11. Melenyapkan 3 Halangan, Rajin Melafalkan Paritta 灭三障,勤念经

11. Melenyapkan 3 Halangan, Rajin Melafalkan Paritta

Selanjutnya Master akan membahas tentang “3 halangan”. Apakah “3 halangan” itu? Yaitu halangan kerisauan “fan nao zhang”, halangan karma buruk “ye zhang”, dan halangan balasan karma “bao zhang”. Apakah yang disebut dengan kerisauan? Kerisauan adalah ketidaktahuan, berarti tidak paham, merasa kebingungan. Karena kamu tidak mengerti, maka kamu merasa bingung, kemudian terlahirlah kerisauan. Apabila kamu tidak bisa memahami apapun, maka akan muncul kerisauan, benar tidak? Kalian akan mengerti jika merenungkannya. Misalnya, orang lain sedang berbisik-bisik dan kamu melihatnya, lalu kamu akan berpikir, apakah mereka sedang membicarakan saya? Karena kamu tidak mengerti, maka Anda merasa kebingungan, selanjutnya kerisauanmu pun mulai muncul. Apakah kalian mengerti? Oleh karena itu, ketidakpahaman akan menimbulkan kerisauan, tidak paham adalah suatu halangan. Seseorang yang tidak bisa memahami apapun dengan jelas, sesungguhnya dia telah memiliki halangan. Contoh, seseorang yang tidak bisa mendengar dengan jelas, berarti ada halangan di telinganya; Orang yang tidak bisa melihat dengan jelas, berarti ada halangan di matanya; Orang yang tidak bisa berbicara dengan jelas, berarti memiliki halangan bahasa. Master sudah membahas halangan dan halangan buah karma buruk kepada kalian selama bertahun-tahun, hari ini coba kalian pikirkan baik-baik, apakah ini adalah buah karma buruk dalam kehidupan kita. Apakah halangan intelektual? Itu adalah halangan dalam kecerdasan, yakni ada halangan dalam kemampuan intelektualnya. Oleh karena itu, asalkan ada halangan-halangan ini, misalnya kamu merasa bingung dan tidak jelas, maka kamu akan mulai merasa risau, selain itu tidak mampu memahami prinsip kebenaran dengan baik.

Selanjutnya, Master akan membahas, apakah halangan dalam perilaku kita? Halangan dalam perilaku adalah membunuh, mencuri, dan berbuat asusila – berzina. Jika hari ini kamu membunuh hewan-hewan yang tidak seharusnya dibunuh, mencuri barang milik orang lain, semua ini juga termasuk sebagai halangan intelektual dalam aspek perilaku. Apabila kamu mencuri dari orang lain dalam segi bahasa, itu termasuk dosa pelanggaran dalam berbahasa. Misalnya, orang lain memberi tahu kamu hal ini, lalu kamu memberitahukannya kepada orang yang satunya lagi, akan tetapi saat kamu memberi tahu orang lain, kamu “mencuri” perkataan orang yang semula (tidak menyampaikannya secara menyeluruh), hanya mengartikan sebagian maksud orang lain dan mengartikannya secara salah, maka termasuk “mencuri”, pencurian dalam bahasa juga merupakan dosa pelanggaran. Apakah kalian mengerti? Oleh karena itu, saat “pemikiran-pemikiran yang tidak lancar” ini muncul, maka sesungguhnya kamu sudah melanggar sila. Apakah yang dimaksud dengan pemikiran yang tidak lancar? Yakni pemikiran-pemikiran yang di luar batas kewajaran. Contohnya, sudah jelas kamu tidak mampu melakukan hal ini, namun kamu bersikeras melakukannya. Asalkan kamu bersikeras melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran atau hal-hal yang tidak rasional, berarti kamu telah melanggar sila. Apakah kalian mengerti? Melihat orang lain punya uang, lalu sendiri pun turut ingin punya uang, kemudian berpikir, saya harus bagaimana supaya bisa jadi kaya? Kemudian mulai muncul pemikiran-pemikiran yang tidak wajar, maka orang ini sudah melanggar sila. Membunuh – mencuri – berbuat asusila, semua ini adalah halangan dalam aspek perilaku, yakni yang Master katakan sebagai halangan balasan karma. Saya membahas halangan balasan karma terlebih dahulu. Halangan balasan karma muncul karena kamu melakukan pembunuhan, pencurian, dan perbuatan asusila, maka kamu baru bisa mendapatkan balasan karma. Apakah kamu akan mendapatkan balasan karma jika membunuh orang? Apakah kamu akan mendapatkan balasan karma jika mencuri? Apakah kamu akan mendapatkan balasan karma jika melakukan perbuatan asusila? Jangankan hanya dengan memiliki pemikiran untuk melakukan perbuatan asusila di dunia ini, bahkan tubuh pun akan memberimu ganjarannya. Dulu ada banyak sekali raja yang sepanjang hari melakukan hubungan intim pria – wanita, sampai pada akhirnya tubuhnya menjadi lemah dan mati muda, bukankah ini adalah bentuk balasan karma? Inilah halangan balasan karma. Halangan dan buah karma buruk ini termasuk halangan balasan karma.

