22. Melepaskan Kerisauan Duniawi, Memusatkan Diri Pada Pembinaan Di Dunia
Apabila sepanjang hari hanya merekatkan nama Buddha dan Bodhisattva di mulut, namun tidak dengan serius memahami dan mempraktikkannya, maka jasa kebajikan dia hampir tidak ada. Oleh karena itu, harus memahami dan mempraktikkannya. Apa yang dimaksud dengan praktik? Yaitu membina diri. Apa yang dimaksud dengan memahami? Yaitu membina pikiran. Jika seseorang tidak bisa memiliki pemahaman yang mendalam terhadap satu Pintu Dharma, tidak memiliki pemahaman dan menerapkan Ajaran Buddha Dharma yang paling mendasar sekalipun, maka orang ini tidak memiliki jasa kebajikan. Contoh, seseorang hampir terjatuh, jika kamu berdasarkan naluri alami dalam sekejap (karena belum pernah menekuni Dharma), dirimu tidak memiliki suatu perasaan welas asih yang merasakan kalau orang tua ini hampir terjatuh, melainkan hanya suatu gerak refleks memapahnya, maka kamu hanya melakukan satu perbuatan baik. Namun jika kamu merasa: “Aduh, apa yang akan terjadi jika orang tua ini terjatuh, saya seharusnya bagaimana untuk memapahnya. Dia sangat kasihan, dia seperti orang tua saya. Dia adalah Buddha masa lalu atau Buddha masa depan.” Jika kamu memiliki pemikiran seperti ini, ketika kesadaran spiritualmu meningkat, melakukan hal apapun, maka kamu sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual yang tinggi. Apabila kamu melakukannya dengan sepenuh hati, maka yang kamu dapatkan adalah balasan kejiwaan: Namun jika kamu hanya melakukan sesuatu dengan tampak luar, maka balasan yang kamu dapatkan juga hanya tampak luar saja. Kalian semua tahu, bahwa tidak ada satupun hal di dunia ini yang bisa diperoleh tanpa kerja keras, bila ingin mendapatkan secara cuma-cuma, itu tidak mungkin. Murid saya – Xiao Yu sekarang disebut sebagai guru oleh orang-orang, karena dia sudah menjawab begitu banyak pertanyaan. Mengapa dia bisa mengetahui begitu banyak hal? Karena dia setiap hari mengikuti Master dan bertanya. Yang dia pelajari dari Master sini, sesungguhnya sudah menjadi miliknya.
Jika hari ini kalian bisa menyerap apa yang didengarkan maka itu sudah milik kalian, sedangkan jika kalian memendam sendiri pelajaran yang didapatkan dan tidak menggunakannya, berarti tidak diterapkan ke dalam praktik. Hal-hal yang kalian pelajari dari Master sekarang ini adalah milik kalian sendiri. Kalian harus berlomba-lomba melakukan jasa kebajikan, dalam keseharian kalian harus lebih banyak melakukan jasa kebajikan, lebih banyak membantu orang lain, lebih banyak memberikan penjelasan. Jika kamu tidak menjelaskan atau menolong orang lain, maka yang kalian bina adalah Ajaran Buddha Hinayana. Karena pada zaman periode akhir Dharma, Ajaran Buddha Hinayana tidak bisa menolong orang – orang, juga tidak bisa menolong diri sendiri. Master mengatakan satu kalimat yang sangat jelas: Jika kalian dapat menerapkan apa yang Master ajarkan kepada kalian ke dalam kehidupan nyata, maka sesungguhnya itu sudah menjadi milikmu. Saya berharap kalian setiap orang bisa seperti Master dalam menolong makhluk hidup. Kalian setiap orang bisa mengatakan banyak prinsip kebenaran dalam kehidupan. Master ingin kalian berada di dalam kapal induk utama ini menolong orang-orang, menolong makhluk hidup. Jika tidak, kalian di dalam kapal kalian sendiri melihat begitu banyak orang di dalam air, setiap orang mengatakan: “Aduh, kasihan sekali, mohon Guan Shi Yin Pu Sa menolong mereka.”, namun dirimu sendiri tidak bergerak, Master ingin kalian sendiri mengulurkan tangan untuk menarik mereka. Jika setiap hari hanya duduk di situ melafalkan paritta, tanpa memahami prinsip kebenaran apapun, tidak melakukan apapun, hanya bisa melafalkan paritta untuk diri sendiri, selain itu tidak melafalkan dengan sungguh-sungguh, maka kamu pasti tidak akan mendapatkan keselamatan dari Bodhisattva. Harus memahami menolong diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, melafalkan paritta harus dilafalkan dengan kesungguhan hati.
