4. Dalam Sekejap Menyadari Kekosongan, Menerapkan Dharma Yang Ditekuni 顿悟虚空,相应学佛

4. Dalam Sekejap Menyadari Kekosongan, Menerapkan Dharma Yang Ditekuni

Ketidakberuntungan yang ditakdirkan dalam hidup manusia masih ada kemungkinan untuk dihindari. Mengapa bisa dihindari? Karena kita menggunakan ajaran Buddha Dharma, kita memiliki potensi kesadaran spiritual, maka kita baru bisa menghindari ketidakberuntungan yang ditakdirkan pada kita. Namun ketidakberuntungan yang ditambahkan oleh diri sendiri tidak ada jalan untuk menyelamatkannya. Dengan kata lain, karma baru yang diciptakan diri sendiri yang membuat diri sendiri merasakan buah karma buruknya, maka ini tidak bisa diperbaiki. Contohnya, karena saya tidak ingin konsumsi suatu jenis makanan dalam jangka panjang, menyebabkan tubuh tumbuh sesuatu; Karena saya sering marah-marah dalam jangka panjang, maka jantung saya menjadi tidak sehat, pada akhirnya meninggal karena serangan jantung; Karena saya sejak kecil sangat membenci seseorang, karena saya tahu bagaimana cara menggunakan pisau dan senjata api, lalu kamu tahu untuk membunuh orang. Ini adalah ketidakberuntungan yang ditambahkan pada diri sendiri, maka kamu tidak memiliki jalan untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, gembok diri sendiri yang sesungguhnya adalah diri sendiri yang memasangnya, bukan orang lain yang memasangnya. Ketidakberuntungan yang sudah ditakdirkan itu bisa dihindari. Misalnya, Master melihat kalau kalian akan menghadapi bencana, asalkan melafalkan paritta dengan baik dan melepaskan makhluk hidup, maka kamu bisa menghindarinya. Kalian mendengar bahwa di acara minggu lalu, ada seorang pendengar yang terlindas mobil namun tidak apa-apa, ini berarti dia sudah terhindar dari bencana ini. Akan tetapi kekurangan yang ditambahkan oleh diri sendiri, maka tiada cara untuk memperbaikinya, dan akan mengundang balasan karma langsung. Orang awam biasa mencari kerisauan sendiri, padahal sesungguhnya tiada masalah di dunia ini, maka jangan menjadi orang awam.

Saat Master sedang mengkritik murid, sesungguhnya Master sedang membantunya mengikis halangan karma buruk. Contoh, satu anak melakukan kesalahan, lalu segera menerima hukuman dari ayahnya dan akan dipukul. Namun ibunya dengan welas asih berkata: “Anak ini memang nakal, kalau kamu nantinya masih begini, ayah pasti akan memukulmu.” Setelah usai mengatakannya, apakah ayahnya masih akan memukulnya? Sesungguhnya ini sama dengan menghilangkan hukuman pukul bagi si anak. Master hari ini memarahimu, maka Dewa Pelindung Dharma tidak akan menghukummu. Master seperti seorang Dewa Pelindung Dharma, karena Master mengatakan kekurangan dalam dirimu, maka kamu akan merasa lebih nyaman, dan kamu pun telah mengikis karma buruk. Yang benar-benar menyedihkan adalah Master tidak memarahimu, maka kamu setiap hari bersedih, setiap hari merasa tertekan. Oleh karena itu, banyak orang mengatakan: “Master, mohon marahi saya.” Asalkan Master memarahinya dengan keras, maka sesungguhnya dia akan merasa nyaman, dia akan melepaskan beban pikirannya, dan Master juga sudah membantunya mengikis banyak halangan karma buruk. Kalian harus memahaminya, bisa dikritik oleh Master adalah suatu keberuntungan. Jika kamu tidak mau dikritik oleh Master, maka sudah tidak perlu membina pikiran lagi.