Selanjutnya Master akan membahas tentang halangan karma buruk, yakni yang baru saja saya katakan tadi, ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Apakah “ketamakan, kebencian, dan kebodohan” itu? Menginginkan atau mengambil hal-hal yang tidak seharusnya; Memiliki kebencian, membenci orang lain; melakukan kebodohan, sesuatu yang sudah jelas tidak seharusnya kamu miliki, namun kamu bersikeras untuk mendapatkannya, itulah balasan karma. Apakah balasan karma? Misalnya, hari ini saya menginginkan hal ini namun tidak berhasil, maka selanjutnya balasan karma akan datang. Apakah balasan karma ini? Yakni ketika dirimu tidak mendapatkannya, maka kamu akan marah, benar tidak? Setelah kamu marah, maka kamu akan bersusah hati, kemudian mempersulit diri sendiri, lalu menjadi semakin sedih, inilah balasan karmamu. Benci, yaitu membenci orang lain, semakin membenci orang lain, maka semakin besar balasan karmamu, karena membenci orang lain sesungguhnya adalah suatu “efek pantul”. Ketika kamu membenci orang lain, berarti menciptakan satu faktor yang tidak menguntungkan bagi diri sendiri, membuat dirimu terjerumus ke dalam suatu “kubangan lumpur”, lalu kamu tidak bisa keluar darinya. Karena saat kamu membenci orang lain, tubuhmu akan tidak sehat, akan terjadi perubahan patologis pada sistem peredaran darahmu, staminamu akan menurun dan merasa lesu, kemudian akan menciptakan suatu alasan bagi orang lain untuk menyerangmu. Jika kamu membenci orang lain maka kamu akan dibenci orang lain. Membenci orang lain pasti akan ada balasan karmanya, karena di dalam alam kesadaran alaya kamu akan terlahir suatu racun yang sangat tidak baik, yang bisa menyakiti tubuhmu, dan bisa menyakiti jiwamu. Oleh karena itu, orang yang sering marah dan membenci orang lain, tubuh orang ini tidak akan sehat, karir orang ini tidak akan lancar; Maka asalkan melakukan karma ini, sesungguhnya ia akan menjadi sebuah titik hitam. Apakah kalian mengerti? Misalnya, hari ini kamu tamak, begitu kamu tamak, maka “ia” akan masuk ke dalam kesadaran alaya kamu; Begitu muncul kebencian, ia akan masuk ke dalam alam kesadaran alaya kamu, benar tidak? Kamu melakukan kebodohan, melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan, dan hal ini kembali masuk ke dalam alam kesadaran alaya kamu. Jika bintik-bintik kegelapan yang tidak baik ini semakin banyak terkumpul dalam dirimu, maka sampai pada akhirnya, balasan karmanya akan tiba – lalu kamu akan jatuh ke Neraka. Ini sangat serius, saya tidak bercanda dengan kalian. Akan tetapi jika kamu memperbaiki dirimu, maka semua ini pelan-pelan akan “memudar”, seperti sebuah bekas luka pada tubuh seseorang, yang akan pelan-pelan memudar. Namun jika bekas lukamu ini belum sembuh, lalu kamu terus mengoreknya, maka maaf saja, bekas lukamu tidak akan sembuh, terakhir malah akan meradang. Mengerti?

