2. Menggunakan Kebijaksanaan Prajna Untuk Menemukan “Akar” Di dunia Ini
Master melihat di internet, ada seorang pendengar wanita di luar negeri, dia mengatakan sudah 70 hari lebih terlambat haid, Master memintanya untuk melafalkan beberapa lembar Xiao Fang Zi, kemudian baru saja selesai dibakar, keadaannya langsung kembali normal, dia merasa senang sekali. Keajaiban-keajaiban seperti ini sudah sangat banyak terjadi. Master beri tahu kalian, meyakini Buddha harus memiliki kepercayaan diri. Jika seseorang kehilangan kepercayaan dirinya, maka dunia ini bagi dirinya akan menjadi tidak berwarna, sama sekali tidak ada harapan. Manusia hidup di dunia ini harus memiliki kepercayaan diri, jika melakukan kesalahan harus bisa introspeksi diri, menyucikan jiwanya sendiri. Jika melakukan kebaikan maka harus terus dilakukan, bila melakukan kejahatan, maka harus memperbaikinya. Hanya dengan terus meningkatkan dirinya, baru bisa menjadi pembina pikiran dan praktisi Buddhis yang baik. Jika seseorang mengalami ketidaklancaran dalam segala hal, pasti ada penyebabnya, di dalam ajaran Buddha Dharma, ini disebut sebagai karma.
Hari ini kita akan membahas tenang “prajna”. Kita semua sering mendengar satu kalimat, “Bo re bo luo mi duo”, yang artinya mencapai penerangan sempurna. Dalam ajaran Buddha Dharma ada satu penjelasan tentang “prajna”, yaitu mengetahui. Akan tetapi di dunia ini, “prajna” diartikan sebagai tiada yang diketahui. Apakah maksud dari “tiada yang diketahui”? Berarti tidak tahu. Namun sesungguhnya, “tiada yang diketahui” berarti tiada yang tidak diketahui, justru karena kamu sudah mampu melihat segala hal dengan jelas, maka kamu mengetahui bahwa segala hal di dunia ini adalah kosong, kamu sudah memahami segalanya. Ketika kamu sudah mengetahui segalanya, berarti kamu sudah memiliki “prajna”. Dalam ajaran Buddha Dharma dikatakan, “prajna” adalah suatu tingkat kesadaran spiritual yang sangat tinggi, yakni suatu tingkat kesadaran pemikiran seseorang. Ketika seseorang tidak memahami apapun, maka tingkat kesadaran spiritualnya sangat rendah; Sebaliknya saat seseorang mampu memahami segalanya, berarti tingkat kesadaran spiritualnya sangat tinggi. Jika tiada yang tidak diketahui di dunia ini, apa namanya? Itu adalah kebijaksanaan. Namun apabila kamu sudah melampaui kebijaksanaan duniawi, yakni mencapai pemahaman total terhadap seluruh alam semesta ini, maka itu dinamakan “kebijaksanaan prajna”. Contohnya, kita hidup di tengah alam semesta ini, kita memahami semuanya mengenai seluruh alam semesta dan lingkungan alam ini, kita sangat pintar, itu namanya “memahami”, namun sesungguhnya, kamu hanya memahami sebagian hal dari kehidupan di alam semesta ini. Jika kamu bisa menggunakan kebijaksanaanmu untuk memutuskan kerisauan dan menghilangkan ketidaktahuan, maka sebenarnya ini yang disebut sebagai “prajna”. Apa yang dimaksud dengan “memutuskan kerisauan”? Yakni ketika kerisauan datang melanda, kamu bisa memutuskannya. “Menghilangkan ketidaktahuan”, berarti mampu menghilangkan kebiasaan buruk diri sendiri. Apabila diri sendiri tidak memahami apapun, namun berpura-pura paham, atau banyak kebiasaan buruk yang dibawa dari kehidupan sebelumnya, semua ini bisa disebut sebagai ketidaktahuan.