Ketika kekuatan karma muncul, sewaktu ada halangan karma buruk di tubuh seseorang, maka pertama-tama harus menghilangkan halangan karma buruk tersebut terlebih dahulu. Setelah menghilangkan halangan karma buruk, kamu baru bisa membina pikiran dengan baik, kalau tidak kekuatan karma pasti akan mengacaukan dirimu, membuat pikiranmu tidak bisa tenang. Saat kekuatan karma berada di tubuh akan tidak stabil. Master akan beri satu contoh, maka kalian akan mengerti: ketika seseorang sedang merasa sangat risau, pikiran tidak bisa tenang, dalam hati berkata “Saya mau melafalkan paritta, saya mau melafalkan paritta.” Walaupun mulut sedang melafalkan paritta, namun dalam hati merasa sedih dan risau. Pada saat itu, pikirannya sama sekali tidak bisa tenang dan fokus, hanya ingin berdiri dan melakukan hal lain, saat itu diri sendiri tidak bisa mengendalikan pikiran sendiri. Ini yang dinamakan “tidak stabil”. Ini seperti ada sebagian orang karena ada sedikit masalah di rumah, maka walaupun dirinya duduk di sini, “Saya mau melafalkan paritta, saya mau melafalkan paritta”, namun yang ada di dalam pikirannya adalah masalah di rumah. Ini adalah kekuatan karma tidak stabil. Selanjutnya, dengan pikiran seperti apa kamu membina pikiran, maka itulah balasan (buah karma) yang akan didapatkan. Apabila kamu menggunakan hati yang sangat welas asih dalam membina pikiran, maka yang kamu dapatkan adalah balasan yang welas asih; Jika kamu menggunakan hati yang resah dan risau dalam membina pikiran, maka pikiran yang kamu bina juga akan resah dan tidak tenang. Mengertikah? Bagaimana cara supaya seseorang bisa menenangkan diri? Cara terbaik untuk menenangkan diri seseorang adalah dalam bersikap dan berperilaku selalu ingat bahwa kepuasan hati akan membawa kebahagiaan, akan tetapi ini hanya terhadap duniawi; Bagi seorang praktisi Buddhis yaitu pantang terhadap tiga racun: ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Ketika kamu terpikir, “Di dunia ini, saya sudah merasa puas terhadap segalanya, walaupun hal ini membuat saya merasa risau, akan tetapi bagi saya, ini sudah cukup bagus.” Pikiranmu akan menjadi tenang. Jika digali dari dalam hati, maka itu berarti pantang ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Karena ketika kamu sudah tidak tamak, maka kamu tidak akan memiliki kerisauan ini; Sewaktu kamu sudah tidak membenci orang lain, maka tidak akan ada kerisauan di dalam hatimu; Sewaktu dirimu sudah tidak bodoh lagi, tidak menginginkan sesuatu yang tidak dapat dimiliki, maka hatimu akan menjadi tenang. Apabila hatimu tidak bisa tenang, maka dirimu hanya bisa mengikuti kekurangan dan kerisauanmu terjerumus ke dalam tumimbal lahir enam alam. Contoh sederhana: seorang wanita yang menikah tiga kali, kenapa bisa menikah tiga kali? Apakah dia sendiri tidak memiliki kekurangan? Dia sendiri juga pasti memiliki kekurangan, pertama kali begini, kedua kali tetap begini, ketiga kali menikah lalu kembali bercerai, oleh karena itu dia sedang mengalami perputaran kembali. Dia kembali merasakan penderitaan yang dirasakan sebelumnya, kembali menyambut kesulitan yang sama, dia tidak mengenyam pelajaran di dalamnya, benar tidak? Yang paling menakutkan dari diri seseorang adalah tidak memiliki potensi kesadaran.
