6. Membina Pikiran Dan Melafal Paritta Dilakukan Sesuai Jodoh 修心念经,随缘为之

6. Membina Pikiran Dan Melafal Paritta Dilakukan Sesuai Jodoh

Ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan kecurigaan. “3 racun” – ketamakan, kebencian, dan kebodohan, semua orang sudah mengetahuinya, maka tidak akan dibahas lagi. Lalu apakah kesombongan? Kesombongan adalah keangkuhan, menelantarkan, selalu merasa diri sendiri yang paling hebat dalam segala hal dan sangat sombong. Tidak tekun memajukan diri juga tidak baik. Sedangkan kecurigaan, mencurigai sesuatu, yakni terlalu berprasangka buruk. Seseorang harus berani mengakui kekurangan diri sendiri, sewaktu kamu sudah mengakui kekurangan diri sendiri, maka sesungguhnya sama dengan membersihkan noda pada diri sendiri, dengan demikian kamu baru bisa melihat sifat dasar diri sendiri, kebijaksanaanmu baru bisa muncul keluar. Apabila kamu sering mencurigai orang lain, ini juga tidak baik, sering mencurigai orang lain juga merupakan suatu kekurangan. “Kecurigaan bisa melahirkan ilusi” – kecurigaan terhadap seseorang bisa menyebabkan lahirnya ilusi palsu dan keputusan yang salah. Saat kamu tidak mencurigai seseorang, hatimu lega dan lapang, maka kamu  akan terus berjalan ke depan tanpa kecurigaan, dan pihak lain bisa menerima apa yang kamu lakukan. Sebaliknya, jika kamu mencurigainya, maka kamu akan melakukannya dengan cara lain, lalu selanjutnya pihak lain pun akan bersikap buruk terhadapmu. Contoh, kamu tidak mencurigai orang ini, kamu mengatakan: “Hari ini kamu membantu saya membeli barang, berapa semuanya?” “86 Yuan.” Tetapi jika kamu mencurigainya, dan dia akan tahu kalau kamu tidak percaya padanya, dia akan merasa tidak senang. Maka lain kali jika kamu memintanya untuk membeli barang lagi, dia akan bilang, “Sudah tidak ada lagi, sudah habis terjual.” Oleh karena itu, dalam ajaran Buddha Dharma ada satu kalimat yang berbunyi, sudah jelas kamu tahu kalau dia sedang menipumu, namun kamu tetap harus membiarkannya. Sesungguhnya, ini merupakan suatu bentuk berdana welas asih. Dia sedang membohongimu, dalam hatimu tahu, kamu mengasihani dia. Jika kamu memiliki kebijaksanaan, maka kamu akan membiarkannya menipumu. Akan tetapi, dalam pemikiran, kamu harus bisa mengubah penipuan ini menjadi welas asih yang tak terkira terhadap dia. Kekurangan terbesar seseorang adalah setelah mengetahui orang lain sedang membohongimu, lalu merasa sangat murka.

Harus menemukan cintamani di tengah kerisauan. Dengan kata lain, sewaktu kerisauan semakin besar, maka kita semakin perlu menemukan sesuatu yang paling mendasar, sesuatu yang paling awal, maka kamu akan menyadari bahwa kerisauan  adalah bodhi. Bagaimana cara mencari cintamani? Ini benar-benar bisa dicari. Cara pertama adalah mencarinya melalui pikiran, cara yang lain adalah melalui pembinaan. Melalui pembinaan yakni dengan melafalkan paritta, melakukan perbuatan baik, melakukan jasa kebajikan. Apakah kalian pernah melihat sebuah bola api? Sebuah benda yang bersinar cemerlang. Manusia memiliki bola api ini, sesungguhnya ini adalah cintamani, yakni sebuah benda yang berkilauan dan bersinar terang. Sinar ini bisa terbang ke sana kemari. Saat manusia meninggal, maka sinar ini akan keluar, sedangkan sekumpulan sinar ini adalah sifat dasar, adalah roh kita. Coba kamu bayangkan sejenak, “Cintamani saya adalah bersih”. Coba bayangkan, ia seperti matahari, sangat bersih, cahayanya putih keemasan, berkilauan dan berpendar melingkar-lingkar, maka kamu sudah menemukannya. Cintamani bisa berjalan ke sekujur tubuh kita, ia sangat luar biasa, ia juga bisa keluar meninggalkan tubuhmu. Namun begitu ia meninggalkan tubuhmu, walaupun kamu masih bernafas, akan tetapi kamu sudah merupakan seorang penderita sakit jiwa, atau menjadi orang yang terbelakang, atau dalam keadaan koma. Kumpulan cahaya ini adalah cintamani, ini adalah sesuatu yang paling semula, maka dia pasti bercahaya terang.