Master berulang-ulang mengatakan kalimat-kalimat kepada kalian, sesungguhnya Master sedang mengajarkan kalian bagaimana cara mendapatkan “kebijaksanaan yang mendasar”, yakni untuk memiliki kebijaksanaan yang paling mendasar di dunia ini. Kebijaksanaan prajna bisa memutuskan kerisauan. “Kebijaksanaan” dan “prajna” adalah dua pemahaman yang berbeda, kebijaksanaan duniawi bisa meningkat sampai mampu memutuskan kerisauan dan menghilangkan ketidaktahuan. Contohnya, anak ini luar biasa pintar, tidak hanya pandai dalam belajar, namun juga tahu tujuan ia belajar, mengapa belajar, setelah belajar lalu bagaimana selanjutnya, dia mengetahui semuanya, berarti anak ini memiliki bagian pertama, yakni kebijaksanaan. Seseorang yang memiliki kebijaksanaan sudah sangat hebat, namun bagian yang kedua adalah mencapai kebijaksanaan Bodhisattva, yang disebut sebagai “prajna”.
Bodhisattva mengatakan: dari semua persembahan, yang paling luar biasa adalah persembahan Dharma. Memberikan sedikit uang, ini disebut sebagai “Persembahan harta”. Di antara berdana dengan uang, berdana Dharma, dan berdana dengan ketidaktakutan, yang terbaik adalah berdana Dharma. “Berdana Dharma” yakni menasihati orang lain untuk membina pikiran dan melafalkan paritta. Jika orang ini tidak percaya, lalu kamu membuatnya percaya kepada Buddha, ini adalah berdana dharma. Yang paling bagus adalah lebih banyak melakukan pembabaran Dharma. Berdana dengan uang, berdana Dharma, dan berdana dengan ketidaktakutan, mengamalkan ketiganya secara bersamaan, maka kekuatannya akan menjadi tidak tertandingi, jasa kebajikannya yang tiada taranya. Master beri tahu kalian, menyadarkan kesadaran spiritual orang yang memang sudah memiliki jasa kebajikan akan memperoleh jasa kebajikan lebih besar daripada menolong kesadaran spiritual orang yang tidak memiliki jasa kebajikan. Contohnya, dokter adalah orang yang sudah memiliki jasa kebajikan, jika kalian menolong kesadaran spiritual seorang dokter, maka jasa kebajikannya lebih besar; Jika kalian menolong seseorang yang sudah membina dirinya dalam Dharma, maka jasa kebajikannya lebih besar; Jika ada orang yang sudah menyembah Buddha, namun tidak tahu bagaimana cara melafalkan paritta, maka menolong orang seperti ini, jasa kebajikannya juga sangat besar. Kita jangan menunggu sampai sudah lanjut usia baru menyesal. Hidup setiap orang berada dalam satu tarikan nafas, harus manfaatkan hidup yang terbatas ini untuk lebih banyak menolong orang-orang, lebih banyak melakukan jasa kebajikan.
