42. Menggunakan Kebijaksanaan Dan Moralitas Untuk Menstabilkan Dan Melembutkan Ketenangan Pikiran
Apabila tidak menghargai hidup, berarti sama dengan menyia-nyiakan hidup. Sangat sederhana, jika kamu tidak menghargai jasa kebajikan, sama dengan membuang-buang jasa kebajikan. Tunggu saat dirimu memerlukan jasa kebajikan, maka kamu tidak memilikinya lagi, seperti banyak orang yang tidak memiliki uang di rumahnya, itu karena biasanya mereka tidak menabung.
Hari ini, saya akan melanjutkan pembahasan tentang kekuatan supernatural, orang-orang zaman sekarang, tidak akan segera menerima kenyataan yang ada, jika hanya dengan mendengarkan kamu menceritakan kejadian yang nyata dan ajaib yang terjadi pada kehidupan sehari-hari, karena di dunia ini sekarang sudah terlalu banyak hal-hal yang palsu, kebohongan sudah menyelubungi seluruh bumi dan langit, oleh karena itu, perlu menggunakan kekuatan supernatural untuk menasihati dan membimbing semua makhluk agar mau menekuni Dharma dan melafalkan paritta. Seseorang yang memiliki kekuatan supernatural, tubuhnya sendiri akan menunjukkan seratus macam rupa, dengan kata lain, sewaktu seseorang terlahir kembali ke dunia dengan tekad mulia menyelamatkan semua makhluk ke dunia dan memiliki kekuatan supernatural, maka dia mampu menampakkan banyak tubuh Dharma.
Tentu saja kekuatan supernatural juga terbagi menjadi banyak macam, contohnya, ada sebagian orang memiliki mata yin yang, bisa terhubung dengan setan dan dewa, bisa terhubung dengan dua dunia, yakni Alam Akhirat dan Alam Manusia. Sedangkan Master, memiliki tubuh Dharma, memiliki kekuatan supernatural Bodhisattva, bisa terhubung dengan Alam Surga, Alam Akhirat, dan Alam Manusia, juga bisa mengetahui karma di tiga kehidupan. Kekuatan supernatural seperti ini memiliki seratus macam penampakan rupa, dengan kata lain tubuh dan rupa yang tidak sama, seperti saat Master sering pergi ke dalam mimpi orang-orang untuk menyelamatkan mereka, terkadang Master mengenakan jubah dao, terkadang mengenakan setelan jas, terkadang mengenakan jubah biksu, dan lain-lain, ini adalah contoh dari ratusan tubuh dan rupa. Di setiap tubuh perubahan dikelilingi oleh seratus macam tubuh dan rupa, dengan kata lain, setiap kali tubuh Dharma keluar, akan ada hampir seratus orang murid yang dengan megah mengelilingi dan melindunginya, namun murid-murid ini belum tentu adalah kalian, karena semua Pelindung Dharma, setiap orang yang berjodoh dengan Master, atau setiap orang yang turun dari Alam Surga untuk melindungi Dharma, semuanya memiliki kemampuan ini untuk melindungi Dharma, dan dengan sendirinya muncul dalam perwujudan Bodhisattva Mahasattva. Begitu tubuh Dharma keluar, ketika sedang menyelamatkan orang-orang, maka ada hampir seratus orang murid (murid-murid ini termasuk para murid di kehidupan sekarang dan kehidupan yang lalu), yang semuanya berjodoh dengan Master akan berkumpul di sekitar Master untuk menjadi Pelindung Dharma, namun ini bukan kemauan mereka sendiri untuk melindungi Dharma, dia sendiri sama sekali tidak tahu, ini adalah kekuatan tekad Bodhisattva yang muncul dengan sendirinya, para Bodhisattva Mahasattva (Yang Maha Besar). Sesungguhnya, saat tubuh Dharma Master menolong orang lain, maka keseratus murid ini semuanya akan berubah menjadi Bodhisattva, contoh, ketika Master sedang memberikan wejangan di Seminar Dharma, kalian semua murid berada di pintu masuk, berada di samping Master, semuanya adalah Bodhisattva yang sedang melindungi Dharma.