Segala rupa dan dharma (fenomena) di dunia ini adalah kosong. Tidak ada benar dan salah, hanya ada karma. Kalian mungkin tidak mengerti. Yang Master katakan adalah prinsip kebenaran yang sesungguhnya, dengan kata lain, supaya kalian jangan menganggap hal-hal yang palsu ini sebagai sesuatu yang nyata. Contohnya, satu orang sedang bermain sulap, semuanya itu palsu. Namun kamu malah mengatakan: “kamu tidak melihatnya dengan benar, saya sudah melihatnya. Karena begitu tangannya bergerak, maka benda ini pun muncul keluar.” Sesungguhnya yang kamu lihat semuanya adalah benda yang palsu. Mengerti? Karma buruk yang kita lakukan walaupun tidak akan segera menerima balasannya, seperti makanan yang baru saja rusak lalu dimakan olehmu, karena makanan yang baru saja kamu makan sesungguhnya sudah rusak dan basi, walaupun setelah kamu makan dia tidak akan segera berbau, juga tidak akan segera merusak tubuhmu, namun kuman penyakit dan zat-zat beracun yang dikeluarkannya di dalam organ pencernaanmu akan melukai lambung dan ususmu, bisa merusak ketenangan jiwamu. Karena saat lambung dan ususmu sakit, maka kesadaranmu pun akan mulai menurun, oleh karena itu dia bisa mengganggu ketenanganmu, pada kenyataannya ini sama dengan menerima balasan karma.

Dua orang yang saling bermusuhan, menandakan kedua orang ini sama-sama tidak baik. Hari ini kamu mengatakan keburukannya, lalu besok dia mengatakan keburukanmu, sesungguhnya kedua orang ini sama-sama tidak baik. Misalnya, satu orang yang tidak baik, jika dilambangkan menggunakan bilangan angka, dia sama dengan nol, ditambah dengan orang tidak baik yang bertengkar dengannya, juga sama dengan nol, kalau begitu jika pendapat kedua orang ini digabungkan, tetap sama dengan nol. Apabila keduanya adalah orang jahat, setelah bertengkar sepanjang hari, maka keduanya sama-sama bukan orang yang baik. Jika satu orang jahat berteman dengan satu orang baik, maka pada akhirnya, orang yang baik ini pun akan berubah menjadi orang jahat; Jika satu orang jahat berteman dengan lima orang, maka nantinya kelima orang ini pun akan menjadi jahat, selain itu kelima orang ini akan dipengaruhi dia – orang jahat ini. Ini sama dengan nol dikali lima, berapa hasilnya? Sekarang jika diumpamakan, Master adalah seratus, lalu Master dikalikan dengan seribu orang, berapa angka yang akan diperoleh? Oleh karena itu, pada sebagian Pintu Dharma, jika gurunya tidak benar, maka orang-orang yang diajarkannya juga akan menjadi tidak benar, seperti aliran Ohmism dari Jepang yang menyebarkan tentang hari kiamat dunia, mengurung orang-orang di dalam satu dusun, kemudian melakukan bunuh diri masal. Bukankah ini sama dengan nol dikali berapa banyak orang pun, hasilnya juga akan menjadi nol? Inilah logikanya. Supaya kalian memahami apakah prinsip kebenaran yang sesungguhnya. Sama saja, suasana hati negatif seseorang bisa mempengaruhi suasana hati semua orang. Kalian harus ingat, jika seseorang mengubah dan menghilangkan kekurangan pada dirinya, itu namanya bukan kekurangan lagi; Jika orang ini tidak mau memperbaiki kekurangan pada dirinya, maka itu selamanya akan menjadi kekurangannya, selamanya akan berada pada dirimu. Orang yang tidak mau memperbaiki kekurangan dirinya, sama seperti noda hitam di wajahnya, “Saya tidak mau menyekanya”, maka yang kotor adalah dirimu sendiri. Membina pikiran disamping memperbaiki sisi dalam, sekaligus juga memperbaiki sisi luar diri kita, harus bisa membina diri di dalam dan di luar.