Kita dalam menekuni ajaran Buddha Dharma, jangan mengira kalau diri sendiri bisa mengendalikan dunia ini, sesungguhnya malah kita yang dibuat kebingungan oleh dunia ini. Takdir kita tidak dikendalikan oleh diri sendiri, melainkan di bawah kendali akarmu. Apakah akar ini? Ini adalah “akar jodoh”. Sesungguhnya, ini merujuk pada jodoh yang kamu tanam di masa lalu. Oleh karena itu, kita suka mengatakan, “menemukan kembali akar jodoh”. Bila jodoh kita dulu kurang baik, maka yang kita dapatkan sekarang adalah jodoh buruk; Bila jodoh kita di kehidupan sebelumnya sangat bagus, maka yang kita dapatkan adalah jodoh baik; Bila bibit karma yang kita tanam dulunya tidak baik, maka yang kita dapatkan adalah buah karma buruk. Apabila kamu bisa memutuskan kerisauan dan menghilangkan ketidaktahuan, itu berarti kamu memiliki “prajna”. Jika kamu bisa menyatukan prajna dan kebijaksanaan, maka kamu bisa memutuskan kerisauan dan menghilangkan ketidaktahuan. Inilah yang dinamakan sebagai “kebijaksanaan yang mendasar”. Dengan kata lain, kebijaksanaan ini adalah kebijaksanaan yang paling dasar, kebijaksanaan yang berada di tempat terdalam. Jika mampu menjelaskan segala fenomena yang ada di alam semesta ini, disebut sebagai “kebijaksanaan yang tercapai kemudian”. Jika kamu memiliki kemampuan untuk menjelaskan fenomena segala benda di alam semesta ini, hanyalah kebijaksanaan yang kamu dapatkan setelah terlahir ke dunia ini, maka disebut juga sebagai “kebijaksanaan duniawi”. Kamu masih belum bisa memutuskan kerisauan dan menghilangkan ketidaktahuan. Karena kerisauan ini dibawa dari kehidupan sebelumnya, sudah menyertai dirimu semenjak lahir, maka kamu tidak bisa menghilangkan sesuatu yang dibawa sejak lahir, sesungguhnya berarti kamu tidak memiliki kebijaksanaan yang mendasar. Kebijaksanaan karena kepintaran di dunia ini adalah seperti mencetuskan ide-ide cerdik, atau melakukan penelitian, semua ini adalah “kebijaksanaan yang tercapai kemudian”. Karena dia tidak memiliki kebijaksanaan yang mendasar. Ada sebagian orang yang sangat pandai, seperti ahli fisika, ahli kosmologi, ahli kimia, ahli matematika, dan lain-lain, yang mereka miliki adalah kebijaksanaan yang tercapai kemudian. Dia mampu memahami segala hal di alam semesta ini, akan tetapi dia tidak bisa memutuskan kerisauan. Banyak ilmuwan yang tetap bertengkar dengan atasannya demi pembagian rumah atau kenaikan gaji. Banyak ilmuwan yang memahami energi atom, namun dia malah dimanfaatkan oleh orang lain, dia tidak tahu apa gunanya menciptakan bom atom, dia hanya bisa meneliti. Menurut kamu, apakah dia memiliki kebijaksanaan? Dia punya, namun dia tidak memiliki kebijaksanaan yang mendasar. Sesungguhnya kebijaksanaan yang tercapai kemudian terlahir dari kebijaksanaan yang mendasar, dengan kata lain, kita bisa mengumpamakan kebijaksanaan yang tercapai kemudian sebagai “anak”, sedangkan anak terlahir dari ayah. Prinsipnya sama saja.
Tubuh dari kebijaksanaan, sebaliknya adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan di dunia ini memiliki wujud. Karena dia masih memiliki tubuh, maka dia tidak bisa menjadi kebijaksanaan yang tertinggi. Misalnya, kita ingin melakukan satu hal, lalu orang ini memikirkan satu cara, itu namanya kepintaran. Contoh, harga kacang hijau dari harga normal 9 Yuan tiba-tiba turun menjadi 3 Yuan, orang yang pintar akan segera membeli 10 bungkus. Namun orang yang bijaksana, dia akan melihat, apakah kacang hijau ini sudah kadaluarsa? Dia akan berpikir mengapa kacang hijau ini dijual begitu murah? Ini yang disebut “mencari sumber”. Kebijaksanaan memiliki tubuh, jika menggunakan kebijaksanaan secara fisik, maka itu bukanlah kebijaksanaan yang sesungguhnya.