Apabila ingin membina diri mencapai tubuh Bodhisattva, memperoleh tubuh Dharma atau kekuatan supernatural (atau kekuatan spiritual Dharma), maka kalian harus mengingat beberapa poin dasar berikut:
- Bodhisattva tidak melihat kesalahan orang lain, Bodhisattva selamanya tidak akan melihat keteledoran atau kesalahan orang lain. Pertama-tama, kita gunakan poin ini untuk menilai diri kita sendiri, siapa di antara kalian yang bisa tidak melihat kekurangan dan kesalahan orang lain? Bodhisattva selamanya tidak melihat kekurangan dan kesalahan orang lain. Sedangkan Master tidak sama, Master sedang membantu membuka kesadaran kalian, demi menyelamatkan kesadaran spiritual kalian, Master harus menunjukkan seluruh kekurangan dan kesalahan kalian, supaya kalian tahu dan memahami prinsip kebenarannya, kemudian membenarkan dan memperbaikinya. Jika kita meneladani Bodhisattva, maka tidak boleh melihat kejelekan orang lain, tidak boleh melihat kesalahan orang lain, akan tetapi harus melihat kesalahan diri sendiri, dengan kata lain menggunakan standar Bodhisattva untuk melatih diri sendiri, selamanya tidak pernah melihat kesalahan orang lain, namun selamanya yang dilihat adalah kesalahan diri sendiri, semuanya adalah salah diri sendiri. Di dunia ini, jangan pernah memperdebatkan kebenaran dan kesalahan orang lain, jika dirimu yang melakukan kesalahan maka berarti kamu sendiri yang salah, selamanya saya yang salah, orang lain selalu benar, karena dunia ini semuanya adalah kosong, semuanya itu palsu, semuanya tidak kekal, tidak ada benar dan salah, hanya ada sebab dan akibat. Saya tidak pernah benar, hanya ada salah, dengan begitu baru bisa mendekati tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva.
- Hanya menanam, tanpa memikirkan apa yang dituai, ini baru kesadaran spiritual tingkat Bodhisattva. Karena Bodhisattva hanya akan terus menanam, hanya akan terus melakukan jasa kebajikan, tidak pernah memikirkan, jika hari ini saya menanam bibit karma baik ini, maka balasan karma apa yang bisa saya dapatkan nanti? Asalkan kamu melafalkan paritta dengan baik, berusaha sekuat tenaga melakukan jasa kebajikan, mana mungkin tidak memperoleh balasan yang baik? Karena hukum karma selamanya tidak akan berubah, jika hari ini kamu melakukan perbuatan baik, menanam bibit karma baik, maka di masa depan nanti pasti akan mendapatkan buah karma baik. Seseorang yang menginginkan balasan langsung atas pengorbanan yang dilakukannya hari ini, adalah orang licik. Tidak ada logika bisa memperoleh sesuatu tanpa pengorbanan. Seperti ada sebagian orang yang bertanya kepada saya: “Master Lu, saya sudah membina diri dan melafalkan paritta mengikuti Anda, apakah keadaan saya akan membaik?” Hanya berdasarkan perkataannya ini saja, lebih baik tidak usah membina diri, karena dia bahkan tidak memiliki keyakinan yang paling dasar, bagaimana mungkin bisa membina pikirannya dengan baik?
- Ketiadaan pikiran (tiada hati), salah satu poin dasar dalam meneladani Bodhisattva adalah ketiadaan pikiran, ketiadaan pikiran berarti Bodhisattva selamanya tidak akan memiliki hati dan pikiran. Ketiadaan pikiran, berarti kamu tidak memiliki kebencian, tidak memiliki kerisauan, tidak memiliki halangan, karena bahkan hati pun, kamu sudah tidak memilikinya lagi, seperti yang sering dikatakan orang-orang: orang ini sudah tidak punya hati, tidak punya paru-paru. Hati saja kamu sudah tidak punya, coba pikirkan, betapa bahagianya kamu, akan tetapi Bodhisattva bukan benar-benar tidak punya hati, melainkan menjadikan hati semua makhluk sebagai hatinya, hati atau pikiran semua makhluk adalah hati Bodhisattva. Apakah kalian mengerti? Penderitaan semua makhluk adalah penderitaan Master, apa yang Master selalu pikirkan adalah bagaimana menyelamatkan semua makhluk dari lautan penderitaan. Bodhisattva menjadikan pikiran semua makhluk sebagai pikirannya sendiri, Beliau selamanya akan selalu memikirkan orang lain, karena dia sendiri tidak memiliki hati, oleh karena itu Bodhisattva tidak terhalangi, tidak memiliki halangan, hati atau pikiran ini selamanya tidak memiliki halangan.
