21. Seorang Pembina Diri Harus Selalu Memiliki Kesadaran yang Konsisten
Hari ini saya akan membahas tentang “seorang pembina diri”.
Setiap orang di sini tentunya sedang menjalankan pembinaan diri, lalu apa yang makna dari sebutan “pembina diri”? Apakah kalian para murid sudah memenuhi kewajibannya?
Sebagai seorang pembina diri, dia harus mencapai satu tingkat kesadaran tertentu, yakni pertama, memiliki kemampuan untuk menanggung dan menghadapi segala kesulitan dan penderitaan yang dialami di Alam Manusia ini, dengan demikian tingkat kesadarannya secara perlahan-lahan akan meningkat; lagipula, ketika seorang pembina diri sudah menjalani pembinaan dalam jangka waktu tertentu, dia tidak akan lagi merasa menderita, karena saat Anda masih merasa menderita, itu berarti Anda masih belum menjadi seorang pembina diri yang sesungguhnya.
Tingkat kesadaran seseorang dalam praktek pembinaan diri harus mencapai tingkatan tertentu, baru bisa disebut sebagai seorang pembina diri. Sebagai seorang pembina diri, hal pertama yang harus bisa dilakukan adalah tidak lagi memiliki kerisauan, jika pada hari ini Anda sudah membina diri, tetapi Anda tetap masih memiliki macam-macam kerisauan, maka Anda belum menjadi pembina diri yang sesungguhnya.
Sebagai seorang pembina diri, pertama-tama harus bisa melenyapkan segala kerisauan di dalam pikirannya, jika Anda membina diri pada saat ini, tetapi segala macam kerisauan muncul di dalam pikiran Anda, maka Anda bukan seorang pembina diri yang sesungguhnya. Orang yang membina dirinya, walaupun kerisauan sudah muncul di dalam pikirannya, dia harus segera menghilangkannya, dia baru bisa disebut sebagai seorang pembina diri.
Seorang pembina diri, yang walaupun muncul kerisauan di dalam pikirannya, mengapa di sini dikatakan sebagai “walaupun muncul kerisauan”, karena setiap manusia masih memiliki tujuh perasaan dan enam nafsu, dan pada saat “halangan” berupa kerisauan ini muncul, maka Anda harus segera menghentikannya.
Saya beri tahu kalian, ketika menjalani pembinaan diri, akan muncul satu “iblis” – mo *魔, iblis ini di dalam istilah Buddhis dikenal juga sebagai “iblis kerisauan”,
jadi semakin banyak kerisauan atau kekhawatiran yang Anda miliki, maka semakin besar kekuatan iblis ini. Anda harus menghilangkan “iblis” ini di dalam diri Anda ini.
Bagaimana cara melenyapkan iblis kerisauan ini?
Pertama, kita harus ingat bahwa kita adalah seorang pembina diri, kita tidak sama dengan orang lain, yang tidak boleh merasa menderita, yang tetap harus menghentikan “perasaan menderita” ini meskipun penderitaan itu datang, maka lama-kelamaan kita tidak akan merasa menderita lagi.
Ketika iblis kerisauan muncul, cara terbaik untuk mengatasinya adalah menyesuaikan diri dengan keadaan, menjalankan segala sesuatunya sesuai dengan keadaan. Walaupun kita sedang menghadapi ketidaklancaran atau berada dalam kesulitan, juga harus tetap tenang dan jangan panik, tidak peduli bencana apa pun yang melanda, pertama-tama kita harus tetap menenangkan diri.
Pikiran yang tidak bergejolak, sebenarnya ini yang dikenal sebagai chan ding *禅定 – dhyāna-samādhi (meditasi atau samadi) di dalam istilah Buddhis, chan ding adalah tingkat kesadaran yang cukup tinggi dalam Ajaran Buddha Dharma. Jika tidak memiliki ketenangan pikiran, maka segala hal di dunia ini mungkin akan menjadi penyebab timbulnya kerisauan pada diri kita sendiri.
Saya berharap kalian bisa mempelajari sedikit sisi chan ding dalam Ajaran Buddha Dharma ini. Chan ding bisa menenangkan pikiran kita yang kacau balau, karena segala permasalahan di dunia ini tidak boleh terlalu diperhitungkan, kita harus mempelajari semangat chan ding, semangat dari chan atau Zen adalah tingkat kesadaran, yang selalu bisa menyesuaikan diri dalam keadaan baik maupun buruk, menghadapinya dengan pikiran yang tenang dan tidak bergejolak.
Ini seperti riak-riak aliran air di sungai kecil yang mengalir sangat deras, namun begitu masuk ke dalam lautan, sudah tidak terlihat lagi gelombang apa pun. Orang yang mampu mencapai tahap chan ding, pikirannya bagaikan lautan luas yang bisa tetap tenang menaungi ombak sebesar dan seganas apa pun tanpa bergeming. Untuk bisa mencapai chan ding, maka pertama kita harus mampu mengendalikan diri sendiri terlebih dahulu, baru bisa mencapai ketenangan.
