan tubuh perpaduan yang palsu. Karena kita sudah datang ke Alam Manusia ini, itu pun juga karena keberadaan nidana – jodoh, karena hari ini kita sudah datang, maka kalau bukan untuk membayar hutang karma, berarti untuk menagih hutang karma. Ada banyak orang di antara kita, kalau kehidupan tidak membaik, berarti hidupnya pun buruk. Jadi orang memang demikian. Setelah datang ke dunia ini, hubungan ayah dengan ibu, hubungan dengan anak, hubungan anak dengan ayah dan ibu, hubungan kakak beradik, dan juga hubungan dengan kakek nenek, berbagai macam hubungan semuanya mengelilingi kamu, membingungkan dirimu, membuat kamu menderita sekali, membuat kamu dilanda kerisauan yang tiada habisnya. Mengapa demikian? Itu karena perbuatanmu di kehidupan sebelumnya, karena di kehidupan sebelumnya kamu telah melakukan begitu banyak hal-hal buruk. Oleh karena itu, kita harus memahami, bagaimanapun, kita harus bisa memahami perkataan “tercipta oleh nidana”. Kita datang ke dunia ini, semuanya karena nidana – sebab akibat. Dengan mengetahui prinsip ini, kita tidak akan perhitungan terhadap segala masalah di dunia ini. Seperti ini punya saya, itu punya kamu. Apa yang disebut dengan “punyamu”? Apa itu “punyaku”? Apakah kamu bisa memiliki seluruh alam semesta ini? Keluarga ini, apakah kamu mampu memilikinya? Pada masa itu, saat kaisar memiliki negara ini, pada akhirnya dia meninggal, sudah menghembuskan nafas terakhir, lalu negara ini pun kembali menjadi milik orang lain. Pada zaman kuno, bahkan negara ini pun bisa dilenyapkan oleh orang lain, bukankah berubah menjadi negara orang lain? Rakyatnya pun bukankah menjadi rakyat orang lain?

Yin dan Yang di alam semesta ini (seperti lambang Yin Yang dan lima unsur dari Tiongkok kuno yang digunakan orang Korea dalam bendera negaranya atau lambang negaranya, di pesawat terbang mereka semuanya terdapat gambar Yin Yang Ba Gua), Yin Yang Ba Gua atau oktagonal trigram yin dan yang ini sesungguhnya tercipta dari dua unsur Yin dan Yang. Kita hidup di dunia ini, semuanya merupakan perwujudan dari dua unsur yin dan yang. Kalau begitu jika sekarang medan magnetik mengalami perubahan, seperti di suatu negara, hanya ada perempuan dan tidak ada laki-laki, coba katakan, bagaimana dengan negara ini? Sebaliknya jika di negara ini, semuanya laki-laki, tidak ada perempuan, lalu bagaimana negara ini akan bertahan? Apabila hanya ada matahari, dan tidak ada bulan, saya rasa kita semua tidak perlu tidur; sebaliknya jika hanya ada bulan, dan tidak ada matahari, maka negara ini akan terus tidur sepanjang hari, karena tidak ada pagi hari, hanya ada malam hari. Oleh karena itu kedua unsur yin dan yang itu sama seperti medan aura yin dan yang dalam tubuh kita, keduanya harus seimbang. Kamu tidak bisa tidak tidur, namun juga tidak bisa tidur kebanyakan, ini namanya menstabilkan yin dan yang, dan hal ini sangat penting. Oleh karena itu, di dalam otak kita juga seharusnya ada yin dan yang.