Seseorang yang tidak membina pikiran, bagaikan seorang lansia ketika memanjat lereng bukit, tangannya ingin menggapai pagar di samping, karena kedua kaki sudah tidak sanggup menopang tubuhnya, hanya ingin berpegangan pada pagar pembatas. Akan tetapi saat dia tidak menemukan pegangan apapun, akan muncul rasa takut. Seperti kita yang berjalan dalam kehidupan ini, jika kita tidak memiliki “pagar pembatas” ini, maka kita akan berjalan sambil terjatuh, mungkin saja bisa terjatuh ke dalam jurang; hanya dengan berpegangan pada pagar pembatas, sedangkan pagar pembatas ini adalah kalian harus menekuni dan mempraktikkan Dharma dengan baik-baik. Coba pikirkan, sewaktu seseorang jatuh ke bawah, yang paling bagus adalah kedua tangannya bisa berpegangan pada sesuatu, ini seperti pada saat menghadapi malapetaka di dunia ini, muncul kesulitan dalam keluarga, atau sewaktu diri sendiri divonis menderita kanker, maka kedua tanganmu ingin memegang sesuatu, jika tidak bisa, maka kamu akan terguling jatuh ke dalam jurang. Lalu dari manakah asal benda yang ingin dipegang ini? Ini mengandalkan pada peganganmu dalam setiap hari. Oleh karena itu, harus menekuni dan mempraktikkan Dharma. Jika tidak menekuni Ajaran Buddha Dharma, maka di saat kedua tanganmu kosong, hatimu tidak akan bisa menemukan arah tujuan hidup. Meskipun kalian belum pernah terguling ke dalam jurang, namun saya rasa ada banyak orang yang pernah bermimpi seperti ini, dari gunung yang tinggi jatuh ke bawah, pada saat itu merasa sangat ketakutan. Mengerti? Benar-benar sangat kasihan. Oleh karena itu, harus menekuni dan mempraktikkan Dharma, jangan setengah-setengah, hati dan pikiran harus fokus, pilih satu tujuan dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma.
Seumur hidup manusia hingga pada akhirnya tidak akan ada yang bisa dibawa pergi, tiada yang bisa diperoleh. Coba pikirkan, kita tidak memperoleh apapun. Contoh sederhana: kita membagi kehidupan ini menjadi 3 bagian – masa remaja, masa muda, masa tua. Ketika remaja, kamu sudah mendapatkan dasi merah dan semua penghargaan, pada waktu itu betapa semangat dan gembiranya dirimu, seperti betapa bahagianya kalian sewaktu lulus universitas dan mengenakan toga wisuda. Kalau begitu, perasaan pada saat itu masih ada berapa banyak sekarang? Tunggu sampai kamu sudah masuk universitas, apakah kamu masih memedulikan penghargaan yang didapatkan ketika di sekolah menengah? Tunggu menjelang ajal, apakah kamu masih peduli terhadap hal-hal sewaktu di sekolah dasar, menengah, dan universitas? Keluargamu yang kamu peduli, meskipun dirimu tidak ingin pergi namun tetap harus meninggalkan mereka. Semua harta kekayaan yang kamu sukai, hanya bisa melepas tangan. Segala hal yang kamu miliki semuanya hanya bersifat sementara, karena kamu harus meninggalkan mereka, dirimu tidak ingin pergi pun tetap harus pergi. Manusia betapa tidak berdaya dalam hidup, selain itu, begitu meninggalkan raga ini, ke manakah kamu akan pergi? Benar-benar kasihan sekali. Oleh karena itu, harus bisa melepaskan apa yang seharusnya dilepaskan, harus bisa merelakan apa yang seharusnya direlakan. Memedulikan mereka dari dalam hati, bukan peduli melalui perilaku. Kamu mencintai seseorang bisa sepenuh hati mencintainya, namun dirimu tidak harus setiap hari bersamanya. Banyak orang di antara kalian yang datang ke tempat Master untuk mempelajari Ajaran Buddha Dharma, duduk di sini, sesungguhnya, kalian sedang melindungi keluarga kalian. Bukankah begitu? Kalian menjadi murid Master, setiap keluarga selamat sejahtera, apakah ini bukan pembinaan perilaku? Apakah ini bukan pembinaan diri? Memangnya kalian mengira duduk di sini adalah menyia-nyiakan waktu, dan seharusnya bersama-sama dengan keluarga kalian? Namun karena kalian sudah meneladani Buddha, menekuni Ajaran Buddha Dharma, melafalkan paritta, maka keluarga kalian dengan sendirinya akan terlindungi, bukankah ini sama dengan memperhatikan mereka? Jika manusia ingin