Energi pikiran bergerak sesuai perputarannya. Energi atau medan aura yang dihasilkan oleh pikiran seseorang, akan bergerak atau bersirkulasi sesuai dengan alur perputarannya, dan jangan menghalangi gerak energi ini. Contohnya: saat seseorang merasa sangat tidak senang dan marah, jika Anda menghentikannya untuk melampiaskan kemarahannya, atau menyuruhnya jangan bersedih, dan lain sebagainya, maka selanjutnya orang itu akan sakit, biarkan dia bicara, biarkan dia melampiaskannya, maka sesudahnya orang itu akan tetap baik-baik saja.
Apabila menghalangi medan energi ini untuk keluar, maka akan timbul banyak masalah, kejadian yang paling sering terjadi adalah menderita kanker, atau berbagai macam penyakit liver. Kekuatan medan aura yang ada dalam pikiran kita akan bergerak sesuai dengan alurnya, sampai ke mana pun aura ini berada sama dengan sampai ke mana seharusnya kita membina diri, ini baru benar; bukan karena dilanda kesialan atau keberuntungan, lalu berhenti membina diri, ini tidak benar, seharusnya tidak peduli hal baik atau hal buruk yang melanda, tetap menjalankan pembinaan diri dengan baik.
Selalu memiliki kesadaran yang konsisten. Sesudah mengerti dan tersadarkan, maka langkah pertama yang harus diambil adalah mengurangi kemelekatan (keras kepala), karena orang yang melekat atau keras kepala tidak akan bisa memahami logika yang ada, orang yang mampu berpikir logis tidak akan pernah melekat. Selalu memiliki kesadaran yang konsisten, berarti selamanya dia bisa mengerti, selamanya tersadarkan, dan kesadaran ini akan selalu kekal berada di dalam dirinya, jika seseorang tidak bisa mengerti dan tidak tersadarkan, maka dia tidak akan pernah bisa mempertahankan kesadarannya.
Bila dikatakan dengan menggunakan bahasa sehari-hari, itu sama seperti “sudah jelas semuanya”, karena setelah seseorang bisa mengetahui dan memahami segalanya dengan jelas, dia tidak lagi egois, tidak lagi mengejar ketenaran dan keuntungan, maka Anda sudah mengerti, Anda sudah tersadarkan, maka “kekekalan” ini baru bisa berpijak di dalam pikiran Anda, ini yang disebut dengan konsistensi.
Kalian harus ingat: “Semuanya datang dan pergi dengan sendirinya”.
Segala benda yang ada di alam semesta ini, segala yang baik dan yang buruk, semuanya datang dan pergi dengan sendirinya, datang dan pergi di dalam kekosongan, jika Anda bisa sering berpikir seperti ini, maka pikiran Anda tidak akan bergejolak, Anda sudah memahami bahwa segala hal yang terjadi pada diri Anda dan segala masalah yang Anda hadapi adalah suatu proses yang alami, Anda akan mengerti bahwa penderitaan yang Anda alami sekarang itu dikarenakan diri Anda tidak membina diri di kehidupan sebelumnya, maka sudah selayaknya Anda menerima balasannya di kehidupan ini, jika Anda bisa berpikir seperti itu, apakah Anda masih akan melekat? Bila pikiran kita tidak melekat, maka kecerdasan dari kebijaksanaan Anda akan selamanya ada di dunia ini.
Meninggalkan hasrat untuk memiliki, hasrat di sini adalah sesuatu yang amat sangat ingin dimiliki, coba dipikirkan baik-baik, apa yang bisa seorang manusia dapatkan dari dunia ini? Jika tidak memperoleh apa yang sangat diinginkan, maka yang diperoleh adalah penderitaan dan kerisauan. Hasrat untuk memiliki, sudah jelas bukan milik Anda, namun Anda tetap ingin memilikinya, ketika Anda berjuang untuk mendapatkannya itu adalah suatu proses yang amat menyakitkan.
Saya berharap para pembina diri di dunia ini, melupakan semua hasrat untuk memiliki. Yang diperoleh dari “hasrat” adalah penderitaan, segala yang berupaya untuk didapatkan itu bukan milik Anda, apa yang datang dengan sendirinya itu baru milik Anda.
Segala pemikiran yang timbul bisa dihilangkan seketika, jangan me-nyisakannya di dalam pikiran Anda, karena bila pemikiran ini masih tersisa maka akan mendatangkan malapetaka bagi Anda. Segala hal, segala pemikiran yang timbul, di dalam Ajaran Buddha Dharma dikatakan bisa segera dilenyapkan, akan tetapi bila kalian membiarkan pemikiran itu tumbuh dan berkembang di dalam pikiran kalian, ketika satu pemikiran egois, satu pemikiran tamak, satu pemikiran yang tidak baik dibiarkan berkembang di dalam pikiran Anda, maka ini sangat gawat sekali.