Orang sejahat apapun tetap memiliki sebuah cintamani, hanya saja cintamani miliknya tidak terang, selain itu sangat kecil. Seseorang yang akan masuk Neraka, cintamaninya mungkin hanya menyala sangat redup, seperti cahaya sebuah senter yang hampir habis baterainya. Semakin banyak kebajikan yang kamu lakukan, maka cintamani kamu akan bersinar seterang lampu sorot. Jika kamu melakukan terlalu banyak kejahatan, maka cintamani kamu pun akan seperti senter yang kehabisan baterai. Orang lain menghargai atau tidaknya diri kalian, tergantung dari keberadaan cintamani pada diri kalian, sesungguhnya ini tergantung dari medan aura diri kalian.

Kerisauan adalah bodhi – kebijaksanaan. Seseorang yang memiliki kebijaksanaan tidak akan memiliki kerisauan, bila memiliki kerisauan berarti tidak memiliki kebijaksanaan. Saat kamu memiliki kerisauan, lalu mengubahnya menjadi bodhi, maka sesungguhnya sama dengan menghilangkan kerisauan ini, maka yang tertinggal adalah kebijaksanaan.

Teman-teman se-Dharma paling suka Master menjabarkan ajaran Buddha Dharma dengan bahasa sehari-hari, karena banyak orang yang menjabarkan Dharma dengan bahasa yang terlalu rumit dan mendalam, tidak ada orang yang bisa memahaminya. Dalam menjabarkan ajaran Buddha Dharma, harus mengubahnya menjadi dharma duniawi, menjadi dharma alam semesta, menggunakan cara ini untuk membantu kita menemukan sifat dasar yang semula, menemukan kembali Ibu kita sendiri. Apabila saat kamu  melihat Guan Shi Yin Pu Sa bisa menitikkan air mata, ini masih belum benar-benar menemukan Ibu kita. Ibu yang sesungguhnya yang paling semula, adalah yang kita sebut sebagai “Da Ri Ru Lai Pu Sa”. Seseorang yang memiliki kepribadian yang paling mulia, Beliau bisa menguasai seluruh alam semesta ini, juga bisa membuat kamu menjadi penguasa dirimu sendiri. Ada satu kalimat yang berbunyi, “kepribadian menentukan nasib seseorang”. Seperti apa kepribadianmu, maka itulah nasibmu. Jika kamu adalah orang yang sifatnya tidak suka diatur, seperti banyak orang dalam kegiatan olahraga dipukuli sampai mati. Seseorang yang berkepribadian buruk akan bercerai. Ada seorang pendengar yang sebentar percaya, lalu sebentar lagi tidak percaya; sifatnya yang plin plan ini membuatnya kehilangan nyawanya. Seseorang yang berkepribadian baik mudah mencapai keberhasilan, sedangkan seseorang yang berkepribadian buruk tidak akan bisa sukses. Coba lihat saja seumur hidupmu, jika kamu tidak berhasil, maka kamu bisa melihat kembali, berarti kamu memiliki banyak karakter yang tidak baik. Saat seseorang sukses, sesungguhnya karena dia memiliki banyak karakter yang baik. Kalian sekarang sudah berhasil, sudah menjadi murid-murid GuanShi Yin Pu Sa, begitu beruntunganya kalian, berarti kalian sudah memiliki karakter baik dalam diri kalian.

Apabila kamu tidak mampu mewujudkan sesuatu hal yang kamu anggap mulia, maka mohon gunakanlah cara-cara yang mulia untuk mengerjakan hal-hal kecil, maka pada akhirnya kamu akan bisa menunaikan suatu karya yang mulia. Setiap kali Master memberikan wejangan kepada kalian, dalam pikiran Master akan bermunculan kelebihan dan kekurangan kalian. Mengapa hari ini Master membahas hal ini? Hari ini mengatakannya supaya bisa melepaskan segalanya, harus benar-benar membina diri. Yang palsu tidak akan menjadi asli, sedangkan yang asli tidak akan bisa dipalsukan.

