Shuohua20171110 07:24
Sebagai manusia harus meyakinkan orang lain dengan moralitas; menghormati guru dan ajaran adalah hukum Alam; Bodhisattva dan Dewa Pelindung Dharma sangat menghargai perasaan
Pendengar pria: Master, dulu Anda pernah mengatakan “Menjadi manusia harus bermakna dan bermartabat, jangan tidak bermartabat”.
Master menjawab: Benar. Yang harus kamu tinggalkan adalah moralitas atau kebajikan, bukan uang. Kekayaan tidak ada gunanya, harus tinggalkan moralitas atau kebajikan (benar. Saya ingat moto sekolah Universitas Tsinghua yaitu “zi qiang bu xi, hou de zai wu – berusaha terus tanpa henti, dengan kebajikan besar seseorang dapat menguasai dunia, ada moral baru bisa melakukan hal besar.”) Ya benar, meyakinkan orang dengan moralitas. Meyakinkan orang dengan nalar hanya bersifat sementara, dan orang lain tidak menerimanya, harus dengan moralitas (benar) begitu banyak orang mengikuti saya, mereka yakin bukan karena dengan kebenaran yang saya jelaskan, tetapi mereka yakin karena moralitas atau kebajikan saya.
Lihatlah saya, menyelamatkan orang-orang tanpa peduli nyawa sendiri (benar. Master, karena welas asih Anda, karena Anda …) Bahkan hal yang baru saja saya lihat tadi membuat saya sangat sedih. Saya segera akan pergi ke Melbourne untuk mengadakan seminar Dharma, mereka datang ke Sydney selama sekitar satu minggu, mereka berada di bawah setiap hari, mereka juga tidak dapat bertemu dengan Master, namun kedengarannya seperti mereka bersama Master. Mereka akan segera pergi ke Melbourne, tadi di pintu gerbang, mereka melihat Master datang, mereka semua menangis. Mengapa? Mereka merasa seolah-olah mereka akan meninggalkan rumah ini. Karena satu minggu, dua minggu ini, mereka merasa ini adalah rumahnya.
Coba kamu lihat, betapa adanya perasaan keluarga dalam diri mereka, betapa adanya perasaan pulang ke rumah. Ketika mereka melihat Master datang, mereka semua meneteskan air mata. Saya mengatakan kepada mereka bahwa kita akan segera bertemu di Melbourne, mereka semua meneteskan air mata. Mereka enggan berpisah dengan Master dan keluarga ini, serta Guan Shi Yin Pu Sa kita. Salah satu biksu kami mampir untuk mengunjungi kerabatnya, dia selalu memikirkan Australia setiap hari dan ingin kembali untuk mendengarkan ceramah Master. Manusia memiliki perasaan, dan manusia tidak langsung meninggalkan orang ini ketika mereka sedang marah. Ini adalah… Ini adalah binatang, ia tidak memiliki pemikiran.
“Tahu berterima kasih dan membalasnya”, tidak peduli bagaimana Master, kamu juga tidak boleh tidak menghormati Master, ini adalah hukum alam. Jika kamu bahkan tidak sanggup melakukan ini, maka kamu bukanlah manusia, tidak memiliki moral. Ayah dan ibu membesarkanmu seumur hidup, dan kamu pergi karena berselisih dengan ayah dan ibu hanya karena satu atau dua kalimat, apakah menurutmu anak ini anak yang baik? (Bukan. Master, seperti yang Anda katakan tadi, manusia harus menghargai perasaan, jadi apakah Bodhisattva juga menghargai perasaan?) Menghargai, sangat menghargai. Bodhisattva amat sangat menghargai perasaan. Di kehidupanmu sebelumnya, dua dan tiga kehidupan sebelumnya, jika kamu menyembah Guan Shi Yin Pu Sa, kemungkinan kamu akan mengenal Buddha Dharma dalam kehidupan ini, mengenal ajaran Xin Ling Fa Men. Sungguh, Guan Shi Yin Pu Sa sangat menghargai perasaan.
