Bagaimana menjaga “pikiran semula ” dalam belajar Buddha Dharma 学佛如何保持初始心

 

wenda20141212  00:53 

Bagaimana menjaga “pikiran semula ” dalam belajar Buddha Dharma

Pendengar pria: Halo Master! Mohon Master memberi wejangan, bagaimana kita bisa selalu menjaga “pikiran semula” dalam belajar Buddha Dharma dan membina pikiran? Jika sudah kehilangan pikiran semula,  bagaimana cara menemukannya kembali?

Master menjawab: Jika seseorang kehilangan pikiran semula, itu berarti dia sedikit “luka sudah sembuh, rasa sakit pun dilupakan.”Karena saat seseorang membangkitkan pikiran semula biasanya itu terjadi ketika dia sedang sangat menderita, misalnya mengalami banyak cobaan, sering disalahkan dalam kehidupan, seperti masalah keluarga, pernikahan, kesehatan, perusahaan bangkrut, anak tidak patuh, atau berbagai penderitaan lainnya. Pada saat seperti itu, dia tiba-tiba berpikir: “Saya harus memohon perlindungan Bodhisattva! Saya harus berikrar, melepas makhluk hidup, melafalkan paritta!”Pada saat itulah pikiran  semula paling kuat. Saat itu, dia sedang mencari jalan untuk membebaskan dirinya dari penderitaan. Dan jalan untuk membebaskan diri dari penderitaan pada saat itu adalah membuat orang lain merasa dirinya sangat tulus dan penuh keyakinan. Lalu ketika kondisi sendiri mulai membaik, semuanya perlahan menjadi lebih baik, dia mulai tidak terlalu menganggapnya penting. Kadang melafalkan paritta, kadang tidak, kadang ingin menyembah Buddha, kadang tidak, lama-kelamaan pikiran semula pun hilang. Lalu bagaimana menemukannya kembali? Caranya adalah sering mengingat satu pepatah dahulu: “mengingat masa pahit untuk mensyukuri yang manis”. Artinya, harus sering mengingat masa-masa sulit kita, terutama ketika segala hal dalam diri kita menjadi baik. Harus lebih sering mengingat saat kita menderita (memikirkan bahaya di saat aman). Benar, memikirkan bahaya di saat aman. Selain itu, kita harus menjaga suatu kondisi batin yang stabil. Apa maksudnya? Tidak peduli baik atau buruk, saya memandang kehidupan saya sebagai suatu keadaan yang wajar. Ini lebih merupakan sikap batin seperti yang sering ditunjukkan orang—yaitu apa pun yang terjadi, baik hal besar maupun kecil, tidak menimbulkan terlalu banyak gejolak dalam diri saya. Menjaga diri tetap berada pada jalan tengah, pegang prinsip keseimbangan dan netralitas. Dengan kata lain, saat menderita, ingat bahwa kebahagiaan akan datang. Saat bahagia, ingat bahwa penderitaan juga bisa datang. Dengan demikian, kita bisa mempertahankan kondisi batin yang “alami”, yakni saat bahagia, tidak terlalu berlebihan karena tahu itu akan berlalu. Saat menderita, tidak terlalu mengeluh karena tahu itu juga akan berlalu. Jika mentalitas seperti ini bisa dijaga, itu disebut keseimbangan pikiran dalam ajaran Buddha Dharma. Orang yang memiliki keseimbangan pikiran seperti ini akan mampu menjaga pikiran semula. (Mengerti, terima kasih Master memberi wejangan!)

 

wenda20141212  00:53 

学佛如何保持初始心

男听众:师父好!请台长开示我们学佛修心如何一直保持初始心?如果失去初始心,如何找回来?

台长答:如果失去初始心,就说明这个人有一点“好了伤疤忘了痛”。因为当发初始心的时候,一般是人很苦的时候,比方说受到磨难了,在人间受到不停的责难了,比方说家庭、婚姻、身体、公司倒闭了、孩子不听话或者各种各样苦难,有什么事情发生的时候,他突然之间想:哎呀,我真的一定要求菩萨保佑啊!我一定要许愿、放生、念经啊。那个时候初始心是最强的,这个时候就是要找到一条能够解脱自己的路,而这个时候解脱自己的路就是让人家感觉这个人是非常非常虔诚的,那么等到自己好一点了,各方面都好一点了,开始慢慢地就不当回事了,一会念经,一会不念,有时候想拜佛就拜,不想拜佛就不拜,然后初始心慢慢就没有了。那么怎么找回来呢?就是经常要想一想,过去有一句话叫“忆苦思甜”,实际上就是要经常回忆自己苦的时候,尤其当自己各方面都很好的时候,要多想想自己很苦的时候(居安思危啊)对对,居安思危,而且要保持自己一种常态,这个常态是什么呢?不管好坏,我都觉得我的人生是一种常态,只不过是感觉上像人家表现出来经常拥有的一种态度一样,就是不管什么事发生了,大的小的事情,对我来讲都没有太多的起伏。掌握自己一个中庸,掌握自己一个中性,也就是说苦的时候要想到还会有甜,甜的时候要想到自己还会吃苦,所以这样的话就能保持一种原生态,就是心情永远是觉得开心也没有什么可开心的,也是很快就会过了;苦的时候也没有什么可以叫苦的,苦也会忘记的,也会过去的。那么这种心态保持住,实际上就是一种平衡心,就是一种平常心了。佛法讲叫平常心,拥有平常心的人,就能够让自己保持初始心了(明白了,感恩师父开示!)