30. Pikiran Buddha Sebagai Akarnya, Potensi Kesadaran Sebagai Dasarnya — 心佛为根 悟性为本

Pikiran Buddha Sebagai Akarnya, Potensi Kesadaran Sebagai Dasarnya

Hari ini, saya melihat dua berita, berita pertama mengenai Korea Utara, mengadapi musim kekeringan besar yang belum pernah dihadapi selama 60 tahun terakhir, sudah menyebabkan 20 ribu orang meninggal. Berita yang satu lagi mengenai sebuah kapal pengungsi, terlampir foto saat tentara angkatan laut Australia menolong mereka, karena ombak laut yang terlalu besar, seluruh kapal sampai terbalik, kurang lebih ada 170-180 orang, semuanya adalah wanita dan anak-anak, bertahan di tengah air, coba kalian pikirkan, apakah sekarang masih bukan namanya masa periode akhir Dharma? Setiap orang memikirkan masa depan nanti, akan tetapi ada berapa orang yang benar-benar dapat berpikir tentang masa depan, namun sepenuhnya bisa memahami makna dari masa depan? Oleh karena itu, menekuni Dharma harus melatih hati dan pikiran, melafalkan paritta harus bisa membangun sebuah tembok Buddha dalam pikiran, tembok Buddha ini bertujuan supaya kamu bisa terhindarkan dari segala bencana dan kerisauan duniawi. Lalu mengapa Bodhisattva bisa terbebas dari kerisauan di dunia ini? Jika menggunakan istilah masa kini, karena pada diri Bodhisattva terdapat sebuah “firewall” – tembok pelindung api.

 

Hari ini Master akan membahas tentang ”Dharma tak terkondisi”. Kita belajar Dharma tak terkondisi, bertujuan untuk belajar dasar dari perasaan sukacita. Tidak peduli menghadapi masalah apapun, kita harus bisa bersukacita, menekuni Dharma harus dengan gembira, jika menekuni Dharma malah semakin banyak kerisauan, maka orang ini pasti bermasalah dalam pembelajaran Dharmanya. Dengan memiliki perasaan sukacita, kita baru bisa mencapai Kebuddhaan. Master akan mengatakan satu hal pada kalian, Brahmavihara – cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin, benar tidak? Ini adalah hal yang sering disinggung dalam ajaran Buddha Dharma, namun sesungguhnya, praktiknya dalam kehidupan nyata sangat tidak mudah. Ketika kamu sedang merasa tidak senang, lalu menyuruhmu bersukacita, kamu pun tidak mampu melakukannya; saat kamu membenci orang lain, meminta kamu untuk berwelas asih, kamu pun tidak bisa berwelas asih. Sebenarnya, ketahuilah bahwa setiap orang di Alam Dharma ini semuanya tiada pencapaian apapun. Jika menggunakan istilah masa kini berarti, saya tidak ada apa-apa, di dunia ini saya tidak dapat melakukan apapun, jangan mengira dirimu hari ini bisa melakukan ini, besok bisa melakukan itu. Sesungguhnya, seseorang yang bisa berpendapat kalau dirinya tidak memiliki pencapaian apapun, tidak memiliki apapun, berarti orang ini mulai memiliki potensi kesadaran; kalau orang ini memandang tinggi diri sendiri dan merasa sombong, setiap hari mengejar ketenaran, kekayaan, keuntungan, dan lain-lain, masih memiliki ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan kecurigaan, dengan memiliki semua pemikiran ini, maka kamu akan meninggalkan potensi kesadaranmu semakin jauh. Seorang praktisi Buddhis sejati, harus bisa melepaskan egonya sendiri, harus bisa tersadarkan, cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin merupakan sumber kesadaranmu.

 

Seseorang harus bisa tersadarkan, oleh karena itu, dalam ajaran Buddha Dharma dikatakan, seumur hidup, kamu harus bisa sepenuhnya tersadarkan. Apakah maksud dari sepenuhnya tersadarkan itu? Yakni, apakah kamu bisa memahami dan terbuka kesadarannya, apakah kamu bisa terbebaskan dan tersadarkan, apakah kamu bisa terbebas dari kelahiran dan kematian, kemudian tersadarkan. Seseorang yang benar-benar memiliki potensi kesadaran, dia memiliki kebijaksanaan Buddha dan Bodhisattva. Akan tetapi, ada kesadaran kecil, juga ada kesadaran besar. Kesadaran kecil adalah beberapa kepintaran yang bisa digunakan di dunia, ditambah dengan kebijaksanaan kecil yang dipelajari dari Buddha dan Bodhisattva, membuatnya tersadarkan, adalah pencapaian kesadaran sebagian, bukan tersadarkan yang sesungguhnya. Kesadaran yang sesungguhnya adalah memahaminya, bisa terbebaskan dan mengatasinya, kemudian baru bisa tersadarkan. Coba kalian pikirkan, kita seumur hidup ini, kita bisa melakukan berapa banyak hal? Kita bisa memiliki pencapaian apa, yang kita lakukan dan kita perbuat semuanya adalah demi ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan kecurigaan diri sendiri, hanya saja akan menambah sebagian halangan karma buruk. Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis sejati, harus bisa terlebih dahulu mengatasi ketamakan, kebencian, dan kebodohannya, jika tidak, dirimu tidak akan bisa tersadarkan. Ajaran Buddha Dharma yang sangat sederhana, prinsip kebenaran yang sangat sederhana, akan tetapi jika ingin sepenuhnya meleburkan dan mempraktikkannya dalam keseharian dirimu, perilakumu, pemikiranmu, itu adalah suatu hal yang sangat sulit sekali.