Tujuan kita meneladani Bodhisattva sangat sederhana, yakni selangkah demi selangkah memahami di manakah perbedaan antara Bodhisattva dengan kita manusia? Mengapa kita adalah manusia, dan setelah tingkat kesadaran spiritual kita meningkat, kita bisa menjadi Bodhisattva? Mengapa kita tidak bisa mencapai kesadaran spiritual Bodhisattva? Oleh karena itu kita harus memahami setiap tingkat kesadaran spiritual (bhumi) Bodhisattva, dengan begitu kita barus bisa membina diri, belajar, dan mengembangkan diri berdasarkan setiap tingkatan spiritual ini.
Pertama-tama, harus membina kesadaran spiritual dengan benar, untuk meneladani kesadaran spiritual Bodhisattva, harus menyucikan dan menenangkan pikiran. Sebelum meneladani Bodhisattva, pertama-tama harus membersihkan pikiran sendiri, dengan kata lain, terlebih dahulu harus memiliki hati yang bersih, pikiran yang tenang, kemudian membuka kebijaksanaan, setelah menenangkan pikiran, kita baru bisa membuka kebijaksanaan. Masyarakat zaman sekarang adalah masa foton, sedangkan dulu adalah masa atom, Bodhisattva menyinari kita dengan cahaya, memberikan inspirasi kepada kita, pemikiran Bodhisattva semuanya disalurkan melalui cahaya. Kalian semua tahu, hanya cahaya yang bisa menerangkan hati kita, hanya cahaya yang bisa membuat kamu mengerti, hanya cahaya yang bisa membuat kamu memahami pikiran sendiri dan menemukan kembali sifat dasar, seperti saat matahari terbit, betapa bahagianya hati kita, namun sewaktu kegelapan datang menyelimuti, pikiran kita juga diwarnai dengan kegelapan. Mengapa kita menyalakan lampu dengan begitu terang? Supaya dunia yang kita lihat ini selamanya terang benderang. Sewaktu Bodhisattva ingin mencapai penerangan sempurna, akan menggunakan berbagai macam cara-cara yang baik dan Pintu Dharma untuk menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk. Bodhisattva untuk mencapai penerangan yang sempurna, harus memiliki cara-cara yang baik dan Pintu Dharma, pada zaman periode akhir Dharma, kita harus memiliki kekuatan spiritual Dharma baru bisa menyelamatkan semua makhluk, harus mengembangkan kebijaksanaan yang sempurna, harus menggunakan berbagai Pintu Dharma dan metode-metode untuk menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk serta menyempurnakan kebijaksanaan semua makhluk.
Selanjutnya, Master akan membahas tentang penerapan berbagai macam cara dan kepandaian dalam menjalani pembinaan pikiran dan perilaku, dalam membina pikiran dan perilaku, kita harus menggunakan berbagai macam cara, seperti hari ini kamu membina pikiran, besok kamu membina perilaku, metode dan kemampuan intelektual yang terbaik adalah menggunakan seluruh kebijaksanaan dan kemampuan kamu untuk menyelaraskan, melembutkan, menenangkan pikiran diri sendiri yang tidak terkendali.
Hati atau pikiran ini benar-benar sangat menyebalkan, begitu melihat sedikit hal yang tidak menyenangkan segera berpikir macam-macam, berpikir sembarangan, pikiran yang tidak terkendali adalah ketika melihat apapun selalu akan “sembarangan bergerak”, contoh, melihat uang 100 dolar yang dijatuhkan orang lain, begitu hati tergerak akan langsung berpikir, apakah saya sebaiknya memungutnya? Ini berarti sudah berpikir sembarangan. Mengapa melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat? Mengapa memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan? Mengapa melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kamu lakukan? Begitulah kerisauan mendatangi seseorang, karena mendengarkan yang ini, dan melihat yang itu. Jika orang lain membicarakan kejelekanmu di belakang, kalau kamu tidak mendengarnya, dirimu tetap senang-senang saja, tetapi jika mendengarnya, maka akan terlahir kerisauan. Orang lain membicarakan kamu di belakang, itu berarti bukan sesuatu yang seharusnya kamu dengarkan. Konfusius berkata: tidak melihat yang tidak senonoh, tidak mendengarkan yang tidak baik, tidak mengatakan yang tidak sepantasnya, tidak melakukan yang tidak sepatutnya. Yang tidak seharusnya kamu dengar, mengapa masih Anda(kamu masih) mendengarkan? Sebenarnya kamu sangat senang, namun setelah telingamu mendengar perkataan yang tidak seharusnya kamu dengarkan, maka lahirlah kerisauan.
