43. Menemukan “Aku” yang Sesungguhnya, Mencapai Ketenangan Nirvana
Kita harus memahami ketidakkekalan, belajar mencapai ketidakakuan. Ketahuilah bahwa di dunia ini, tiada satu pun benda yang abadi, maka kita harus belajar menghilangkan keakuan – diri sendiri, dengan meniadakan keakuan, kamu baru bisa benar-benar bisa memiliki “Aku”. Sedangkan “Aku” di sini merujuk pada “diriku yang seluas alam semesta”, adalah“Aku” yang sesungguhnya, bukan “Aku” yang palsu. Master mengajarkan Dharma kepada kalian, bukan ke “Aku” yang memiliki raga badaniah di dunia ini, melainkan ketidakakuan yang sesungguhnya, “Aku yang sesungguhnya” yang semula, yang memiliki kelapangan hati seluas alam semesta, sampai terakhir, kita baru bisa mencapai ketenangan Nirvana. Ketika seseorang tidak lagi memikirkan apapun, dia tidak akan lagi memiliki penderitaan; saat seseorang sudah benar-benar bisa melepas, maka dia tidak akan lagi memiliki penderitaan, dia baru bisa mencapai ketenangan Nirvana, yang dengan kata lain bisa berpulang pada “rumah” kita yang sesungguhnya yang sama seperti semula.
Saat Master menulis naskah ini, Master memikirkan banyak hal. Saya berpikir, selain menderita, Tuan Zhou pun merasa putus asa, karena dia sama sekali tidak bisa melepas. Dulu dia mengatakan kepada saya kalau dia sudah berpikiran terbuka, saya pun bisa melihatnya. Termasuk saat Nyonya Zhou mengatakan kalau dia sudah berpikiran terbuka, saya pun juga bisa melihatnya. Begitulah manusia, jika belum sampai benar-benar tiba saatnya, sampai benar-benar tidak berdaya, dia selalu memiliki suatu harapan untuk hidup. Oleh karena itu, terkadang saya berpikir, tunggu saat Tuan Zhou menjelang ajalnya, pelan-pelan dia pun bisa menerima penderitaan ini, pelan-pelan dia akan melihat orang-orang yang dikasihinya, pelan-pelan dia melihat rumahnya sendiri, melihat benda-benda yang walaupun tidak bisa direlakannya, akan tetapi dia tetap harus pergi meninggalkannya – menderita sekali. Begitu meninggal, sudah tidak tahu akan pergi ke mana. Saat Master terpikirkan hal-hal ini, Master merasa sangat kasihan kepadanya, lalu saya memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa untuk berwelas asih kepadanya, akan tetapi welas asih ini pun dibangun pada jasa kebajikannya yang dulu pernah dilakukannya. Karena di stasiun radio yang lama, dia demi membangun stasiun radio Dong Fang Tai ini, pada saat itu, dia benar-benar berkorban dan memberi banyak sekali. Justru karena dia memiliki jasa kebajikan ini, baru bisa menjadikan jodoh yang dimilikinya sekarang, Master baru bisa membantu memohon untuknya. Akan tetapi jika sekarang jasa kebajikanmu tidak mencukupi, jika di masa depan nanti kembali menghadapi masalah seperti ini, saat Master kembali memohon untukmu, mungkin sudah tidak ada jodoh ini lagi. Logikanya sangat sederhana, jangan hanya mengandalkan “modal lama”, harus melakukan “jasa yang baru”. Untuk melakukan jasa yang baru berarti harus banyak melakukan jasa kebajikan, benar tidak? Sekarang kamu hanya menggunakan “modal lama”, masih makan makanan non-vegetarian. Kamu benar-benar harus memperbaiki kesalahan yang lama, benar-benar introspeksi diri. Saat Master menulis hal ini, Master benar-benar merasa sedih.
Kita harus memahami bahwa Buddha dan Bodhisattva adalah lambang kebijaksanaan. Apabila kalian setiap orang memiliki kebijaksanaan, berarti kalian adalah Buddha dan Bodhisattva. Kalian harus bisa berpandangan bahwa segala hal di dunia ini tidak kekal, segalanya adalah palsu, tidak ada yang abadi. Segala hal di dunia ini adalah derita, ini adalah “kesadaran tanpa perasaan”. Tahukah apa yang dimaksud dengan “kesadaran tanpa perasaan”? Berarti kesadaran yang tidak memiliki perasaan. Jika kalian memiliki kesadaran yang memiliki perasaan, maka kalian bisa terluka. Harus benar-benar menggunakan cinta yang universal, bukannya perasaan sendiri. Mengerti? Sebelum pasangan suami istri menikah, hubungan mereka sangat harmonis dan erat, saat meninggal akan sangat menderita sekali, bukankah dirimu sendiri yang sedang menderita? Banyak orang yang belum sampai meninggal, namun sudah sangat menderita, mengapa? Karena perceraian. Benar tidak? Anak pun begini, demikian juga dengan suami dan istri. Maka kita harus bisa memandang segala hal di dunia ini dengan kesadaran yang tidak memiliki perasaan, yaitu kesadaran tanpa perasaan, yakni ketiadaan Aku.