Kamu lihatlah Sang Buddha, murid mana yang Beliau rela lepaskan? (Ya) Lihatlah Devadatta yang akan menjebak Sang Buddha (ya, dia juga berhasil membina diri pada akhirnya) Sang Buddha memberkatinya, jatuh ke alam Neraka dan akhirnya juga naik ke atas, karena Sang Buddha memaafkannya (wah) Sekarang tahu bahwa welas asih Sang Buddha melebihi langit, lebih tinggi dari gunung, lebih besar dari laut, bukan? (Ya) Sekarang tahu bahwa manusia harus memiliki toleransi, bukan? Jika Master tidak punya toleransi, apakah akan ada begitu banyak orang yang mau belajar?
Lihatlah, begitu ketatnya saya terhadap kalian, mengapa kalian tidak pernah pergi? (Ya. Master, Anda baru saja mengatakan bahwa Bodhisattva sangat menghargai perasaan, lalu bagaimana dengan Dewa Pelindung Dharma?) Mereka lebih menghargai perasaan tetapi karena pekerjaannya….. seperti polisi. Apakah tidak ada polisi yang baik? (Ada) Tentu ada banyak polisi yang tidak baik, jika kamu benar-benar menegakkan hukum, maka kamu akan sambil meneteskan air mata saat menegakkan hukum. “Mengapa kamu ingin melanggar hukum?” Bukankah para polisi di lembaga kerja paksa menangis saat mendidik mereka? “Betapa kasihannya mereka, lihatlah sudah masuk ke dalam.” (Benar, sudah mengerti. Terima kasih Master welas asih memberi wejangan).
Shuohua20171110 07:24
做人要以德服人;尊师重道是天理;菩萨和护法神都很重感情
男听众:师父,您以前说的一句话“做人要重于泰山,不要轻于鸿毛”。
台长答:对啊,你要给人家留下的是德,而不是钱,财没有用的,要留德(对。我记得清华大学那个校训就是“自强不息,厚德载物”,有德才能载物)对啊,以德服人。以理服人是暂时的,人家不买账的,要以德(对)这么多人跟着我,人家不是服我讲道理,人家是服师父的道德。你看我,不要命地在救人(对。师父,就是您的慈悲,就是您……)就刚刚看见的一幕,我都很难过。我马上到墨尔本去开法会了,他们来悉尼大概一个多礼拜吧,天天在下面,他们又见不到师父,但是听听好像跟师父在一起。他们马上要到墨尔本去了,刚刚在门口,看见师父来了,全部在掉眼泪。为什么?他们就觉得好像要离开这个家一样。
就是这一个礼拜、两个礼拜,他们觉得这是一个家。你看看,他们多有家的感觉,多有回家的感觉。他们看见师父来了,他们都流眼泪。我跟他们说马上在墨尔本见面了,他们都流眼泪。他们就不舍得师父,不舍得这个家,不舍得我们的观世音菩萨。我们一位法师顺路回家探了探亲,他都天天想着澳洲,想着要回来听师父开示。人有感情的,人不会一时生气马上离开这个人,那是一个……这是个动物啊,它是没有思维的。“知恩图报”,师父再怎么样,你也不能不尊师重道的,这是一个天理。
你连这点都做不到,你就不是一个人了,没道德了。爸爸妈妈养你一辈子,你为了一句话、两句话,跟爸爸妈妈闹翻了就离开了,你说这个孩子是个好孩子吗?(不是。师父,您刚才讲的,人是要重感情的,那菩萨也重感情吗?)重啊,重得不得了,菩萨是很讲感情的。你上辈子、前辈子、再前辈子,只要拜拜观世音菩萨,你可能这辈子就闻到佛法了,你就闻到心灵法门了。真的,观世音菩萨多讲感情啊。你去看看佛陀,哪一个弟子他舍得放的?(是)你看看那个准备陷害佛陀的提婆达多(嗯,他最终也是修上去了)佛陀加持的,下了地狱之后最后还是上去,是佛陀原谅了他(哎呀)现在知道佛陀的慈悲胜于天,高于山,大于海了吧?(嗯)现在知道人要有肚量了吧?师父没有肚量能这么多人学?
你看我对你们这么严格,为什么大家不离不弃啊?(是的。师父,您刚才讲了菩萨重感情,那护法神呢?)更重感情,只是他的工作职业……就像警察一样,好的警察没有的?(有)不好的警察那当然多了,你真的是执法,一边执法一边掉眼泪啊。“为什么你要犯法?”劳教所那些警察不都是一边在教育他们,一边在掉眼泪啊?“他们这么可惜啊,你看到里边来了。”(对,明白了。谢谢师父的慈悲开示)