Apabila tidak mau memperbaiki kekurangan diri sendiri, maka pasti akan turun ke tiga alam penderitaan, Master yang memberi tahu kalian tentang ini. Kalian harus ingat, tiga alam bawah adalah amat sangat menyedihkan. Tiga alam bawah ini adalah Alam Binatang, Alam Peta, Alam Neraka, ketiga alam ini sangat tragis sekali. Jika orang ini tidak menjadi orang baik, sekarang sudah menekuni Dharma namun sepanjang waktu masih mengatakan keburukan, selalu mengatakan kejelekan orang lain, mengatakan yang ini tidak baik, yang itu tidak baik, maka dia pasti akan turun ke tiga alam bawah. Selain itu, jika sudah turun ke tiga alam ini, sangat sulit untuk keluar lagi. Apakah kalian mengerti? Setiap gerak-gerik kita para praktisi Buddhis harus sangat hati-hati, mengapa? Karena jika kamu tidak berhati-hati dalam setiap tingkah lakumu, maka kamu akan menciptakan karma buruk yang baru. Misalnya, hari ini di dalam Guan Yin Tang, semua orang mengatakan kata-kata mutiara Buddhis. Saat Master sedang memberikan wejangan di sini, jika ada salah satu orang yang memikirkan hal-hal yang tidak baik di dalam pikirannya, atau salah mengatakan kata-kata yang buruk tentang Buddha dan Bodhisattva, atau berperilaku tidak hormat terhadap Buddha dan Bodhisattva, maka sesungguhnya dalam kesadaranmu sudah tersimpan suatu bencana. Apakah kalian mengerti? Oleh karena itu, orang yang sudah menekuni Dharma secara mendalam, bahkan tidak berani lagi melakukan atau bertindak apapun, makanya seorang biksu harus menaati lebih dari 200 sila, sedangkan biksuni harus menaati lebih dari 300 sila. Coba kalian pikirkan saja, bahkan bergerak pun tidak berani, itulah mengapa para biksu dan biksuni ini saat bertemu dengan orang lain hanya mengatakan “Amituofo”, mereka tidak berani menunjukkan raut wajah apapun, karena takut melanggar sila.

Hari ini Master akan mengajarkan kalian beberapa cara melafalkan paritta yang terbaru, yakni saat melafalkan paritta harus dengan hati yang tulus, yang paling penting adalah ketulusan hati. Master hari ini khusus bertanya kepada Bodhisattva. Melafalkan paritta harus benar-benar tulus, yakni niat dalam hatimu harus benar-benar tulus. Bukan hanya kelihatannya saja tulus, melainkan niatmu juga harus tulus. Hari ini saya mau melakukan hal ini harus dengan segenap hati dan pikiran, hati saya benar-benar tulus, tekad saya benar-benar teguh, kemudian harus melafalkan paritta dengan welas asih, harus ada welas asih di hati. Saat seseorang melafalkan paritta dengan welas asih, dia bisa menangis, sesungguhnya ini adalah perwujudan dari akar kebaikannya. Karena ada akar yang baik tertanam di hatinya, maka dia baru bisa menangis. Akan tetapi menekuni Dharma sampai nantinya, juga tidak boleh sering menangis, karena menangis juga bisa mendatangkan halangan iblis bagimu. Apakah kalian tahu ada yang disebut dengan “iblis menangis”? Jika orang ini sepanjang hari berwajah murung, sepanjang waktu cengeng dan menangis, berarti orang ini sudah dirasuki iblis, ini namanya “iblis menangis”. Sekian tahun kalian menekuni Dharma masih belum pernah mendengarkan ini, bukan? Master beri tahu kalian, harus ingat, harus mengendalikan iblis menangis dalam hati diri sendiri. “Iblis menagis” juga disebut sebagai “iblis kesedihan”, jika iblis kesedihan selalu berada di tubuhmu, maka orang ini akan selamanya bersedih, terus-menerus merasa tidak senang, begitu menghadapi masalah, dia akan terlebih dahulu merasa sedih. Oleh karena itu, kita tidak boleh terlalu bersedih. Saat melihat welas asih Guan Shi Yin Pu Sa, kita boleh saja merasa terharu, akan tetapi tidak boleh setiap kali merasa sangat sedih, mengerti? Welas asih harus merasakan kesenduan dalam hati, namun tidak boleh sering ditunjukkan keluar, kalau tidak akan membuatmu dihampiri iblis kesedihan. Saat merasa senang juga tidak boleh kelewat batas. Jika hari ini merasa sangat senang, hal ini dilakukan dengan sangat senang, aiya, terus merasa gembira, terus merasa senang … Apakah kalian pernah mendengar satu pepatah? Yang berbunyi, “Kebahagiaan yang berlebihan akan melahirkan kesedihan”. Saat kamu terus-menerus merasa senang, maka kamu akan mengundang suatu iblis yang bernama “iblis kesenangan”. Aduh, jadi orang benar-benar susah sekali, sedih juga tidak boleh, senang juga tidak bisa. Karena saat kamu terus merasa senang, maka akan ada