hidup lebih lama di dunia, maka jangan menyia-nyiakan waktu, harus melafalkan paritta dan membina pikiran, harus membantu orang lain, dengan begitu, hidupmu baru bermakna. Jika kamu setiap hari pergi keluar berarti sedang melakukan hal-hal yang tidak bermakna, lalu untuk apa kamu pergi? Coba kalian pikirkan, sama melakukan satu hal, jika kalian pergi mengikuti Master, maka itu adalah menyebarkan Ajaran Buddha Dharma, itu ada jasa kebajikan. Jika kalian pergi bertamasya, itu namanya menyia-nyiakan waktu. Apakah kamu bisa bertamasya ke Alam Surga? Pemandangan-pemandangan indah yang Master lihat di Alam Surga, itu kalian seumur hidup ini tidak pernah lihat, pemandangan surgawi yang begitu indah sama seperti di dalam film, tingkat kesadaran sepenuhnya bisa terbebaskan. Coba kalian pikirkan, jika pergi bertamasnya ke satu negara, setelah menaiki pesawat selama belasan jam untuk melihat-lihat, lalu kembali naik pesawat belasan jam untuk pulang, menurut kalian capek tidak atau tidak? Jika yang kalian jalani adalah kehidupan roh, maka setelah kalian meninggal, tahukah apa yang akan kalian lihat di Alam Surga? Asalkan orang-orang yang pernah membaca Sutra Amitabha akan mengetahui bahwa di dalamnya ada tujuh kolam pusaka, air delapan jasa kebajikan, tanah yang terbuat dari emas. Coba kalian pikirkan, di Alam Surga semua adalah emas, apakah kamu masih akan mengambil satu batang emas dan menyembunyikannya? Ini seperti batu-batu yang ada di jalanan, apakah kamu masih akan mengambil satu batu dan menyimpannya di rumah? Mengira Alam Manusia ini sungguh sangat bagus, namun semuanya itu palsu dan kosong. Apa yang diberikan dunia ini kepadamu? Dia tidak membawa kebahagiaan bagimu, hanya membawa kesedihan, kerisauan, dan penderitaan, yang diberikannya adalah siklus lahir, tua, sakit dan mati, selain itu dia memberikan satu kenyataan terbesar yang paling sulit diterima, yakni kamu harus mati. Saat terpikir kalau dirimu harus mati, dan tidak bisa merelakan ini dan itu, sewaktu kamu terbaring di atas ranjang, perasaan seperti apa itu? Maka jangan lagi membuang waktu, segera manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membina diri. Master memberikan satu standar yang tinggi untuk kalian: Setiap kali kalian melakukan suatu hal, dalam otak kalian harus berpikir: “Apakah saya akan mendapatkan jasa kebajikan? Apakah ini sedang menerapkan Dharma? Apakah yang saya lakukan ini benar atau tidak?” Master juga begitu, setiap kali melakukan sesuatu hal, Master selalu berpikir: “Apakah ini sedang menerapkan Dharma? Apakah yang dilakukan benar atau tidak?” Master meminta kalian ketika makan harus berpikir, “Sekali saya bervegetarian, berarti berkurang satu kali makan non-vegetarian.” Apabila setiap kali melakukan suatu hal, bisa berpikir demikian, maka Bodhisattva bisa merasakan – kamu adalah anak baik, adalah anak yang memiliki pembinaan diri. Semoga kalian bisa terus mempertahankan pusaka Master ini, belajarlah dalam melakukan segala hal, pertama harus memikirkan orang lain terlebih dahulu, baru memikirkan diri sendiri. Master juga demikian. Berpikiran terbuka terhadap segala hal. Asalkan kamu masih memiliki kemelekatan atau keterikatan terhadap ketenaran, kekayaan, atau anak-anak, maka kamu tidak akan bisa leluasa, kamu tidak akan bisa terbebaskan. Maka, kelak tidak akan tahu kemana jiwamu akan pergi. Mengerti? Benar-benar harus berpikiran terbuka dan terbebaskan. Apabila dalam pikiran seseorang selalu memikirkan hal-hal yang sudah berlalu, maka diri sendiri selamanya tidak akan bisa merasa tenang. Harus belajar untuk melupakan. Dalam Bai Hua Fo Fa Master pernah mengatakan, seseorang harus memiliki daya ingat yang buruk. Memiliki satu daya ingat yang buruk sesungguhnya adalah hal yang baik. Contohnya, ketika ada satu hal derita yang terus-menerus berputar dalam pikiran, dan tidak bisa membebaskan diri darinya, maka cara yang terbaik adalah melupakannya. Sekian pembahasan pada hari ini.
