wenda20131027A 30:44
Jangan membanggakan diri; perbuatan baik kalau sering diceritakan bisa jadi hilang, belajarlah untuk tidak menjelaskan diri
Pendengar wanita: Menjelang Hari Pelepasan Agung Guan Shi Yin Pu Sa, saya sedang tidur. Sepertinya di dalam mimpi, tetapi saya tidak ingat mimpinya. Mulut saya terus melafalkan: ‘Na Mo Da Ci Da Bei Jiu Ku Jiu Nan Guang Da Ling Gan Guan Shi Yin Pu Sa Mo He Sa’. Melafalkan sebanyak tiga kali, lalu saya terbangun. Saat sudah bangun pun mulut saya masih melafalkan. Saya tidak tahu ini apa yang terjadi.
Master menjawab: Itu sangat baik. Kamu hanya jangan membanggakan diri saja. Di dalam mimpi melafalkan, bangun pun masih melafalkan, ini menunjukkan bahwa kamu sudah masuk ke dalam kesadaranmu, ini hal yang sangat baik. Kurangi membanggakan diri, kurangi meminta Master memuji kamu. Kalau saya memuji kamu, itu justru bisa mengurangi jasa kebajikanmu. (Bukan begitu… saya tidak tahu apakah Bodhisattva ingin saya melakukan sesuatu atau bagaimana…) Tidak ada apa-apa. Kamu melafalkan paritta dengan baik; di mimpi pun melafalkan, bangun pun melafalkan, melafalkan secara alami, ini berarti kamu sudah melafalkan sampai masuk ke dalam hati. Hal baik jangan terlalu banyak diceritakan; kalau diceritakan, bisa jadi tidak ada. (Oh. saya kira Bodhisattva memberi petunjuk agar saya melakukan sesuatu.) Masih ada pertanyaan lain? (Setelah jeda satu hari saya masih begitu, hanya lafalan yang lebih pendek. Saya jadi takut. Saya tidak tahu Bodhisattva ingin saya melakukan apa…) Kamu sudah melekat! Master sudah bilang kepadamu, jangan terlalu melekat. (Beberapa hari ini saya terus terpikir untuk membagikan DVD di pasar sayur dan pasar malam. Saya kira Bodhisattva ingin memberi tahu saya sesuatu.) Kalau mau membagikan, ya bagikan saja. Apa yang perlu banyak dibicarakan? Kamu ini benar-benar tidak mengerti apa yang Master katakan, tidak memiliki kebijaksanaan. Kamu sampaikan ke seluruh dunia bahwa kamu mau berbuat jasa kebajikan. Jangan katakan. Lakukan saja perbuatan baiknya. Jujur kata, untuk hal seperti ini, selama kamu punya kekuatan tekad, Dewa Pelindung Dharma akan segera datang memberkati kamu. Segera “Aduh, lihat, Bodhisattva pun datang memberkati saya!” (Tidak, tidak, karena sebelumnya…) Jangan “karena”. Bicara dengan Master jangan pakai “karena”, jangan pakai “jadi”. (Baik, baik.) Tidak ada “jadi atau “karena”. Saya mengatakanmu, maka kamu harus berubah, cukup memperbaiki diri saja. (Mungkin saya beberapa hari ini…) Lihat, bisa berubah tidak? “Mungkin” itu sama saja seperti “karena”, kan? Mungkin saya beberapa hari ini… (Tidak, tidak) Jangan menjelaskan! Semakin dijelaskan semakin merepotkan; di dunia ini semuanya adalah kosong. Jangan menjelaskan, baru bisa membina diri dengan baik. Coba kamu lihat, ada tidak biksu agung di vihara yang menjelaskan dirinya denganmu? (Tidak, tidak, Master, maaf.) Nanti kamu masih akan menjelaskan lagi, kamu sudah jadi kebiasaan. Jadi, kebiasaan burukmu ini harus diperbaiki, kalau tidak kalian tidak akan bisa membina diri dengan baik. (Saya tahu. Master, karena sebelumnya…) Nah, lihat kan, “karena” lagi. Bisakah kamu berubah? Suamimu bilang satu kalimat saja, kamu terus: “karena… jadi…; bukan hanya… tetapi juga…”. Tidak bisa diubah! (Karena sebelumnya saya pernah minta Master menafsirkan sebuah mimpi) Lihat, “karena karena karena…”, aduh, tidak bisa diubah. (Bukan, Master…) Kamu mulai sekarang tidak boleh berbicara (Saya sekarang ada satu hal penting mau bertanya. Sebelumnya, saya pernah bermimpi, Master berkata bahwa kepala saya mungkin akan tumbuh sesuatu. Kemudian saya terus berpikir ingin menelepon acara totem untuk minta Master lihatkan. Mungkin karena saya terlalu banyak berpikir atau bagaimana, jadi muncul mimpi itu… Maaf, Master! Karena di hati saya terus memikirkan hal itu, saya sangat takut.) Sekarang kamu harus bagaimana berbicara? Hal pertama sudah Master jelaskan, baik, selesai. Lalu kamu bicara hal kedua. Jangan pakai “karena… jadi…; bukan hanya… tetapi juga…”. Merangkainya Bersama (Baik, mengerti. Master maaf.) Master sekarang melatih kamu untuk mengatakan “maaf”. Sebenarnya bukan supaya kamu minta maaf kepada saya, tetapi supaya nanti kalau kamu bertemu orang dan kamu salah bicara, kamu langsung bilang, “Maaf ya.” Suamimu terhadap kamu… “Oh, maaf ya!” Menurutmu suamimu akan makin sayang tidak? (Saya mengerti.) Ini melatih kalian agar tahu bagaimana rendah hati; bagaimana seorang praktisi Buddhis mengerti untuk tidak selalu menjelaskan diri. Tidak ada alasan, terima sajalah sendiri. Kamu akan semakin baik dalam membina diri. (Master, saya paham.)