banyak halangan iblis yang datang mengusikmu, dia akan datang ke tubuhmu dan membuatmu tidak bisa berhenti tertawa. Apakah kalian pernah mendengar orang lain mengatakannya? Ada sebagian orang yang tertawa sampai pada akhirnya tidak bisa berhenti, tertawa terus seperti orang gila. Apakah kalian pernah melihat film {Lei Yu – Hujan Berpetir}? Salah satu tokoh di dalamnya yang bernama Fan Yi, apa yang terjadi padanya? Sesungguhnya dia sudah kerasukan iblis kesenangan. Dia terus tertawa “Ha ha ha …”, sampai pada akhirnya kehilangan kendali, karena iblis telah merasuki dirinya, membuatnya terus tertawa dan tertawa. Sesungguhnya tawa seperti ini sudah bukan tawa yang wajar, ini yang dinamakan sebagai iblis kesenangan. Mengapa kita orang Tiongkok harus belajar mengambil jalan tengah? Saat bersedih pun harus ada batasnya, dinamakan “jie ai shun bian – menahan kesedihanmu”, benar tidak? Apakah yang disebut dengan “jie ai”? Di sini berarti harus bisa mengendalikan kesedihanmu, lalu mengikuti perubahan alami ini dan jangan terlalu bersedih. Tertawa juga tidak boleh berlebihan. Yang ditekankan di sini adalah “jalan tengah”. Dalam mempelajari apapun tidak boleh berlebihan, saat bersedih juga tidak boleh berlebihan, senang pun tidak boleh berlebihan. Banyak orang yang terlalu senang pada akhirnya malah meninggal. Kalian tahu, ada banyak orang lanjut usia yang bermain mahjong sampai akhirnya meninggal, apakah kalian pernah mendengarnya? Bermain sampai akhirnya merasa senang, mendapatkan seri kartu “hai di lao yue”, atau “da hu” (kartu yang bagus sekali), lalu tertawa ha ha ha, lalu “bang” tiba-tiba terkena stroke. Ini berarti iblis kesenangan sudah merasuki dirinya. 

Saat melafalkan paritta, kita tidak boleh terlalu bersemangat. Banyak orang mengatakan, saya melafalkan paritta dengan bersemangat, begitu melafalkan paritta saya langsung bersemangat. Saat bersemangat, maka mata jadi terbuka sangat lebar, lalu menggunakan energi chi terlalu banyak, kemudian terus-menerus melafalkannya, dengan begitu, bisa menyebabkan “api hati” naik – panas dalam, akhirnya melafal sampai bibirnya sariawan, hatinya menjadi tidak tenang, itu berarti “api” di hatinya terlalu besar. Mengertikah? Oleh karena itu, hal-hal yang Master katakan, kalian harus mengingatnya baik-baik, yang Master katakan ini benar-benar adalah hal-hal penting. Saat melafalkan paritta, jika mata terbuka lebar-lebar, lalu dalam hati berpikir, “Aduh, seluruh tubuh saya sangat berenergi”, sesungguhnya ini juga akan menyimpang. Saat melafalkan paritta cukup sewajarnya. Kita harus meneladani Bodhisattva, saat melafalkan paritta, mata terbuka 30%, tertutup 70%. Kalian lihat mata Bodhisattva selamanya terbuka 30% dan tertutup 70%. Oleh karena itu, saat melafalkan paritta, kita harus mengendalikan dengan baik “api hati” diri sendiri, jangan biarkan ia menyakiti diri kita. Selain itu, saya beri tahu, jangan melafalkan paritta dengan suara keras, juga jangan terlalu kuat. Apabila kamu melafalkan paritta dengan suara terlalu keras, terlalu kuat, ini sangat melukai energi chi kamu, maka melafalkan paritta seharian bisa membuat dirimu menjadi tidak bertenaga, karena energi chi kamu keluar terlalu banyak. Contoh sederhana, jika kamu berbicara dari pagi sampai malam, bukankah akan melukai staminamu – merasa lelah. Melafalkan paritta benar ada tekniknya. Harus ada suaranya, namun jangan sampai terdengar. Harus bisa mengeluarkan suara dari hati diri sendiri, namun suara ini tidak boleh terlalu kuat. Saat melafalkan paritta, sebaiknya mulut saja yang bergerak, namun suaranya kecil saja, ini sesungguhnya adalah cara pelafalan paritta yang paling bagus. Hari ini Master mengajarkan kalian cara melafalkan paritta, sesungguhnya saat kalian melafalkan paritta harus memperhatikan caranya. Karena banyak orang terlalu terburu-buru, saat memohon kepada Bodhisattva, karena dia merasa keluarganya sedang bermasalah, maka pada saat itu dia sekuat tenaga melafalkan paritta. Master meminta kalian sekuat tenaga melafalkan paritta, bukan berarti mengeluarkan seluruh energi kalian dalam melafalkan paritta, namun meminta kalian untuk melafalkan paritta lebih banyak, seperti melafalkan 1 kali, 2 kali, 3 kali … 49 kali … 108 kali … ini yang dimaksud melafalkan sekuat tenaga, bukan melafalkannya dengan suara lantang. Apakah kalian mengerti?