Sesungguhnya Bodhisattva sering memberi petunjuk kepada kita, hanya saja kita tidak bisa menerimanya. Setelah sebuah Pintu Dharma diturunkan ke dunia ini, pasti ada sukacita di dalamnya. Harus bisa menggunakan pengetahuan Buddhis yang sudah dipelajari untuk membuktikan kebenaran Pintu Dharma yang datang selanjutnya. Contoh, tiba sebungkus jamur kering, kamu sudah mengetahui harganya, pada awalnya kamu tidak mengetahui apapun. Seperti sekarang kamu mengenal Pintu Dharma Master, kamu sekarang membina diri mengikuti Master. Saat kamu membina diri sampai setengah, lalu ada orang lain yang mengatakan kalau ada satu Pintu Dharma lain yang baik, kemudian kamu ingin menjajakinya. Maka pada saat itu, kamu perlu menggunakan teori Dharma yang kamu pelajari dalam Pintu Dharma Master untuk membuktikan kebenaran dari Pintu Dharma tersebut. Misalnya, kita tidak pernah menjual jamur kering, juga tidak tahu berapa gram beratnya, berapa harganya, juga tidak tahu apa saja jenisnya, atau berasal dari mana dia. Namun sekarang, kamu sudah memiliki jamur kering ini, kamu sudah memiliki pemahaman tentang jamur ini, ketika kamu mendengar orang lain mengatakan ada sebungkus jamur kering baru yang berkualitas bagus, maka kamu bisa menggunakan harga dan berat dari jamur yang kamu miliki sekarang untuk membuktikan jamur yang akan masuk nanti apakah asli atau palsu, yang bagus atau tidak. Ini sama logikanya saat membuktikan kebenaran suatu Pintu Dharma. Di antara Pintu Dharma Buddhis tidak ada perbedaan baik buruk.

Membina pikiran dan melafalkan paritta – nama Buddha, disesuaikan dengan jodoh. “Yang mutlak, kalau tidak nyata, adalah delusi”. Dalam melakukan segala hal, jika kamu mengatakan, “Hal ini pasti begini”, maka sesungguhnya ini sudah salah. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak, tidak ada yang pasti. Karena dalam segala hal tidak ada yang mutlak. Jika kamu mengatakan hal ini sudah pasti, mutlak benar, maka kamu sudah melakukan kesalahan. Mutlak tidak ada satu tidak ada dua, adalah tidak nyata juga tidak palsu. Dengan kata lain, sesuatu yang mutlak, pasti tidak nyata. “Adalah delusi”, dengan kata lain jangan memiliki ilusi khayalan apapun terhadap segala sesuatu di dunia ini. Akan tetapi ruang kehidupan nyata ini pun tercipta karena khayalan manusia, oleh karena itu, “adalah delusi”, artinya di sini adalah jangan berkhayal. Pemikiran liar sesungguhnya hanyalah suatu bentuk penyempurnaan dari kenyataan. Jika kamu menganggap kemutlakan tidak nyata juga adalah delusi, maka jika kamu memandangnya sebagai kemutlakan yang awal, sesungguhnya hanya ada satu hal yang benar-benar pasti, yakni rupa kebenaran setelah mencapai kesempurnaan. Dengan kata lain, jika kamu menganggap benda-benda di dunia ini sebagai sesuatu yang mutlak, maka kamu sudah pasti salah, karena dia bukanlah wujud rupa yang sebenarnya. Tetapi jika kamu menganggap kemutlakan ini sebagai sifat dasar diri sendiri, maka kamu  sudah memiliki rupa kesempurnaan.

Seseorang yang tidak bisa menstabilkan dirinya sendiri, berarti tidak membina dirinya dengan baik. Menjalankan sila membutuhkan  kekuatan yang sangat besar. Kekuatan seperti apakah “menjalankan sila” itu? Yakni meminjam suatu kekuatan khusus yang diberikan Surga kepadamu, sesungguhnya ini adalah suatu energi surgawi untuk mengendalikan diri sendiri, untuk menghilangkan kekurangan pada diri sendiri. Setiap kali Master memberikan wejangan kepada kalian, pada akhirnya tujuan Master adalah supaya kalian bisa “tersadarkan”, menggunakan sifat dasar kalian untuk mencapai kesadaran.