wenda20131027A 30:44
莫夸耀自己,好事讲了会没有;学会不解释
女听众:在观世音菩萨出家日之前,我是睡着的,好像在梦里,可是不记得梦境,嘴巴里就一直念“南无大慈大悲救苦救难广大灵感观世音菩萨摩诃萨”念了三遍我就醒了,醒着的时候嘴巴还在念,不知道是怎么一回事。
台长答:很好了,你不要夸耀自己就好了。梦中在念,醒过来也念,说明你已经到意识当中了,这是一个非常好的事情。少夸耀,少要师父讲你好,我讲你好的话你会损伤功德的(不是不是,不知道是菩萨要我做什么,还是怎么样)没有什么了,念经念得好,梦中也念,醒过来也念,自然地念,说明你已经念到心里去了。好事情要少讲,讲了会没有的(噢,我以为是菩萨给我开示要我去做什么)还有什么问题?(隔了一天我还是这样,讲得比较短的,我就很怕。不知道菩萨要我去做什么……)你已经执着了!台长已经跟你说了,不要这么执着了(这几天一直想着要去菜市、夜市分DVD,我以为菩萨要告诉我什么)去分就去分了,有什么好多讲的。台长讲话你都听不懂,没有智慧啊!你去讲给全世界的人听,说你要做功德了。不要讲啊,做好事情就做。讲老实话,像这种事情,你只要有愿力,马上护法神会来加持你的。马上“哎呀,你看菩萨都来加持我了!”(没有没有,因为之前……)不要因为,跟台长讲话不要“因为”、不要“所以”(好好好)没有什么“所以、因为”的。我讲了你就改,改了就可以了(可能我是这几天……)你看改得了吗?“可能”跟“因为”不是一样的吗?可能是我这几天……(不是不是)不要解释!解释越麻烦,在人间都是空的东西。不要去解释,那才能修得好。你去看看庙里哪一个高僧大德会跟你解释?(没有没有,师父,对不起)你接下来还会解释呢,你已经成习惯了。所以你这种毛病要改,否则你们修不好的(我知道。师父,因为之前……)看见了吧,“因为”,你改得了?你老公讲你一句话,你不停地“因为……所以……;不但……而且……”。改不了的!(因为之前我有请师父帮我解个梦)你看“因为因为因为……”,哎哟,改不了(不是,师父……)你现在就不许讲(我现在有一个重点要问师父,我之前一个梦,师父讲我的头可能会长东西,后来我就一直想着要打进图腾电话请师父帮我看。可能是我想的太多还是怎么样,才会有这个梦境……对不起,师父!因为心里一直想着那件事情,很害怕)你现在应该怎么讲话,第一个事情师父讲过了,好,结束。你再讲第二个事情,不要“因为……所以……;不但……而且……”把它串在一起(好,明白。师父,对不起)师父现在是训练你说“对不起”。实际上不是要你对我“对不起”,是要以后你碰见什么人,跟人家讲错了,你马上“对不起啊”,你老公对你……“噢,对不起啊!”你说你老公会不会爱你啦?(我知道)是训练你们怎么样懂得谦卑,怎么样懂得学佛人不要去解释,没有理由的,就自己接受,你会越修越好(师父,我懂)
