Pertanyaan di Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Melbourne – Australia, 6 Desember 2019
Pertanyaan 21: Menjadikan diri semakin tenang dan bijaksana adalah membina diri; Belajarlah untuk rendah hati
Tanya: Dalam pembinaan diri, ada orang yang begitu menghadapi kesulitan langsung terpuruk, semangatnya menurun, tidak lagi rajin membina diri, bahkan muncul keinginan untuk mundur. Namun, ada juga orang yang justru semakin kuat menghadapi ujian, seolah-olah penderitaan memberi mereka kekuatan yang tak terbatas. Kita semua memiliki sifat Kebuddhaan, tetapi mengapa reaksi kita terhadap kesulitan bisa begitu berbeda? Apakah ini berkaitan dengan tingkat kesadaran spiritual seseorang, akar kebajikan, karma, atau jalinan jodoh dengan ajaran Buddha? Dalam menghadapi kesulitan, bagaimana kita bisa mengubah penderitaan menjadi kekuatan dan terus melangkah dengan teguh?
Jawab: Sebenarnya, belajar Buddha Dharma itu sangat sederhana — dengan tulus dan sepenuh hati menyembah Buddha, memperluas jalinan jodoh baik, lalu melafalkan paritta Li Fo Da Chan Hui Wen. Sesungguhnya, kita jangan menganggap belajar Buddha Dharma itu sesuatu yang rumit, tetapi adalah bersikap rendah hati, suatu pertobatan, dan perenungan diri. Seperti halnya duduk dalam meditasi Zen atau mencapai ketenangan batin, ia memiliki kebijaksanaan, ia akan membuat dirinya semakin tenang dan semakin bijaksana, orang ini disebut membina diri. “Aduh, Bodhisattva! Aku teringat masa lalu, betapa buruknya Aku dulu! Apa yang harus kulakukan?” — Tidak ada gunanya.
Hiduplah dengan tenang, rendah hati, dan damai, keselamatan adalah berkah. Bertobatlah dengan sungguh-sungguh atas masa lalu, milikilah kebijaksanaan yang lebih baik, biarkan diri sendiri bisa berhasil membina diri dalam kehidupan ini. Belajarlah untuk lebih rendah hati. Jangan terus berkata, “Aku begini, Aku begitu,” lalu menceritakannya ke mana-mana. Saya beritahu padamu, menuntun orang lain juga ada caranya. Ada orang yang suka berbicara ke mana-mana, tapi yang benar-benar tertuntun hanya sedikit. Namun ada juga orang yang menuntun satu per satu dengan diam-diam; banyak teman se-Dharma yang menolong orang lain tanpa diketahui, tanpa pernah membicarakannya — itulah yang disebut kebijaksanaan Mengertikah? (Sudah mengerti)
191206澳大利亚・墨尔本世界佛友见面会提问
提问21 让自己变得越来越沉静、有智慧,就是修行;要学会低调
问:有些人在修行中往往被困境一击就垮,很快就不精进、不努力,甚至生出退转的念头;但有些人却越战越勇,仿佛磨炼带给他无穷的能量。我们每个人都有佛性,为什么在逆境中所呈现出来的就这么不一样?这种情况是和他个人的境界、根基、业障,还是学佛的缘分有关呢?在逆境中,我们要怎样化腐朽为神奇,一路坚定而行?
答:其实学佛很简单,诚心诚意地拜佛,广结善缘,然后礼佛忏悔。实际上人不要觉得学佛是一个什么什么,就是一种低调,就是一种忏悔,就是一种反思。就像禅坐、禅定一样,他有智慧,他让自己变得越来越沉静,变得越来越有智慧,这个人就是在修行。“哎呀!菩萨啊,我想起了过去,我多不好啊!我要怎么样啊!”——没用的;很冷静,很低调,很安静地活着,平安就是福,好好地忏悔过去,拥有更好的智慧,让自己一世修成,学会更低调。不要“我怎么样,我怎么样”,到处去讲,到处去弄。我告诉你,度人都有方法,有的人就是到处去讲,度嘛没度到几个人;有的人一个个都在度,很多佛友都在默默地度人,他不知道度了多少,他从来不讲的,这就叫智慧。听懂了吗?(听懂了)