Kita harus meniadakan kebijaksanaan, dengan kata lain, saya tidak memiliki kebijaksanaan. Hari ini saya belajar mengikuti Master, baik-baik membina pikiran, melafalkan paritta dengan sungguh-sungguh, saya tidak memiliki kebijaksanaan. Justru karena saya tidak memiliki kebijaksanaan, maka saya harus belajar dengan baik, saya harus belajar dengan tekun, saya tidak memiliki pemikiran apapun. Tiada kebijaksanaan sampai pada akhirnya menjadi tiada yang tidak diketahui. Karena kamu merasa dirimu tidak mengetahui apapun, maka kamu belajar dengan keras, sampai pada akhirnya kamu mengetahui segalanya, ini dinamakan tiada yang tidak diketahui. Jika kamu merasa dirimu sudah “penuh”, sudah memiliki kebijaksanaan, apakah kamu masih akan belajar? Kamu sudah sampai ke puncak, namun yang dipelajari hanya sedikit ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, harus merasa tidak mengetahui, berpendapat bahwa diri sendiri tidak memiliki kebijaksanaan, maka baru bisa mengetahui segalanya, selanjutnya kamu akan mencapai prajna. Setelah memiliki prajna, maka akan memiliki kebijaksanaan yang sempurna, lalu disebut sebagai kesempurnaan sifat alami, yakni sifat dasar diri sendiri yang sempurna. Karena kamu memiliki semua kebijaksanaan, yakni prajna yang tertinggi, maka kamu pun mendapatkan sifat dasar yang paling sempurna.
Kita kembali membahas kebijaksanaan terakhir yang paling sempurna. Apakah yang dimaksud dengan “terakhir dan paling sempurna”? Saya sudah mengetahui kehidupan di alam semesta ini, termasuk langit, bumi dan manusia, termasuk yang sudah melampaui langit bumi dan manusia, keluar dari 3 alam, sudah tidak lagi berada di tengah 5 unsur, sudah melampaui tingkatan tertinggi dari alam semesta ini, itulah pencerahan teratas yang paling sempurna. Apakah yang dimaksud teratas? Berarti sudah yang paling tinggi. Seperti Guan Shi Yin Pu Sa, seperti Buddha Sakyamuni. Mengapa bisa ada Putri Miao Shan? Mengapa bisa ada legenda Ji Gong? Hari ini Master akan memberi tahu kalian, sesungguhnya proses pendewasaan Bodhisattva Ji Gong harus melewati berkali-kali banyaknya kehidupan, baru bisa menjadi seorang Buddha hidup. Seperti ada orang mengatakan, Guan Shi Yin Pu Sa berasal dari India, lalu mengapa bisa menjadi Putri Miao Shan dari Tiongkok? Banyak orang yang tidak memahaminya. Mereka hanya melihat kehidupan sebelumnya dari Guan Shi Yin Pu Sa. Karena Guan Shi Yin Pu Sa pernah menjadi orang Tiongkok, maka orang-orang melukisnya menyerupai wajah orang Tiongkok. Lalu orang India, juga menjadikan Guan Shi Yin Pu Sa sebagai Bodhisattva di India. Sesungguhnya ini semua ditentukan oleh pelatihannya sendiri dalam berkali-kali kehidupan. Seperti murid Master, ada yang pernah memimpikan kalau dia pernah menjadi seorang raja wanita. Master beri tahu kalian, semua ini memang benar adanya, semua ini nyata. Namun ini hanyalah masa lalumu. Bagaimana bisa muncul orang-orang yang jenius berbakat itu? Sesungguhnya, semua ini tidak hanya berdasarkan satu kehidupan mereka sekarang ini.