Alam ini akan berulang kembali, karena ruang alam semesta di alam dunia ini semuanya kembali dan bermula dari alam. Contoh sederhana, gempa bumi besar di Tangshan, membuat seluruh Tangshan lenyap, kemudian kembali muncul Tangshan yang baru. Benar tidak? Seorang manusia yang tumbuh dari kecil hingga dewasa, pada akhirnya meninggal, lalu kembali terlahir lagi menjadi seorang manusia yang baru. Benar tidak? Begitulah semuanya berputar-putar kembali, berulang kembali dari awal. Hari ini yang Master bahas dengan kalian adalah masalah perasaan duniawi, pada dasarnya Master memang membahas ajaran Dharma dengan kalian. Karena jika hari ini tidak bisa menyadarkan Tuan Zhou, maka akan kehilangan dua nyawa, saya benar-benar sangat sedih. Hari ini akhirnya bisa kembali menyadarkan orang tua ini, maka dia segera bisa tertolong. Asalkan percaya kepada Guan Shi Yin Pu Sa, maka Bodhisattva pasti akan menolongnya; jika dia tidak percaya, maka tidak akan bisa menolongnya. Sekarang dia makan obat sesuai resep dokter, berusaha sekuat tenaga melafalkan paritta dan membina pikiran, maka beberapa bulan kemudian, indeks hasil testnya yang negatif pasti akan menurun.
Master berharap kalian setiap orang bisa mengendalikan kekurangan pada diri sendiri, bisa menghilangkan dosa halangan karma buruk pada diri sendiri. Jika setiap orang semuanya baik, betapa senangnya Master. Tahukah kalian, hari ini saat Master melihat Tuan Zhou mereka berdua berjanji mau mendengarkan nasihat Master, betapa senangnya Master. Mengapa Master mau melakukan hal-hal ini, apakah kalian mengerti? Coba pikirkan, satu pasangan, sepasang suami istri, seorang anak, semua jalinan perasaan antara orang yang satu dengan yang lain datang dengan tidak mudah, maka harus menghargainya! Harus bisa mengendalikannya! Master setiap hari, setiap bulan, setiap tahun mengatakannya kepada kalian, tujuannya adalah mengajarkan kalian untuk belajar mengendalikannya, harus menghargai berkah pahala, harus bisa berpuas hati, semuanya tidak mudah. Master cukup berpuas hati. Acara stasiun Dong Fang Tai semakin bagus, pendengarnya semakin banyak, meskipun ada orang yang mendengarkan acara lain, juga acara yang sangat bagus. Banyak orang setelah mendengarkan siaran acara Master, baru mulai menekuni Dharma dan membina pikiran. Hari ini Master berbicara kepada grup muda-mudi, juga sedang berusaha melakukan jasa kebajikan sebanyak-banyaknya. Jasa kebajikan memang didapatkan dengan merebutnya, banyak jasa kebajikan yang benar-benar harus dilakukan sendiri, jika tidak melakukannya, maka tidak akan ada jasa kebajikan. Apabila tidak memiliki jasa kebajikan, maka tunggu saat malapetaka menghampiri, kalian tidak akan bisa menghindarinya atau membebaskan diri darinya. Oleh karena itu, yang seharusnya dilakukan harus dilakukan, selain itu harus aktif melakukannya. Bukannya meminta kalian untuk saling berebut melakukannya, melainkan meminta kalian untuk melakukan hal-hal yang membawa kebaikan bagi semua makhluk. Membawa kebaikan bagi semua makhluk baru bisa membawa kebaikan bagi diri sendiri. Dalam menekuni Dharma dan berperilaku, kita harus bisa mengendalikan temperamen diri sendiri, mengubah kebiasaan buruk diri sendiri. Karena kebiasaan buruk bisa berubah menjadi hawa negatif. Jika tubuh kita terus diselubungi dengan hawa negatif, bagaimana bisa memiliki peruntungan baik? Ini seperti saat tubuh kita terus sakit-sakitan, bagaimana mungkin bisa memiliki kesehatan?
Dengan berpuas hati untuk membuka kesadaran, dengan berwelas asih untuk menguraikan segala kerisauan duniawi, belajar untuk menjalani hidup yang sesungguhnya. Setiap hari adalah memberikan harapan baru dalam kehidupanmu, ini merupakan suatu kekuatan yang bisa membuatmu terbebas dari tumimbal lahir. Setiap hari kita berpikir, apakah yang saya lakukan hari ini masih berada di enam alam? Apakah masih tetap akan bertumimbal lahir di enam alam? Pergi bekerja, pulang ke rumah, berteman, belajar … Segala hal yang kamu lakukan di dunia ini harus didasari dengan ajaran Buddha Dharma sebagai standar utamanya, dengan begitu hidupmu baru tidak akan menyimpang. Kalau tidak, kamu benar-benar akan kehilangan raga manusia ini. Sulit untuk mendapatkan – terlahir sebagai manusia, tidak mudah untuk mengenal ajaran Buddha Dharma. Hargai hidup, hargai waktu, hargai kehidupan spiritualmu, jadilah seorang Bodhisattva di dunia. Di dunia ini, jalani kehidupan Bodhisattva, menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk menyelamatkan kesadaran spiritual diri sendiri, dan menolong semua makhluk.