Kalian seharusnya memikirkannya baik-baik, seharusnya bagaimana kita di dunia ini menekuni dan mempraktikkan Ajaran Buddha Dharma? Bagaimana seharusnya menyelaraskan dan melembutkan hati kita ini? Jangan biarkan hati ini berpikir macam-macam, kita harus bisa mengendalikan pikiran ini baru bisa membina pikiran dengan baik, jika kamu tidak bisa mengendalikan pikiran sendiri, lalu berpikir sembarangan, maka bagaimana? Yaitu harus melembutkan dan mengontrolnya, selain itu harus menenangkannya, dengan kata lain kita harus menenangkan pikiran sendiri, jangan memikirkan atau mementingkan apapun. Master beritahu kalian, dalam kehidupan masyarakat ini, kita harus menjaga keselamatan dan ketenangan setiap saat, jika bisa melalui setiap detik dengan damai dan tenang, maka kamu pasti mampu menjaga ketenangan pikiran ini. Seseorang yang bisa melalui setiap detik dengan damai, maka dia adalah orang yang benar-benar membina dirinya dengan baik, dia memiliki pemikiran yang sangat mulia, dia juga memiliki pandangan yang sangat mulia, karena dia sudah mampu melihat kebenaran dari segala hal, maka pikirannya sangat tenang, di dunia ini tidak ada apapun yang bisa membuat hatinya bergejolak. Hanya dengan menenangkan pikiran, kita baru bisa menghilangkan kekurangan pada diri sendiri, yakni ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Kita harus bisa mengendalikan pikiran yang bergejolak ini, menghilangkan segala khayalan yang tidak sesuai kemampuan, yakni keinginan yang mustahil untuk diwujudkan.
Pikiran yang welas asih adalah pikiran yang lembut, seseorang yang memiliki welas asih baru bisa berhati lembut. Ketika seseorang bisa berbicara dengan sangat lembut, maka orang ini pasti memiliki welas asih. Pikiran yang welas asih harus lembut, kemudian pelan-pelan ditingkatkan, dengan kata lain, mengembangkan perasaan welas asih ini supaya menjadi semakin besar. Memiliki toleransi yang semakin besar, maka bisa memaafkan orang lain, berarti melapangkan hatimu yang pada mulanya sempit, orang-orang yang sepanjang waktu hanya memikirkan dirinya sendiri adalah orang-orang yang berhati sempit. Seorang pembina pikiran harus membina lahan di hatinya, harus baik hati, lemah lembut, rendah hati, yaitu tempatkan dirimu pada posisi yang lebih rendah; harus bisa menyesuaikan, dengan kata lain bisa menyesuaikan diri di mana pun dan dalam menghadapi apapun, tidak peduli apapun yang terjadi, saya pasti bisa menyesuaikannya; tidak keruh, berarti hatimu jangan sampai dikeruhkan atau dinodai; harus murni baik hati, karena baik hati saja tidak cukup, harus murni baik hati, dengan kata lain, harus memiliki kebaikan hati yang sangat bersih dan murni, bukan kebaikan hati yang hanya di permukaan saja; harus bisa fleksibel, harus bisa mentolerir orang lain, 80% tubuh kita manusia adalah air, oleh karena itu kita harus memiliki sifat air yang bisa menyejukkan orang lain; kemudian harus bisa memiliki ketenangan, baru saja saya mengatakan, kalian harus bisa menenangkan pikiran, kemudian jangan berpikir sembarangan; harus memiliki hati yang luas dan lapang, serta kuat dan tegar, kita harus memiliki pendirian yang teguh (jangan biarkan pikiran kita terombang-ambing); harus bisa memahami secara luas, berarti harus mengerti dan lapang, yang artinya setelah memahaminya, baru bisa merasakan kelapangan, di sini bukan mengatakan kamu memiliki hati yang lapang, melainkan setelah memiliki pemahaman yang luas, sesudah kamu paham, maka keleluasaan dan kelapangan dari respon perasaan spiritual yang kamu rasakan itu baru bermakna; selain itu harus tenang, harus setara, dan memiliki ketiadaan rupa.
