25. Halangan Karma Buruk Tidak Bisa Menutupi Sifat Dasar, Awan Hitam Tidak Akan Bisa Menutupi Matahari
Dalam Sutra Vajra, ada satu kalimat yang berbunyi: “Berdana tanpa kemelekatan rupa”. Contoh: ada orang yang menyumbangkan uang sebesar 3.000 Yuan, setelah menyumbang, nama yang tertulis adalah “XXX” (anonim). Sewaktu teman berkunjung ke rumahnya, dia menunjukkan koran ke temannya. “Coba kamu lihat, 3.000 Yuan, disumbangkan oleh anonim. Itu sebenarnya saya.” Coba kamu lihat, orang ini berpikir untuk belajar berdana tanpa kemelekatan rupa, namun terakhir dia masih menyebut namanya sendiri. Ini namanya masih berdana dengan kemelekatan rupa. Semua orang memiliki kemelekatan rupa. Contohnya, kamu memberikan sekuntum bunga kepada seorang teman, pada kertas pesan tertulis “Orang yang mencintaimu”, sesungguhnya orang ini ketika melihat, sudah tahu siapa yang pengirimnya. Orang yang memberi bunga tidak melekat pada rupa, sedangkan orang yang diberi bunga masih melekat pada rupa. Ajaran Buddha Dharma bersifat dialektis (melihat suatu masalah dengan pandangan yang menyeluruh / dari 2 sisi yang berlawanan). Apabila kalian menekuni Ajaran Buddha Dharma dengan baik, maka kalian pasti mampu menerapkannya secara mahir dan santai dalam kehidupan nyata. Berdana tanpa kemelekatan rupa merupakan semangat welas asih dengan keberanian yang luar biasa (tiada ketakutan). Kalian harus ingat, welas asih dengan keberanian yang luar biasa, berarti mampu mengorbankan segalanya, ini adalah berdana tanpa kemelekatan rupa. Contoh jika hari ini saya menyumbangkan uang, maka saya tidak akan meninggalkan nama atas kebaikan ini.
Setiap kali Master berdana ke kuil, Master tidak pernah meninggalkan nama di buku catatan jasa kebajikan. Ketika meninggalkan nama, ini menjadi berdana dengan kemelekatan rupa, maka jasa kebajikan akan berkurang banyak sekali. Contoh: guru bertanya: “Hari ini siapa yang telah menyapu kelas dengan bersih? Siapa yang menghapus papan tulis dengan bersih?” Tidak ada yang berbicara. Guru lanjut berbicara: “Anak ini baik sekali! Terima kasih ya, saya sangat berterima kasih kepadanya.” “Guru, saya yang menyekanya. Bagus tidak?” “Bagus sekali!” Namun setelah diberitahu, maka jasa kebajikan sudah hilang. Oleh karena itu, setelah melakukan jasa kebajikan, setelah melakukan perbuatan baik, jangan melekat pada rupa luar. Dalam Sutra Amitaba, ada seorang Bodhisattva “Chang Jing Jin Pu Sa”. Tahukah kalian mengapa bernama “Chang Jing Jin Pu Sa”? Chang Jing Jin Pu Sa demi menyelamatkan kesadaran spiritual satu orang, Beliau bereinkarnasi berkali-kali, terus mengikutinya dan berusaha menyadarkannya. Di kehidupan ini tidak bisa menyadarkannya, maka di kehidupan selanjutnya, Bodhisattva kembali mengikuti dan menyelamatkannya. Jika masih belum bisa menyelamatkan dia menjadi Buddha, maka di kehidupan selanjutnya kembali mengikuti dia lagi. Ini baru dinamakan Chang Jing Jin Pu Sa. Chang Jing Jin Pu Sa adalah seorang Bodhisattva yang sangat berani dan sangat bijaksana. Sebagai Bodhisattva, harus memiliki semangat seperti ini, harus terus menolong orang-orang, harus memiliki keyakinan, hal yang belum dilakukan dengan baik di hari ini, besok dicoba kembali, terus sampai berhasil mencapai tujuan, ini baru dinamakan giat mengembangkan diri. Diantara kalian siapa yang seperti ini?