“Tidak melekat pada rupa, tidak tergoyahkan”, ini adalah perkataaan Bodhisattva. Dengan kata lain, tidak melekat pada rupa, batin kita jangan tergoyahkan, jangan sampai hati kita tergerak. Apakah maksud dari “tidak melekat pada rupa”? Seperti, benda ini sangat bagus, namun bagi saya tidak ada daya tariknya, saya tidak memiliki respon apapun. Contoh, gadis ini sangat cantik, namun saat pria ini melihatnya, dia tidak bereaksi. Melihat aktris sekalipun, saya juga tidak akan tergerak. Yang paling ditakutkan adalah orang yang tidak berpendirian, begitu melihat “rupa”nya lalu segera “melekat”. Jika memang hebat, maka jangan goyah, ini namanya tidak melekat pada rupa. Saya melihat rupa kalian juga tidak bereaksi, cantik atau tidaknya kamu tidak ada hubungannya dengan saya. Melihat uang pun saya tidak tergerak. Karena semua rupa adalah palsu, hari ini bisa ada, namun juga bisa hilang di hari esok. Coba lihat bintang film itu begitu cantiknya sewaktu muda, namun setelah berusia tua, mereka tidak cantik lagi. Rupa luar seseorang tidak ada gunanya, maka kalian jangan melekat pada rupa luar. Coba kalian lihat ada berapa banyak orang-orang kaya, yang setelah beberapa tahun kemudian menjadi tidak punya apa-apa, oleh karena itu, jangan melekat pada rupa. Mencintai seseorang harus menyukai hatinya, dengan tulus baik kepadanya. Banyak orang yang pintar pergi mencari anak dengan moralitas pribadi yang baik, mereka ingin mencari orang seperti ini, maka dia pasti akan memiliki masa depan, jangan hanya melihat kalau dia sekarang sudah kaya raya. Jika jalannya tidak benar, maka dari kaya pun bisa berubah menjadi miskin; Jika jalannya benar, maka walaupun tidak punya uang juga bisa menjadi kaya raya, tidak ada orang juga bisa menjadi ada. Tidak muncul pemikiran sama dengan tidak tergoyahkan. Tergerak hatinya, berarti pikirannya yang tergerak. Master menasihati kalian, jangan sampai pikiran kalian tergoyahkan, jangan tergerak setiap kali melihat sesuatu. Banyak orang yang sudah jelas tidak sanggup melakukan hal tersebut, namun masih bersikeras melakukannya, pada akhirnya malah akan menjadi masalah. Jika hari ini kamu adalah orang miskin, meskipun kamu menikah dengan pria kaya, namun dia juga akan meremehkanmu, akan menganggap kamu seperti pakaian, dia akan berpikir: “Saya akan keluar mencari teman wanita, kamu tidak baik terhadap saya, maka kamu pergi saja.” Lalu besok dia akan mencari seseorang yang lebih cantik daripada kamu. Oleh karena itu, jika ada harga akan menjadi tidak berharga, tiada harganya baru merupakan sesuatu yang berharga, maka disebut sebagai harta yang tak ternilai harganya.

Selanjutnya Master akan membahas tentang melafalkan nama Buddha atau paritta. Saat berbicara, Master sangat bersedia menggunakan medan aura sendiri untuk menyebarkan pengaruh kepada orang lain. Menggunakan medan aura sesungguhnya sama dengan menggunakan kesungguhan hatimu. Energi “qi” keluar dari dalam diri, keluar dari dalam hati. Mata, hidung, mulut, telinga bisa menunjukkan dunia di dalam pikiranmu. Melafalkan nama Buddha atau paritta, harus memiliki pikiran yang sejalan dan menyatu dengan Bodhisattva. Mengapa banyak orang yang melafalkan paritta atau menyebut nama Buddha tidak ada hasilnya? Karena pikirannya tidak selaras dengan Bodhisattva. Saat melafalkan paritta atau nama Buddha, tekadmu harus relevan dengan tekad Bodhisattva, ini adalah pengalaman. Mengapa ada orang yang melafalkan paritta dan manjur, lalu ada yang tidak manjur? Apakah tekad Bodhisattva yang sesungguhnya? Misalnya, tekad dari Guan Shi Yin Pu Sa adalah menolong kesadaran spiritual semua makhluk, mengabulkan semua permohonan. Jika kamu juga memiliki tekad seperti ini, maka saat melafalkan {Da Bei Zhou}, akan terlahir kekuatan yang luar biasa. Betapa beruntungnya kalian, bisa mendengarkan Master membahas sesuatu yang bagus seperti ini. Ada sebagian orang yang hanya berpikir untuk melafalkannya lebih cepat, tidak memikirkan tekad Bodhisattva, maka paritta yang dilafalkannya tentu tidak ada kekuatannya. Saat melafalkan paritta, harus selalu mengingat tekad Bodhisattva. “Tekad saya sama seperti Guan Shi Yin Pu Sa, saat orang lain memiliki permintaan pada saya, maka saya harus mengiyakannya. Kemudian pikiran saya harus menyatu dengan pikiran Bodhisattva. Bodhisattva mau menolong orang-orang, maka di masa depan nanti setelah membina diri dengan baik, saya juga ingin menolong orang.” Tekad dan pikiran yang sama, maka kamu melafalkan paritta satu kali, kekuatannya akan luar biasa besar.