Jasa kebajikan dari berdana melalui Dharma (menyebarkan ajaran Buddha Dharma) yang paling besar, jasa kebajikan dari menolong orang adalah yang paling besar. Melafalkan sedikit paritta bisa memiliki kebijaksanaan, namun tidak bisa memperoleh kebijaksanaan yang paling mendasar. Master sekarang menggunakan Pintu Dharma ini untuk menolong orang-orang, yang digunakan juga adalah kebijaksanaan duniawi. Akan tetapi dibalik kebijaksanaan duniawi, Master juga menggunakan kebijaksanaan yang mendasar. Karena jika tidak ada kebijaksanaan yang mendasar, bagaimana Master bisa menolong kalian orang-orang ini? Terkadang saat fondasi kita goyah, maka kebijaksanaan Master pun bisa berubah menjadi kebijaksanaan duniawi. Apabila Master memiliki kebijaksanaan yang mendasar sebagai fondasi atau penunjang, maka kebijaksanaan yang Master keluarkan sudah pasti adalah kebijaksanaan Bodhisattva. Master sangat rendah hati, saat bersama-sama dengan grup pemuda-pemudi, Master sering mengkritik diri sendiri, supaya membuat para muda-mudi ini sadar bahwa kita semua orang memiliki kekurangan, dan semuanya perlu diperbaiki. Sama seperti kita bisa sakit, apakah kamu berani mengatakan, ada siapa yang dari kecil sampai sekarang belum pernah sakit? Jika tidak pernah sakit namanya bukan manusia, yang tidak bisa sakit adalah roh. Karena dia tidak memiliki raga nyata, dia tidak memiliki yin dan yang, tidak punya lima unsur, maka dia tidak bisa menjadi sebuah raga, maka dia tidak akan sakit. Akan tetapi dia adalah perasaannya yang menderita, maka dia akan merasa derita. Seperti kalian jika dimarahi orang lain, atau saat anak pergi, kamu mengkhawatirkannya, atau merasakan nyeri di tubuh, ini seperti ada orang yang memberi tahu kamu, kalau “kamu menderita penyakit kritis”, maka saat itu mungkin tubuh masih belum sakit, akan tetapi dalam perasaan sudah mulai merasakan derita, sesungguhnya ini adalah siksaan terhadap roh.
Yang Master bahas sudah sangat transparan, supaya kalian jangan sampai tersiksa jiwanya, juga jangan sampai merasakan derita kejiwaan. Banyak penderita sakit jiwa, sesungguhnya mereka tersiksa jiwanya, dan tubuh mereka sudah mati rasa. Jiwanya sudah tidak bisa mengendalikan tubuhnya, maka dia tidak mengetahui apa itu penderitaan. Jika seseorang tidak memiliki jiwa, maka dia bukanlah manusia. Itulah mengapa bisa ada istilah “manusia vegetatif” – pasien koma.
Yang Master bahas sekarang adalah ajaran Buddha Dharma yang mendalam, yakni bagaimana menggunakan kebijaksanaan dan jiwamu untuk mengendalikan dirimu dalam menjalani hidup ini. Penuhi hidup diri sendiri dengan kebijaksanaan, sucikan jiwa, menjalani kehidupan ini sampai akhir, ini tidaklah mudah. Karena kamu sudah menjadi manusia, maka kamu harus menahan ketidaksetaraan duniawi, penderitaan duniawi, bencana duniawi, segala hal di dunia ini yang membawa ketidakadilan bagi dirimu. Mengapa keluarga saya begini? Mengapa suami saya begini? Mengapa? Mengapa … Ada satu orang yang mengatakan, dia ingin mengubah materi pembelajaran Master menjadi 10 ribu “mengapa”. Sungguh tidak bijaksana. Mengubah ajaran Buddha Dharma yang begitu mendalam, suatu jalan untuk menyelamatkan manusia dan roh menjadi 10 ribu pertanyaan mengapa, memang kalian bisa langsung tahu jawabannya jika ditanya? Ini bukanlah ilmu pengetahuan duniawi, diperlukan potensi kesadaran, harus mengandalkan sifat dasar diri sendiri dalam membina diri, baru bisa mencapai tingkat kesadaran spiritual tertentu, kamu baru bisa terbuka kesadarannya. Kalau tidak, bagaimana dirimu bisa menyadarinya?
