Bagaimana menyeimbangkan perasaan tidak tega saat harus memberhentikan karyawan? 企业辞退员工,怎么平衡心里的不忍

 

Pertanyaan di Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Auckland, 8 November 2019

Pertanyaan 5: Bagaimana menyeimbangkan perasaan tidak tega saat harus memberhentikan karyawan?

Tanya: Beberapa rekan se-Dharma adalah pemilik atau eksekutif perusahaan. Mereka sedang belajar dan mempraktikkan semangat welas asih Guan Shi Yin Pu Sa, berusaha mengelola perusahaan dengan baik, bukan hanya demi diri sendiri, tetapi juga untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan membantu orang lain. Namun, terkadang mereka menghadapi situasi di mana harus memberhentikan karyawan yang tidak kompeten, atau karena tekanan perkembangan perusahaan, terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja dalam jumlah besar. Di dalam hati mereka merasa sangat dilema dan bertentangan. Mohon petunjuk Master, bagaimana mereka dapat menyeimbangkan perasaan yang bertentangan ini? Selain itu, apakah tindakan memberhentikan karyawan berarti menyentuh karma karyawan tersebut? Atau apakah hal itu sebenarnya merupakan akibat dari karma mereka sendiri?

Jawab: Pertama-tama, kamu adalah seorang pengusaha. Hubungan antara kamu dan karyawan adalah hubungan antara atasan dan bawahan. Jika karyawan bekerja dengan buruk, tentu ada kesalahannya sendiri. Maka, jika kamu memberhentikannya, dari sudut pandang manusia, itu adalah hal yang wajar. Namun, jika kamu adalah seorang praktisi Buddhis, dan kamu merasa tidak tega untuk memberhentikannya, kamu bisa punya banyak cara. Kau lihat, dulu ketika perusahaan Mitsubishi di Jepang hampir bangkrut, seluruh perusahaan benar-benar berada di ambang kehancuran. Dia berkata:  “Saya punya dua cara. Pertama, kalian semua bertahan bersama saya selama dua atau tiga tahun. Jika nanti Mitsubishi benar-benar bangkrut, saya akan menjual seluruh harta pribadi saya — termasuk pabrik dan semua aset perusahaan — untuk membayar kalian kembali. Tapi kalau kalian mau tetap bersama saya sekarang, kita akan makan seadanya, menerima sedikit uang untuk biaya hidup, dan kalian bantu saya bertahan. Jika nanti saya berhasil bangkit kembali, saya akan menggandakan bayaran kalian.” Alhasil, semua karyawan tidak mau pergi. Mereka memilih tetap bekerja di pabrik dengan gaji yang lebih sedikit. Hasilnya, perusahaan itu benar-benar berhasil bangkit, dan sekarang Mitsubishi menjadi perusahaan yang sangat terkenal. Pemiliknya pun benar-benar menepati janjinya dan membayar kembali seluruh upah mereka. Saya pikir, kalau dia benar-benar merasa bahwa para karyawannya sangat baik dan telah banyak membantunya, meskipun sekarang jumlah pegawai sudah banyak, dia bisa saja berdiskusi dengan mereka: “Nanti kalau perusahaan sudah membaik, saya akan memberikan kompensasi tambahan,” atau membuat perjanjian tertulis. Itu adalah wujud hatimu yang welas asih, benarkah?  Namun, kalau di hati masih merasa tidak tenang, tapi di mulut ingin berpura-pura seolah-olah penuh welas asih — “Oh, saya ini orang yang penuh welas asih, tapi tetap harus memberhentikan mereka” — maka jangan bertanya kepada saya. Kalau memang harus diberhentikan, ya berhentikan saja. Mengertikah? (Baik, terima kasih Master)

 

191108新西兰奥克兰世界佛友见面会提问

提问5 企业辞退员工,怎么平衡心里的不忍

问:有的同修是企业的老板或高管,他们在学习和实践观世音菩萨的慈悲精神,努力经营企业,不仅为了自己,也为了能够创造更多的就业岗位,帮助他人。但有时会遇到需要辞退一些不称职的员工,或者因企业发展的压力,需要大批裁员的情况,内心深处非常纠结和矛盾。请师父指点,他们如何去平衡这种矛盾呢?还有,辞退员工的行为算不算动了员工的因果?还是这些员工自身业力的缘故呢?

答:首先,你是搞企业的,员工跟你的关系就是老板跟雇员的关系,员工如果工作得不好,肯定他有他的毛病,那你辞退他,从人的道理上来讲,也是正常的。但是如果你是学佛人,你不愿意辞退他,你可以有很多方法。你看当年日本的三菱公司要倒闭的时候,当时整个要倒闭了,他说:我有两个方法,一个,你们所有的人跟我一起撑下去,撑过两三年,三菱公司如果以后完全倒闭了,我把我的家产,就把这个工厂、所有的企业卖了,还给你们钱;如果你们现在跟着我,就吃饭,拿一点少许的生活费,然后你们帮着我一起撑,等到我以后翻身了,我加倍给你们。结果所有的员工都不愿意回去,都要坚持在工厂里少拿点钱。结果这个企业真的成功了,三菱现在这么有名,他们的老板真的全部给他们把工钱补回来。我觉得如果他真的觉得这个员工很好,帮了他很多,虽然现在职员比较多,可以跟他商量,“以后公司好了,再多退赔你一点”,或者立个和约,这是你的慈悲心,对不对?如果你实在觉得心上挂不住,但是嘴上又要好像假门假事的,“哎哟,我很慈悲的,但是必须要弄走”,就不要来问我,该辞就辞退了,听得懂吗?(好的,感恩师父)