Apakah yang dimaksud dengan “selaras dan menyatu”? Harus bisa memahami prinsip kebenaran. Harus mengetahui prinsip kebenaran ini, maka pikiranmu baru bisa menyatu dengan Bodhisattva. Setelah mengetahui prinsip kebenaran ini, kamu harus berusaha keras mewujudkan dan menerapkannya, itu baru namanya selaras dengan Bodhisattva. Jika kamu hanya menyembah Guan Shi Yin Pu Sa, hanya mengatakan, “Guan Shi Yin Pu Sa, saya ingin sama seperti Anda menyelamatkan semua makhluk”, namun tidak pernah menolong orang, tidak pernah membabarkan Dharma kepada orang lain, lalu apakah kamu bisa menyelamatkan semua makhluk? Tidak boleh hanya omong kosong belaka. Banyak orang yang mulutnya melafalkan paritta, namun menyimpan pemikiran liar di hatinya, ini sangat tidak baik. Karena saat mulutmu melafalkan paritta, maka semuanya akan diketahui oleh Naga Langit dan para Pelindung Dharma. Jika otakmu memikirkan hal-hal yang tidak bersih, maka kamu bukan hanya tidak melafalkan paritta dengan baik, malah akan menyakiti dirimu sendiri. Contoh, kamu mengendarai mobil menuju kedepan, lalu kamu menginjak pedal gas, ini seperti kamu melafalkan paritta, namun juga memiliki pemikiran liar, maka kamu akan tersesat, kamu menyetir balik, namun sedalam apapun kamu menginjak gas, kamu tetap tidak akan bisa sampai ke tempat tujuan, maka paritta yang kamu lafalkan pun sia-sia. Hal ini bisa memberi tahu kalian, bahwa kita melafalkan paritta, maka jangan menyakiti orang lain, kita melafalkan paritta bukan untuk mencelakakan orang lain, kita melafalkan paritta jangan untuk mengguna-guna orang lain. Saat melafalkan paritta yang dipikirkan adalah paritta Bodhisattva, tidak boleh memiliki kebencian, hanya boleh mengandung keinginan dan permohonan. Jika tekad dan keinginan sama dengan para Buddha dan Bodhisattva, maka permohonanmu baru bisa terkabul, kamu baru bisa menghapus segala halangan karma buruk.

“Semua yang berupa adalah ilusi palsu”. Semua benda-benda yang palsu memiliki lima agregat dan tiga racun. “Lima agregat” adalah rupa, perasaan, pemikiran, perilaku, dan kesadaran, yakni kelima unsur: logam, kayu, air, api, dan tanah. “Semuanya bukanlah rupa yang nyata”, semua ini bukanlah rupa yang benar-benar nyata di dunia ini. Dengan kata lain, semua yang kamu lihat di dunia ini adalah palsu. Saat tubuh Dharma kamu merasa tersadarkan, kamu akan merasakan bahwa di dunia ini tidak ada satupun benda yang nyata, semua ketamakan, kebencian, dan kebodohan adalah ilusi palsu, tidak nyata, kamu baru akan merasa mulai tersadarkan. “Dengan menelaah kekosongan, lalu perlahan-lahan menemukan Dharma”, dengan kata lain menelaah bahwa benda ini adalah kosong, maka lambat-laun akan memahami Dharma ini. “Merasakan kekosongan, tiba-tiba menyadari Dharma”, mampu merasakan bahwa hal ini adalah kosong, bisa tiba-tiba menyadari Pintu Dharma ini. “Kesadaran tubuh Dharma, tiada satu benda pun yang nyata.” “Tersadarkan secara bertahap dan tiba-tiba”, yakni secara perlahan tiba-tiba memahami semuanya.