Master beri tahu kalian, uang di dunia ini tidak akan ada habisnya dicari, akan tetapi hidup ini sangat singkat. Harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membina pikiran, sedangkan hal-hal duniawi lainnya bisa dilepaskan untuk sementara waktu. Renungkanlah, sejaya apapun masa lalu seseorang, namun sekarang semua sudah tidak ada lagi. Apabila dulu tidak memiliki jabatan apapun, hanya baik-baik melafalkan paritta, terus sampai saat ini, maka kamu tidak akan menderita ketika meninggal. Karena kamu tidak memiliki kerisauan dan kekhawatiran, tidak memiliki ganjalan di hati, tidak ada yang tidak direlakan. Meninggal tanpa sakit juga tidak mudah, ini semua mengandalkan pada jasa kebajikan dan kekuatan dalam sehari-hari. Master lihat kalian juga tidak mudah. Setiap murid pasti bisa melakukan kesalahan, namun juga melakukan hal-hal baik. Master mengkritik kekurangan kalian, sesungguhnya untuk melatih kemampuan kalian dalam pengendalian diri. Bila kamu bisa mencapai kesadaran spiritual yang mampu menerima cercaan orang lain, maka kamu baru bisa melatih kepandaian emosional seperti ini. Kalian harus ingat: belajar mengendalikan diri sendiri, biarkan lingkungan yang mengasah diri kalian. Lingkungan yang tidak baik paling bagus untuk melatih seseorang. Semakin tidak bagus dan semakin tidak senang, saya malah harus bisa merasa semakin senang, maka pihak lain akan tidak senang atau marah. Kamu semakin merasa tidak senang, maka pihak lain akan menjadi semakin senang. Ini adalah kesadaran spiritual praktisi Buddhis di tahap awal.
Orang yang menyadari sifat dasar. Untuk mengetahui apakah orang ini adalah orang yang menyadari sifat dasarnya, dilihat dari apakah orang ini bersedia menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk. Seseorang yang mampu menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk disebut orang yang tersadarkan. Jika hanya tinggal di dalam gunung, itu adalah orang yang tidak tersadarkan. Siapa yang tinggal di gunung? Ini berarti membina diri sendiri, mengunci diri sendiri di atas gunung, hanya tahu membina diri sendiri, orang-orang ini adalah orang yang tidak tersadarkan. Melatih diri sendiri hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri, akan sangat sulit untuk menyadari sifat Kebuddhaan. Hanya pada saat menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk, kamu baru bisa memperoleh lebih banyak kebijaksanaan untuk menyempurnakan jiwamu. Apabila kamu tidak mendapatkan banyak kebijaksanaan dari diri orang lain, maka orang seperti dirimu ini tidak akan sukses. Contoh: jika kamu berinteraksi dengan banyak orang, maka kamu baru bisa mempelajari banyak kemampuan; jika kamu tidak berinteraksi dengan orang lain, dari kecil hanya terkurung di atas gunung, maka pada akhirnya kamu hanyalah orang yang tidak memiliki kebijaksanaan, karena kamu tidak pernah menghadapi keadaan apapun. Oleh karena itu, kamu adalah orang yang tidak tahu apa-apa, memangnya kamu bisa pergi ke mana? Mengerti?
Orang yang tersadarkan harus menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk. Ketika seseorang belum terbuka kesadarannya, maka semua perkataannya, dan segala hal yang dilakukannya, hampir tidak ada satupun yang benar. Kalimat yang Master katakan ini, mungkin kalian tidak bisa memahaminya. Memangnya orang yang belum tersadarkan, sama sekali tidak ada satupun yang benar? Apa maksudnya “sama sekali tidak ada satupun yang benar?” Berarti tidak ada satupun yang benar darinya. Kita hidup di dunia ini, ketika kamu belum menekuni dan mempraktikkan Dharma, maka itu dinamakan “sama sekali tidak ada satupun yang benar?” – karena kamu tidak memahami segalanya dan melakukan kesalahan dalam segala hal. Mengira bertengkar dengan orang lain itu benar, merasa mengajukan sengketa melalui pengadilan itu benar. Jelas-jelas sudah sakit, namun sendiri masih tidak tahu mengapa bisa sakit? Orang-orang yang hidup di dunia ini dan tidak memahami apapun, itu disebut sebagai “sama sekali tidak ada satupun yang benar?”, yang berarti orang yang tidak tersadarkan. Orang zaman sekarang begitu kikirnya sampai memberi senyum kepada orang lain saja tidak mau. Sekarang ada berapa banyak orang yang bersedia menyumbangkan senyumannya? Semua berwajah galak sekali.