Masih ada satu lagi cara melafalkan paritta, ingatlah baik-baik, banyak orang suka melafalkan paritta menggunakan tasbih Buddha. Benar tidak? Melafalkan paritta menggunakan tasbih Buddha ada kebaikan dan kekurangannya. Saat kamu tidak bisa menenangkan pikiran, maka kamu boleh menggunakan tasbih Buddha saat melafalkan paritta, melafalkannya satu demi satu. Namun dari sisi yang lain, jika kamu ingin melafalkan paritta sembari bermeditasi, atau saat kamu  ingin bersemadi, atau saat kamu ingin melakukan retret tertutup, maka saat tanganmu bergerak, hatimu akan turut tergerak, semakin banyak tanganmu bergerak, maka hatimu semakin tidak karuan, semakin tidak bisa tenang. Sesungguhnya, jika suatu saat nanti kamu sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual yang tinggi dan sangat tenang, maka mutiara tasbih Buddha pun tidak digerakkan lagi. Mengerti? Kamu harus bisa memasuki tingkat kesadaran ini, setelah memasuki keadaan yang tenang ini, bahkan mutiara tasbih pun jangan digerakkan, maka hatimu tidak akan tergerak. Coba kalian pikirkan, saat tanganmu bergerak, apakah hatimu bergerak? Siapa yang mengendalikan tangan? Ia dikendalikan oleh hatimu. Lalu siapa yang mengendalikan hati?  Otak yang mengendalikannya, benar tidak? Begitu tangan bergerak, hati itu tergerak, maka otak besar ikut tergerak, lalu menurut kamu, bagaimana mungkin hatimu bisa tenang? Kesadaran merujuk pada otak besar, hati merujuk pada jantung, begitu hati dan otak besarmu bergerak, tanganmu pun ikut bergerak, oleh karena itu, orang-orang mengatakan “lebih baik ada tindakan langsung daripada hati yang tergerak saja”, inilah logikanya. Oleh karena itu, orang yang benar-benar baik pembinaan dirinya, dia bahkan tidak akan menggunakan tasbih mutiara Buddha. Jika kamu masih menggunakan tasbih Buddha, berarti pembinaan dirimu masih belum cukup bagus. Karena kamu ingin menggunakan suatu benda pusaka untuk mengendalikan suatu pemikiran diri sendiri, untuk mencapai tujuanmu, sesungguhnya sangat sulit. Apakah kalian mengerti? Barusan saya membahas bahwa orang yang menggerakkan tasbih Buddha, maka hatinya pun akan tergerak, jika waktu pergerakkan ini semakin lama, maka orang ini akan jatuh sakit. Kalian belum pernah mendengarnya bukan? Jika tasbih Buddha digerakkan terlalu cepat, bisa membuat seseorang jatuh sakit. Saya beri tahu kalian, bahkan memiliki pikiran seperti ini pun tidak boleh, dengan kata lain, saat hati menginginkan ketenangan, maka bahkan berpikir pun tidak, hati ini baru bisa tenang. Jika tanganmu selalu melakukan satu gerakan, maka sesungguhnya hatimu tidak akan bisa tenang. Kalian pernah menonton dalam film, ketika seseorang sedang berpikir, atau saat berpikiran buntu, maka tangannya dengan sendirinya akan bergerak memukul-mukul sesuatu atau gemetaran, atau mungkin menyilangkan kaki, atau melakukan suatu gerakan tertentu, maka sesungguhnya hatinya sedang bergejolak. Apakah kalian mengerti? Sesungguhnya adalah hatinya tidak bisa tenang. Makanya ada banyak bos saat mewawancarai pekerjanya, saat kamu duduk di depan bos, apakah kamu bisa duduk tenang atau tidak, dia bisa langsung mengetahui kemampuan pengendalian dirimu. Jika di hadapan bos, sebentar-sebentar menggoyang-goyangkan kaki, sebentar-sebentar menggerak-gerakkan tangan, maka orang ini sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri. Sekarang kalian duduk di bawah mendengarkan pengajaran Master, kalian tidak bergerak-gerak, berarti orang ini memiliki kemampuan mengendalikan diri. Jika bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, tubuh dan matanya melihat dan bergerak sembarangan, berarti orang ini tidak memiliki kemampuan mengendalikan diri, ini tandanya akar pembinaannya tidak bagus.