40. Triloka Hanyalah Ilusi Palsu, Kerisauan Adalah Bodhi
Triloka (atau tiga alam dalam agama Buddha) merupakan medan pembinaan, kita bisa memandangnya sebagai tempat tanpa kesenangan apapun. Triloka adalah kammadhatu (alam nafsu), rupadhatu (alam berwujud), dan arupadhatu (alam tidak berwujud). Kita harus bisa memandang triloka sebagai medan pembinaan, sebagai tempat yang suci, menjadikannya sebagai medan pembinaan di dalam hati kita, tetapi hati kita tidak terjerumus ke dalamnya, dengan tidak beranggapan bahwa triloka merupakan suatu tempat kebahagiaan, maka Anda akan memiliki suatu medan pembinaan suci di dalam hati Anda. Kita harus bisa melihat kebenaran dari ketiga alam ini, menyadari bahwa segala hal dalam kehidupan kita tidak bersifat, dan mengetahui bahwa ketiga alam ini hanyalah suatu perwujudan yang sesungguhnya kosong. Apabila kita bisa melihat ketiga alam ini sebagai suatu ilusi yang palsu, maka dengan sendirinya kita tidak akan terjebak ke dalamnya. Contohnya: minum arak, itu merupakan suatu bentuk kenikmatan bukan? Namun jika minum terlalu banyak, Anda akan mabuk, Anda akan terjerumus ke dalamnya, karena semua hal-hal yang memberikan kenikmatan bisa menjerumuskan seseorang, membuat kita terjebak di dalamnya. “Kerisauan adalah pencerahan, triloka adalah medan pembinaan”. Ketika kerisauan mendatangi Anda, maka ini adalah suatu kesempatan untuk membangkitkan kebijaksanaan Anda, mengapa dikatakan bahwa dengan memiliki kerisauan, Anda baru bisa memiliki kebijaksanaan? Jika tiada kerisauan, maka tidak akan ada kebijaksanaan? Karena kita menggunakan kerisauan untuk membuka kebijaksanaan diri sendiri. Sifat dasar semua makhluk sesungguhnya bebas dari keakuan, tidak ada AKU, oleh karena itu, kita harus memiliki pemikiran Bodhi – tekad untuk mencapai pencerahan sempurna dan pikiran yang bersih, karena Bodhi adalah kebijaksanaan, dengan memiliki kebijaksanaan Bodhi, maka tidak akan terlahir kerisauan dalam diri kita, ingatlah bahwa triloka merupakan medan pembinaan pikiran kita.
Master akan menceritakan sedikit mengenai rupadhatu pada kalian. Di alam berwujud atau rupadhatu, kita bisa terdengar kicauan burung yang merdu dan tercium aroma bunga yang harum di empat penjuru, alam yang penuh dengan keajaiban, terdapat irama lagu yang merdu, suasana gembira yang tidak terungkapkan, kejadian-kejadian ajaib, keindahan yang tidak tergambarkan, dan aroma yang harum, segalanya sangat luar biasa, namun pemandangan yang ajaib nan indah ini pun tidak abadi, karena penghuni surga atau manusia langit akan mengalami lima kemunduran, saat waktu mereka menikmati kebahagiaan surgawi sudah habis, mereka juga harus turun ke alam bawah. Pada tingkat kesadaran Buddha dan Bodhisattva, harus menyadari bahwa ia merupakan ilusi kosong, orang yang benar-benar sudah tercerahkan harus bisa melihat kebenaran ini. Master sering mengatakan pada kalian, bahwa segala benda yang tidak abadi, semuanya merupakan ilusi palsu, reinkarnasi ketiga alam juga merupakan suatu keadaan, perputaran di tiga alam, seseorang yang sudah sampai di Alam Surga, bisa turun kembali, ini semua termasuk dalam tumimbal lahir enam alam, tidak peduli terlahir di alam manapun, semuanya adalah suatu keadaan, sedangkan keadaan ini sesungguhnya juga merupakan ilusi kosong, adalah perasaanmu sendiri. Reinkarnasi dalam triloka sesungguhnya hanyalah ilusi, ketika Anda memiliki pemikiran yang baik, maka Anda akan terlahir ke alam yang lebih tinggi, namun jika Anda memiliki pemikiran jahat, maka Anda akan terlahir ke alam yang lebih rendah. Bodhisattva tidak terhalangi, oleh karena itu, Bodhisattva tidak akan tertarik ke dalamnya, dengan kata lain, Pu Sa tidak akan terjerumus masuk ke dalamnya, karena Pu Sa bisa terbebaskan dari alam dan kondisi apapun. Hanya ketika Anda sudah tidak memiliki ketertarikan apapun, saat Anda sudah tidak memiliki pemikiran apapun terhadap ketiga alam ini, Anda baru bisa terbebaskan dari kondisi apapun. Pendapat adalah seluruh ketiadaan halangan, dengan kata lain, jika pendapat setiap orang dalam mengenali dan memahami suatu masalah tertentu sudah tidak lagi terhalangi, maka segalanya akan menjadi lancar tanpa halangan, juga tidak akan ada lagi pertentangan apapun. Ketiadaan hambatan dan halangan ini hanya bisa tercapai ketika pemikiran-pemikiran liar yang mengganggu sudah benar-benar hilang dari dalam pikiran Anda, maka tidak akan ada halangan lagi.
