Bagaimana upasaka/upasika memahami tolak ukur dalam mencintai anak-anak 学佛居士如何把握爱孩子的尺度

 

wenda20150717 01:08:56

Bagaimana upasaka/upasika memahami tolak ukur dalam mencintai anak-anak

Pendengar pria: Kita selain harus menjadi seorang umat Buddhis yang penuh kasih dan loyal, ketika berinteraksi dengan teman atau anggota keluarga yang tidak percaya pada Buddha harus menyesuaikan jodoh dan tidak melakukan karma baru, juga bukan karena harus menjaga kemurnian diri sehingga sengaja acuh tak acuh dan menjauhkan diri dari mereka, bagaimana harus menguasai tolak ukur ini?

Master: Sangat sederhana, terkadang demi kebaikan anak-anak, harus banyak berkorban. Misalnya, seseorang yang benar-benar menyayangi anaknya, tidak boleh terlalu memanjakan anak, cukup sayangi di dalam hati. Beberapa hari yang lalu, saya membantu seseorang, seorang ibu yang mengalami kegagalan dalam pernikahan, anaknya telah berpisah dengannya dan tinggal bersama suaminya. Hari itu suaminya meminta seseorang mengantarkan anak untuk bertemu dengan ibunya, dalam hati ibu merasa sangat sedih ketika melihat anaknya, setiap hari lengket dengan anaknya. Kemudian Master menasihati dirinya: Jika kamu masih ingin hidup bersama anak ini, kamu jangan berperilaku seperti ini, karena dalam hati anak akan merasa tidak dapat berpisah dengan ibunya. Jika beberapa hari terakhir ini kamu bersikap begitu baik padanya, akan sangat menderita ketika dia pergi.

Oleh sebab itu, cara yang terbaik adalah bersikap acuh tak acuh, agar anak merasa harus mengikuti ayah atau ibunya lebih baik di masa depan, dengan demikian agar anak memiliki perasaan yang tenang dalam hati, jika tidak, ketika pulang, anak akan berbuat onar dengan ayahnya: “Saya mau ibu, saya tidak mau ibu yang sekarang”, coba kamu katakan, bagaimana ayah dapat menjalani hidupnya kelak? Coba kamu katakan, apakah pada akhirnya ayahnya akan bersikap baik dengan dia? Apakah ibu akan bersikap baik dengan dia? Dengan demikian, bukankah telah mencelakai anak? Jika kamu mampu, bawalah anak bersamamu, namun kamu juga tidak mampu membawa dia bersamamu, bukankah kamu mencelakai anakmu? Oleh sebab itu, terkadang memanjakan tidak akan membawakan hasil, hal yang dilakukan berbeda dengan hasilnya. Berharap semua praktisi Buddhis harus memiliki kebijaksanaan, jika sungguh menyayangi anak, jangan memanjakannya, harus tegas terhadap dirinya, ini baru disebut menyayangi. Jika kamu memanjakan dia, maka akan mencelakai anak, bukankah logika kebenaran ini sama dengan kita di alam manusia? (Sudah mengerti, terima kasih Master welas asih memberi wejangan!)

 

wenda20150717 01:08:56  

学佛居士如何把握爱孩子的尺度

男听众:我们既要做一个有情有义的佛子,在跟不信佛的朋友或家人相处的时候随缘而不造业,又不因要保持自己清净而故意冷漠、远离他们,该如何掌握这个度呢?

台长答:很简单,有时候为了孩子好,必须要舍出很多。比方说一个人真的爱孩子,不能太宠孩子,心里爱他就可以了。我前几天曾经帮助一个人,一个妈妈婚姻失败,她的孩子跟她已经分开了,跟先生过。先生那一天托人把孩子带过来给妈妈看看,妈妈看见自己的孩子心里很难过,天天黏着孩子。台长就教育她:你如果还要跟这个孩子过日子,你就不要这么做,因为孩子心里觉得离不开妈妈。如果你最近这几天对他好得不得了,等到他走的时候会非常痛苦。所以,最好的方法就是有意地冷漠,让孩子觉得应该跟他爸爸或者他以后更好的妈妈,这样才让孩子心里有个踏实感,否则孩子一回去天天跟他爸爸闹“我要妈妈,我不要现在这个妈妈”,你说爸爸以后这个日子怎么过?最后你说爸爸会对他好吗?妈妈会对他好吗?这样的话不是害了孩子吗?你有本事就把孩子带过来,你又不能带过来,你不是害孩子吗?所以,有的时候宠爱并不会达到一种效果的,做的事情和结果并不是一样的。希望大家学佛人要有智慧,真正爱孩子不能宠他,要对他严格,那才叫爱。如果你觉得宠他,你就害孩子,这个道理不就是跟我们人间一样吗?(明白了,谢谢师父慈悲开示!)