Selanjutnya Master akan mengatakan satu perkataan yang sangat penting, yakni: ketika terlahir suatu pemikiran, maka dia seharusnya tergolong dalam unsur yin atau unsur yang? Contoh sederhana, jika yang terlahir dalam pemikiranmu adalah “Orang ini sedang memarahi saya”, maka setelah sebab-musabab ini, di dalam pikiranmu akan terlahir sebab-musabab yang lain.  Dengan kata lain, ketika orang lain memberi tahu kamu, “Saya mendengar dia sedang memarahimu”, kemudian di dalam pikiranmu pasti akan terlahir satu pemikiran. Apabila yang kamu dengar adalah satu pemikiran yang berunsur yin, maka di dalam pikiranmu akan terlahir satu pemikiran yang berkutup yang. Contohnya, orang lain memarahimu itu berkutup yin, kemudian terlintas di pikiranmu, “Saya ingin membalasnya, saya ingin memukulnya”, maka terlahirlah pemikiran yang bersifat yang. Kedua unsur yin dan yang harus seimbang, jika unsur “yang”terlalu kuat, maka mungkin kamu akan benar-benar memukul orang itu, dan menyebabkan masalah.

Marah adalah hal yang lumrah, terlahir suatu hawa amarah juga adalah sesuatu yang lumrah, akan tetapi setelah lumrah, kita harus membuatnya melebur dengan kedua unsur yin dan yang, setelah itu kita baru bisa memutuskan tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Contoh, hari ini orang lain memarahimu, terlebih dahulu kamu berpikir: “Mengapa orang ini begini? Sudah jelas saya tidak melakukan hal ini, mengapa dia memarahi saya?” Setelah masalah ini selesai dikatakan, kamu berpikir: “Sudahlah, saya ini orangnya juga tidak perhitungan, dia memarahi saya, tidak melambangkan kalau saya buruk, saya tidak usah bertengkar dengannya.” Inilah hasil yang tercipta setelah energi yin dan yang diseimbangkan, maka masalah ini bisa dipadamkan. Jika kamu berikir: “Dia berani memarahi saya? Bagus ya, atas dasar apa dia menjahati saya? Saya akan menuntutnya, kita bertemu di pengadilan.” Maka selanjutnya, unsur “yang” kamu lebih besar daripada unsur “yin”. Kemudian, kamu harus mengeluarkan uang mencari pengacara, maka kamu sudah tertimpa kesialan. Masalah yang sama, jika orang lain menjahatimu, memarahimu, ini bersifat yin. Karena kamu tidak langsung dimarahinya di tempat, hanya mendengar kabar saja, selanjutnya, respon yang kamu dapatkan harus mengambil sebuah titik tengah untuk menghilangkan halangan karma buruk ini. Memarahi orang lain juga merupakan suatu kesalahan, karena segala benda memiliki suatu masa waktu, dengan kata lain ada masa berlakunya. Hari ini dia memarahimu, beberapa hari kemudian, masalah ini sudah tidak ada lagi, selesai marah juga sudah tidak masalah lagi. Kalau kamu kembali memarahinya, itu sama dengan kamu kembali lagi memunculkan ketidakseimbangan yin dan yang yang terlahir dari masa berlaku ini.