Jodoh tercipta dari niat, jodoh datang dari tekad Anda sendiri, apabila Anda memiliki tekad yang kuat, maka jodoh baik Anda dengan sendirinya akan menjadi sempurna. Oleh karena itu, jika kita mampu menyadari kebohongan orang lain, namun tidak mengungkapkannya melalui ucapan; bila kita bisa menerima penghinaan dari orang lain, namun tidak menunjukkannya melalui raut wajah, maka Anda akan semakin dekat dengan penerangan sempurna. Walaupun Anda tahu, orang lain sedang menipu Anda, namun Anda tidak meresponnya dan tetap tersenyum; meskipun orang lain merendahkan Anda, namun Anda tidak menunjukkan ketidaksenangan apapun, Anda tetap bersabar dan bertahan untuk memajukan diri, apabila seseorang mampu melaksanakan kata-kata ini, berarti Anda sudah semakin dekat dengan keberhasilan spiritual dalam Dharma. Anda tidak takut menghadapi keadaan apapun, Anda mampu merelakan segala yang datang dan yang pergi, semuanya menyesuaikan jodoh, berarti Anda sudah mencapai kebebasan, Anda tidak akan merasa sedih lagi. Dengan melepas, Anda akan segera terbebaskan, ketika Anda sudah merelakan jodoh ini, maka Anda sudah terbebaskan.
Apabila Anda adalah seseorang yang memiliki kebijaksanaan, maka Anda tidak akan pernah menyalahkan orang lain, daripada memeriksa kesalahan orang lain, lebih baik mengoreksi diri sendiri. Master ingin kalian memahami bahwa, “sulit untuk menjadi pintar, namun lebih sulit untuk berpura-pura bodoh.” Kita tahu bahwa belajar untuk menjadi pintar adalah sesuatu yang sulit di dunia ini, namun untuk belajar menjadi bodoh, itu lebih sulit lagi, oleh karena itu ada pepatah yang berbunyi: “Sulitnya menjadi bodoh”, namun “bodoh” di sini sesungguhnya merupakan suatu bentuk kepandaian, adalah kebodohan yang bijaksana. Jika seseorang benar-benar sudah melepaskan segalanya, maka dia tidak akan bodoh lagi, namun orang bodoh yang sesungguhnya tidak akan bisa merelakan apapun.
Kesimpulannya, sewaktu dilanda kekecewaan, kita harus tetap bersabar untuk memerangi kekecewaan diri sendiri. Sewaktu berbangga hati atau gembira, kita harus bisa memudarkan perasaan ini, dengan kata lain, ketika Anda merasa senang atau saat terjadi sesuatu yang baik, Anda harus berusaha “menghambarkan” perasaan ini, jangan biarkan hati terlalu sering bergejolak naik turun (senang atau sedih), itulah seseorang yang benar-benar membina dirinya, yang dikenal juga sebagai seorang yang berbudi luhur.