 

Karena halangan karma buruk kita yang terakumulasi dari berkali-kali kehidupan telah membuat kita tidak bisa menerima hal-hal yang bersih, sesuatu yang kita inginkan sudah membuat kita membuang hal-hal baik keluar, karena pikiran kita sudah dipenuhi dengan ketamakan, kebencian, dan kebodohan, oleh karena itu, kebijaksanaan Bodhisattva yang baik sangat sulit memasuki ruang hatimu, inilah mengapa ketika terjadi suatu masalah, mengapa bisa ada sebagian orang yang tiba-tiba hanya bisa tertegun, dan ada sebagian orang yang bisa segera memiliki kebijaksanaan dan punya cara untuk mengatasi masalah-masalah ini. Apakah kalian bisa menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan? Kalian tidak bisa, saat kalian menghadapi masalah, yang akan segera terpikirkan oleh kalian adalah reaksi langsung terhadap masalah ini, bukannya berpikir matang dan memandang lebih jauh, dengan menggunakan kesadaran spiritual Buddha untuk melihat masalah ini. Master akan beri contoh sederhana pada kalian, seorang anak kecil di sekolah, tidak hati-hati melakukan satu kesalahan, dia tidak tahu harus bagaimana, maka selanjutnya, guru akan memberitahu orang tuanya, benar tidak? Sedangkan orang tua mendengar masalah ini, juga tahu, kalau anak masih kecil, karena dia masih belum memahaminya, maka dia baru bisa berbuat begini, dan karena kesadaran spiritual orang tua lebih tinggi daripada anak, maka orang tua tidak akan bertindak gegabah seperti anak, dan tidak akan melakukan hal-hal yang tidak rasional.

 

Seseorang yang benar-benar memahami ajaran Buddha Dharma adalah seseorang yang memiliki kesadaran spiritual Buddha dan Bodhisattva, sedangkan kita di dunia ini, setiap hari mengatakan menekuni Dharma dan meneladani Bodhisattva, akan tetapi sudah berapa dekatnya kamu dengan Bodhisattva? Lalu dirimu bisa seberapa dekat dengan Buddha? Apakah kalian sudah seperti Bodhisattva? Apakah kalian sudah seperti Buddha? Oleh karena itu, satu perilaku, satu tindakan, satu pemikiran yang muncul semuanya harus benar – positif, dinamakan pemikiran yang benar. Jika tidak memiliki pemikiran benar, maka akan mempengaruhi perilakumu, karena pemikiran benar bisa membuatmu berperilaku benar. Kata-kata yang kamu ucapkan jika memiliki suatu kemurnian, jika mengandung kebijaksanaan Buddha dan Bodhisattva untuk menjalin jodoh dengan semua orang, maka kamu akan memperoleh respon pemikiran benar dan perilaku yang benar; apabila kamu menyebarkan ajaran Buddha Dharma atau menolong kesadaran spiritual orang-orang dengan maksud tujuan tertentu, maka yang akan kamu peroleh hanyalah berkah pahala saja, yakni berkah pahala duniawi. Master beritahu kalian, jika tidak menggunakan pemikiran yang benar, Dharma yang benar, jalan pembinaan yang benar, dan waktu yang tepat untuk menghilangkan ketersesatan pikiran, pemikiran yang menyimpang, cara berpikir yang tidak benar, niat yang menyimpang, maka dia tidak akan bisa memperoleh energi yang sesungguhnya, sedangkan cahaya Buddha adalah energi kita. Karena kamu memiliki pemikiran liar dalam hati, meskipun cahaya yang kamu keluarkan adalah 100, namun balasan yang kamu terima kembali paling banyak juga hanya 50, karena ada pemikiran liar di hatimu, maka 50% itu akan menambah halangan karma burukmu, seperti yang dikatakan orang-orang, menambah halangan karma buruk yang tidak perlu. Oleh karena itu, saat kalian pergi memperkenalkan dan membabarkan Dharma kepada orang-orang, harus benar-benar bersih, harus menggunakan pemikiran Bodhisattva di dalam pikiran, kemudian baru bisa menyalurkan pemikiran Bodhisattva ke dalam jiwa orang lain.