Master sudah mengatakan, marah benar-benar tidak bermakna, menyakiti tubuh, menyakiti diri sendiri. Kamu kembali memarahinya, berarti kamu kembali menciptakan suatu kesempatan baginya untuk terus bersengketa denganmu. Untuk apa kamu ribut dengannya? Apa yang perlu diributkan? Sama saja, jika sebaliknya, kembali saya beri satu contoh, jika orang ini tergolong unsur yang, misalnya dia akan segera memukulmu, maka kamu harus menggunakan unsur yin untuk menghadapinya, mencari satu titik keseimbangan – “Oh, itu saya yang salah, dia benar-benar mau memukul saya, aduh, saya benar-benar sangat takut.” Segera membuat diri sendiri menjadi “yin”, menundukkan kepala dan mengaku salah, menenangkan diri, sesungguhnya ini sama dengan menggunakan yin untuk melawan yang. Dulu di Tiongkok sering dikatakan, “jika prajurit menyerang, hadang dengan perwira, jika air datang, kubur dengan tanah.”  Kamu sekarang menghadapi unsur yang, orang ini mau menuntutmu, menjahatimu, maka kamu harus segera menenangkan diri sendiri, baru menyelesaikan masalah ini. Sesungguhnya, jika pada saat ini kamu keluar meminta maaf kepadanya, saya mengatakan maaf kepadanya, maka masalah ini pasti selesai, inilah suatu hasil yang dilahirkan dari kedua unsur yin dan yang. Oleh karena itu, minta kalian belajar ilmu yin, yang, dan Ba Gua, bukan untuk meramal nasib, melainkan ingin mengajarkan kalian untuk bisa menyeimbangkan diri sendiri. Hari ini muncul jerawat di wajah kalian, mengapa harus terpikir untuk minum sup kacang hijau? Kalian orang Guang Dong mengapa suka memasak sup? Karena ingin mencapai suatu keseimbangan bagi tubuh kalian sendiri. Karena daerah Guang Dong sangat panas, maka orang-orang di sana suka minum sup. Daerah Si Chuan sangat lembab, maka orang Si Chuan suka makan makanan pedas, yang bisa meningkatkan asupan kalsium bagi tulang, memperkuat metabolisme tubuh. Makanan favorit apa pun di setiap daerah, semuanya berhubungan dengan keadaan air dan tanahnya.

Ingatlah: kita datang ke dunia ini, karena keberadaan nidana. Maka kita harus belajar “wu fen fa” – panca dharma skandha, yakni membina rupa, aroma, rasa, sentuhan, dharma, kelima skanda pada diri kita secara terpisah. Melihat sesuatu yang berwujud, hati tidak tergerak; mencium sesuatu yang harum, saya harus bisa menahan diri, tidak menciumnya, tidak makan. Rupa, aroma, rasa, sentuhan, dharma, dengan kata lain adalah yang dilihat oleh mata, yang dicium oleh hidung, yang didengar oleh telinga, benda-benda yang disentuh, semuanya adalah palsu, kita harus bisa membedakannya.

Kita harus bisa melakukan pertobatan tanpa rupa. Apakah yang dimaksud dengan “pertobatan tanpa rupa”? Kalian mengetahui berdana dengan rupa bukan? Dengan kata lain, ada “namanya”. Saya hari ini sudah berdana berapa banyak uang, saya hari ini sudah membantu orang lain dan melakukan perbuatan baik, ini namanya berdana dengan rupa. Pertobatan tanpa rupa, berarti sudah tidak ada diri sendiri, saya sedang bertobat. Hari ini kamu melakukan kesalahan, berarti kamu harus bertobat kepada semua orang, harus bisa melupakan diri sendiri, sudah tidak ada dirimu sendiri lagi, kamu harus menggunakan sifat dasar sendiri untuk meminta maaf kepada semua orang, kamu telah menyebabkan berapa banyak kesulitan bagi semua orang, kamu telah membuat berapa banyak orang menyia-nyiakan uang mereka, kamu bersalah kepada semua orang, ini namanya pertobatan tanpa rupa. Saat bertobat, jika masih ingat, “Saya kehilangan harga diri, aduh, saya memalukan sekali, saya sudah kehilangan muka”, ini namanya pertobatan dengan rupa. Pertobatan tanpa rupa, berarti pada saat ini sudah tidak ada diri sendiri, saya dengan tulus bertobat, saya sudah tidak punya gengsi apapun, pada dasarnya saya sudah tidak ada lagi, saya telah salah, maka saya seharusnya begini. Pada saat ini sudah bukan “saya” melakukan kesalahan, melainkan “sifat dasar” dirimu yang melakukan kesalahan, sedangkan kamu karena dipengaruhi oleh kekotoran-kekotoran duniawi baru bisa melahirkan hal-hal ini, ini baru yang dinamakan sebagai pertobatan tanpa rupa.