Sewaktu seseorang sudah memiliki kesadaran spiritual, berarti dia sudah memahami dunia ini, dia sudah memahami hukum karma. Akan tetapi ada sebagian orang yang hanya memahami sedikit kebenaran Dharma, dia sudah melihat kebenaran, maka dia merasa sudah tidak perlu melakukan apapun, sikap seperti ini yang dinamakan bersifat pasif. Dia mengira: “Diri sendiri sudah tersadarkan, tidak mau melakukan apapun lagi. Dia sendiri sudah memahami prinsip, ternyata hidup ini begitu menderita.” Karena dia sudah melihat sifat dasar, ternyata sifat dasar seperti ini, namun dia tidak memiliki jasa untuk didanakan. Dengan kata lain, setelah dia melihat sifat dasar, namun dia tidak melakukan jasa kebajikan. Ini berarti dia berdana dengan kemelekatan rupa. Setelah melihat sifat dasarnya, dia merasa ternyata manusia hidup di dunia ini begitu menderita, lagipula semuanya tetap akan mati, maka tetap sama saja seperti orang lain, makan, minum dan menikmati hidup. Ini dinamakan berdana dengan kemelekatan rupa, berarti sifat dasar belum bersih. Sewaktu sifat dasar seseorang belum bersih, meski naik ke Alam Surga dan menikmati kebahagiaan pun hanya untuk sementara waktu. Ketika sifat dasar seseorang belum bersih, maka sekalipun terlahir di Alam Surga, namun hanya bersifat sementara. Saat seseorang belum bertekad untuk menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk sampai melupakan hidup dan matinya sendiri, meskipun hari ini telah melakukan satu hal yang baik, namun kebahagiaan itu juga hanya bersifat sementara. Ini berarti tersadarkan secara terbatas, atau bisa disebut sebagai menyadari namun belum tersadarkan. Seperti sebuah anak panah yang ditembak bebas ke langit, bukankah anak panah itu akan mengarah ke atas? Akan tetapi setelah kekuatan, jarak dan energinya habis terpakai, maka anak panah itu akan jatuh dari langit. Karena dia tidak memiliki kekuatan akhir, dia tidak memahami sifat dasar yang sesungguhnya. Oleh karena itu, begitu berkah pahala surgawi habis dinikmati, dia tetap akan kembali terlahir sebagai manusia di Alam Manusia, dan ketika sudah terlahir kembali, dia sudah tidak tahu apapun. Walau kamu memegang busur ini, namun yang kamu tembakkan sesungguhnya adalah sesuatu yang kosong, bukan yang nyata. Yang kamu pelajari dan lakukan di dunia ini semuanya kosong, karena kamu hidup di dunia yang palsu. Sifat dasar Kebuddhaan, sifat dasar manusia yang sesungguhnya bagaikan matahari. Sedangkan dosa karmamu bagaikan awan hitam di langit, awan hitam bisa menutupi matahari. Matahari adalah sifat dasarmu, setelah awan hitam berlalu, maka sifat dasarmu akan muncul kembali. Terkadang manusia sangat baik hati, ini bagaikan cahaya mentari. Ketika seseorang dipenuhi dengan dendam dan kebencian, berarti awan hitam telah menutupi sifat dasarnya. Ketika suami istri bertengkar, mereka saling membenci, keduanya secara fisik bisa saling pukul. Namun sewaktu melihat pasangannya dipukul sampai berdarah, maka hatinya seketika itu juga merasa sedih. Ini berarti awan hitam sudah berlalu, sifat dasarmu kembali muncul dan keluar.
Membina pikiran dan membina sifat Kebuddhaan, sampai hari ini baru memahami pentingnya bertobat, baru paham untuk meminta maaf. Manusia harus memahami bahwa, orang lain membantumu adalah demi kebaikanmu, sesungguhnya ini adalah suatu kebahagiaan. Beberapa hal yang dilakukan orang lain sesungguhnya bertujuan untuk membantumu. Dengan berpikir demikian, kamu akan merasa sangat senang. Awan menutupi matahari, namun sesungguhnya apakah awan pernah menutupi matahari? Jika kita melihat ke langit dari bumi, sepertinya awan menutupi matahari, ini karena tempat di mana kita berdiri dan dari sudut pandang kita, sepertinya awan menutupi matahari. Namun jika kamu berdiri di tempat lain, dan melihat dari sudut pandang lain, apakah matahari ditutupi oleh awan? Di dunia ini kita sering mendengar perkataan, “Keluar dari bayangan kegelapan”, keluar dari hal-hal yang tidak ingin kamu pikirkan, keluar dari hal-hal yang membuatmu sedih, buka pintu hatimu. Ini semua adalah perkataan Bodhisattva, semua adalah kata-kata bijaksana. Ketika seseorang menghadapi kesulitan, atau saat tidak bisa berpikiran terbuka, maka ini berarti awan menutupi matahari di hatimu. Namun jika dilihat dari sisi lain, matahari tetap bersinar terang.