 

Harus memandang segala hal di dunia ini sebagai ujian bagi kamu di Alam Manusia. Apakah kalian bisa melakukannya? Ini adalah prinsip yang sederhana, jika hari ini kamu di dunia ini menjalani jalan untuk mencapai kesadaran Bodhisattva, maka kamu tidak perlu khawatir akan pergi ke Alam Antarabhava setelah meninggal, kamu juga tidak perlu khawatir saat meninggal akan turun ke alam bawah. Master telah melihat banyak orang yang turun ke bawah, begitu rohnya meninggalkan tubuhnya, terlebih dahulu dibawa pergi oleh Petugas Hitam-Putih di Neraka, jika kamu membina diri, maka kamu bisa langsung naik ke Surga, karena di dunia ini kamu menjalankan praktik pembinaan untuk menjadi Bodhisattva; kalau di dunia ini kamu melakukan banyak hal-hal seperti di Alam Binatang, maka maaf, saat kamu dibawa pergi, akan ada tongkat besi berkait atau penggaruk besi yang akan menarikmu turun; kalau di dunia ini kamu tidak baik juga tidak jahat, tidak melakukan perbuatan baik, juga tidak melakukan perbuatan jahat, maka di kehidupan selanjutnya, kamu masih akan terlahir sebagai manusia, berarti semasa hidupmu di dunia ini, perbuatanmu masih lumayan, kamu masih berperilaku layaknya manusia. Oleh karena itu, di Alam Manusia ini, sesungguhnya sudah mulai digambarkan sebuah fenomena di enam alam, coba lihat semua fenomena kita di Alam Manusia, kamu akan tahu ke mana kamu akan pergi ke masa depan nanti.

 

Pembinaan diri yang sesungguhnya harus membina diri dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam, karena sisi dalam adalah yang utama, faktor luar adalah syarat perubahan, sedangkan faktor dalam adalah dasar perubahan. Baik atau buruknya pembinaan diri seseorang, bukan berdasarkan kekuatan pengaruh dari luar, melainkan mengandalkan sifat dasar dari dalam hatimu, dengan pencemaran yang kamu terima yang akan menentukan terakhir kamu akan terlahir di alam mana. Oleh karena itu, Master meminta kalian memandang segala hal di dunia ini sebagai ujian jiwamu, setiap masalah yang terjadi adalah suatu ujian terhadap dirimu. Apakah kamu ini bisa menjadi Bodhisattva atau tidak, pemahaman dan cara penyelesaian kamu terhadap masalah ini adalah menggunakan pemikiran Bodhisattva untuk menyelesaikannya, atau menggunakan pemikiran manusia untuk menyelesaikan masalah ini, atau menggunakan pemikiran setan dalam menyelesaikan masalah ini, semuanya adalah ujian bagi seseorang, ujian terhadap suatu masalah, sesungguhnya merupakan suatu ujian bagi kamu yang setelah membina pikiran apakah benar-benar bisa mempraktikkannya ke dalam kehidupan nyata.

 

Oleh karena itu, asalkan kamu bisa melampaui semua kesulitan dan kerisauan yang kamu hadapi, jika menggunakan istilah masa kini, berarti kamu telah melampaui sebuah gunung besar, kamu telah melewati satu halangan, kamu telah melampaui satu halangan dalam pikiranmu, maka kamu akan mendapatkan lebih banyak, kamu akan bisa berdiri lebih tinggi dan melihat lebih jauh. Jika kamu tidak bisa melewati ujian perihal uang, berarti kamu masih ada ketamakan, masih memiliki keinginan, hari ini kamu masih tergoda dengan uang, maka halangan karma buruk dalam pikiranmu akan terus terlahir. Kalian harus ingat, Master bisa melihat bunga lotus di Surga, dan bisa melihat halangan karma buruk dalam pikiran seseorang, dia itu adalah hal yang berbeda, jika adalah halangan karma buruk, dia akan berubah dari bayangan hitam menjadi semakin besar, jika Master melihat pada dirimu ada 70% bayangan hitam, maka pada saat itu, bayangan-bayangan hitam ini akan berkembang menjadi lebih banyak bayangan gelap, dengan kata lain, seiring dengan beratnya halangan karma burukmu yang tidak dihilangkan, maka akan bertambah semakin dalam. Master melihat halangan karma buruk banyak orang, awalnya mulai dari 50% mulai menghitam, akan tetapi pelan-pelan sampai 60-70%, apakah kalian mengerti? Seperti kalian lihat ada orang yang menulis di kertas kaligrafi dengan huruf kaligrafi,  cairan tinta sangat pekat, begitu dituliskan, tintanya akan segera melebar. Jika halangan karma buruk kalian adalah titik hitam ini, maka yang tersebar oleh kalian pasti sepekat dan sehitam tinta, oleh karena itu, inilah balasan karma kalian, juga dinamakan efek halangan karma buruk.