Contohnya, sewaktu mendengar seorang teman menang judi, seketika itu juga Anda langsung memikirkan diri sendiri, “Sebenarnya saya juga memiliki peruntungan seperti itu”, dan saat pemikiran ini keluar, Anda harus segera menghilangkannya, “Saya tidak boleh berpikir seperti itu, terlebih tidak boleh melakukannya, pokoknya tidak boleh, ini sama sekali tidak boleh dilakukan”, harus menghapus pemikiran buruk di awal sesegera mungkin. Ini seperti: ketika menulis menggunakan spidol di papan tulis, walaupun menggunakan spidol warna hitam, namun sewaktu kamu baru saja menulisnya akan sangat mudah dihapus, tetapi setelah lewat beberapa detik, maka tidak akan semudah itu untuk dibersihkan. Ketika timbul pemikiran yang tidak baik, maka pemikiran ini akan menjadi bibit buruk dan tertanam di dalam alam kesadaran alaya Anda,
Pu Sa mengajarkan kita satu cara untuk menghapusnya, yaitu sewaktu muncul pemikiran tidak baik dalam pikiran Anda, sewaktu muncul ide buruk, sewaktu Anda marah, maka Anda harus segera menghilangkannya di detik-detik awal kemunculannya, jika bisa dihilangkan seketika itu juga, maka Anda adalah seorang yang bijaksana. Pada saat muncul satu pemikiran buruk, maka akan meninggalkan buah karma buruk di dalam pikiran Anda, oleh karena itu Pu Sa meminta kita untuk segera menghilangkannya tanpa me-nyisakannya sedikit pun, karena jika membiarkannya tetap tinggal di dalam pikiran Anda, maka dia akan berubah menjadi karma buruk yang mem-bayangi kita.
Seorang awam yang sebelum menjalani pembinaan diri dan tersadarkan, jika memfitnah orang lain dan Pintu Dharma yang baik, maka dia akan mengalami ratusan bencana dan bereinkarnasi ribuan kali, terputus dengan sifat kebuddhaan dalam ratusan kali kelahiran. Orang awam yang belum tersadarkan, belum mengenal Ajaran Buddha Dharma dari para Buddha dan Bodhisattva, dia sendiri belum tersadarkan, jika dia memfitnah Pintu Dharma yang baik, maka dia pasti akan mendapat balasan karma buruk.
Pintu Dharma yang baik adalah sebutan umum, tidak merujuk pada satu Pintu Dharma manapun, jika Anda tidak tersadarkan, maka Anda belum “mendapatkan” Pintu Dharma ini, setelah Anda tersadarkan berarti Anda sudah “mendapatkan” Pintu Dharma ini. Jika Anda memfitnahnya, maka Anda akan menjalani seratus malapetaka (dengan pengertian satu bencana berarti satu malapetaka), terlahir ribuan kali dan ratusan kali kehidupan di antaranya tidak memiliki sifat kebuddhaan.
Apabila seseorang yang memfitnah satu aliran yang benar, setelah melewati ratusan bencana, mengalami ribuan kali kelahiran dan kematian, setelah ratusan kali terlahir tanpa sifat kebudhaan, maka dia tidak akan lagi bisa menemukan sifat kebudhaannya sendiri. Ini seperti terlahir di Alam Binatang. Orang yang tidak tersadarkan pada dasarnya tidak mencapai tingkat kesadaran ini, dan terhadap orang yang tidak memiliki tingkat kesadaran tertentu, jangan memberikan penjelasan mengenai Ajaran Buddha Dharma kepadanya.
Master beri tahu kalian, banyak murid yang menjalankan pembinaan diri, akan tetapi pembinaan yang dijalaninya masih belum bisa membuat pikiran mereka terbebas dari keduniawian, seharusnya melampaui keduniawian Alam Manusia, “melampaui” di sini sama dengan tersadarkan, membina diri setelah tersadarkan akan terasa sangat berbeda sekali dengan pembinaan yang masih terikat dengan kerisauan duniawi itu sendiri, ini sudah menjadi dua konsep yang sama sekali tidak sama.
Yang satu membina diri namun masih memiliki kerisauan, yang satu lagi membina diri tetapi sepenuhnya terbebas dari kerisauan, coba kalian pikir, apakah hasil pembinaan yang dicapai akan sama? Yang satu bagaikan satu bungkusan hampa udara, dengan pikiran yang sangat bersih, sedangkan yang satu lagi masih dipenuh dengan bermacam-macam pemikiran dan keinginan tidak logis dalam pemikirannya.
Contohnya: saat melafalkan paritta, jika membandingkan orang yang me-lafalkan paritta sembari melakukan aktifitas lain dengan yang duduk tenang di ruangan altar, apakah sama hasilnya?
Bila kalian menarik kembali tingkat kesadaran yang dicapai melalui pembinaan pikiran ke dalam kerisauan duniawi, lalu kembali melanjutkan pembinaan diri, itu akan menjadi hal yang sangat melelahkan.-