Ingatlah: pandangan (pendapat) yang berbeda, menyelesaikan masalah yang berbeda; Arah yang berbeda, melihat masalah yang berbeda. Kata-kata Master ini semuanya adalah kata-kata bijaksana dari Bodhisattva, mengapa kita tidak terapkan di dunia? Seperti saat kamu ingin menghubungi seseorang, kamu bisa menelepon, juga bisa mengirimkan e-mail. Ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah, namun jika kamu terlalu terpaku pada masalah tersebut, tidak bisa berpikiran terbuka, maka inilah yang dinamakan sebagai manusia, hanya manusia biasa yang akan berpikiran buntu. Bodhisattva dan Dewa selalu memiliki cara penyelesaian, selamanya bisa bepikiran terbuka. Walaupun hari ini menghadapi masalah sesulit dan sesusah apapun, seperti mengidap kanker, asalkan berpikir kalau Guan Shi Yin Pu Sa pasti akan menolong saya, doa saya akan dijawab, maka walaupun kanker kamu sulit disembuhkan, tetap bisa sembuh. Terkadang hidup di dunia ini harus seperti setengah bermimpi dan setengah sadar, terkadang tidak perlu memahaminya, karena pemahamanmu di alam dharma yang kosong ini juga merupakan sesuatu yang palsu. Akan tetapi terkadang juga perlu sangat memahaminya, menggunakan kesadaran spiritual Bodhisattva untuk memahami permasalahan duniawi. Harus bisa memahami semua hal-hal yang baik, jangan memahami hal-hal yang tidak baik. Karena jika kamu memahami hal-hal buruk, maka itu akan melukaimu; Dengan memahami hal-hal baik, itu akan membawa kebahagiaan bagimu. Kalau begitu, mana sebenarnya yang lebih kamu suka, kebahagiaan atau luka? Yang Master berikan kepada kalian adalah kata-kata bijaksana yang begitu bagusnya.
Terakhir, yang ingin Master katakan kepada kalian, sifat dasar merupakan puluhan ribu moral dan puluhan ribu energi. Sifat dasar seseorang mengandung sepuluh ribu moral, dan sepuluh ribu macam kekuatan. Di India ada Sungai Gangga, Buddha Sakyamuni sering mengatakannya (menyebutnya) di banyak sutra “Sebanyak pasir di Sungai Gangga”. Dengan kata lain, jika kamu mampu menggunakan sifat dasar dengan baik, jika kamu menggunakan sifat dasar yang paling semula, maka kamu akan memiliki kebijaksanaan yang tiada habisnya sebanyak pasir di Sungai Gangga – yang tak terhitung jumlahnya. Sayangnya sifat dasar ini sudah terselubungi, maka dia menjadi kotor, dan tidak kelihatan. Jika kamu mampu menggunakan kekuatan ini secara maksimal, maka pasti bisa mengubah segala hal yang dilakukan, sama sekali tidak perlu khawatir akan terkena penyakit kritis. Tangan dan otak manusia sama terampilnya, bisa melakukan sulap. Kita harus menggali keluar potensi diri sendiri, menyeka bersih jiwa sendiri. Jika tidak membersihkan jiwa sendiri, maka adalah orang bodoh. Seperti seorang bodoh yang tidak pernah belajar sejak kecil. Kalian harus ingat, dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma, harus mempelajari kebijaksanaan dan kemampuan duniawi. Sesungguhnya kata-kata Bodhisattva paling bagus digunakan di dunia, seusai didengar bagaikan mandi di bawah cahaya mentari dari Ajaran Buddha Dharma. Sungguh bagusnya. Lalu apakah kamu masih marah? Masih bersedih?
