24. Sifat Kebuddhaan Sifat Dasar, Memiliki Keharmonisan Pikiran
Menekuni dan mempraktikkan Dharma bukanlah hal yang mudah, itu memerlukan pola pikir yang harmonis. Ini berarti membuat pikiran (hati) kamu menjadi damai dan hidup sesuai dengan hati nuranimu, ini yang disebut sebagai harmoni. Mengembangkan pikiran yang toleran dan harmonis, selalu memikirkan kesejahteraan semua makhluk, memikirkan apa yang dilakukan semua makhluk. Ini yang dinamakan dengan “mengambil pikiran makhluk hidup sebagai pikiran diri sendiri,” yang berarti bahwa kamu harus bisa menganggap pikiran semua makhluk sebagai kepentinganmu sendiri atau urusan yang kamu pikirkan.
Misalnya saat orang lain merasa ketakutan, berpikir kalau dirinya mungkin mengidap sakit kanker, maka kamu harus merasa kalau kamu yang sedang memikirkannya, saya harus bisa turut menanggung beban pikirannya, ini baru namanya menekuni Dharma. Kita harus bisa “berusaha semaksimal mungkin menjadikan kesadaran spiritual di alam Dharma sebagai kekuatan sendiri.” Di alam Dharma ini, yakni di Alam Manusia, di dunia yang kita tinggal ini, kesadaran spiritual kita memiliki kekuatan.
Jika kamu memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, berarti kamu memiliki kekuatan spiritual. Karena semakin tinggi kesadaran spiritual seseorang, maka dia semakin tidak takut menghadapi kesulitan, dia semakin mampu mengatasi kesulitan; Sedangkan orang dengan kesadaran spiritual yang rendah akan merasa ketakutan saat menghadapi kesulitan. Contohnya, dokter berkata bahwa dia mungkin sakit kanker.
Jika dia adalah seorang umat dan praktisi Buddhis, selain itu memiliki kesadaran spiritual yang sangat tinggi, maka dia akan berkata, “Guan Shi Yin Pu Sa berwelas asih kepada saya, saya tidak melakukan kejahatan, maka saya tidak akan sakit kanker”; Namun jika dia bukanlah seorang umat dan praktisi Buddhis, maka mendengar berita ini, dia akan segera merasa ketakutan sekali, malah akan memperberat kondisi sakit yang dideritanya. Semakin tinggi tingkat kesadaran spiritual seseorang, maka dia akan mampu mengatasi semakin banyak kesulitan.
Ketahuilah bahwa alam Dharma yang tiada akhirnya adalah makhluk hidup yang tiada habisnya, semuanya berkumpul di tengah pikiran Bodhisattva. Alam Dharma yang tiada akhirnya dengan kata lain bahwa Alam Manusia ini tiada akhirnya, yakni tiada habisnya terus-menerus bertumimbal lahir. Jika seseorang adalah Bodhisattva yang sesungguhnya, maka dia harus bisa menempatkan semua makhluk di tengah pikirannya, mengutamakan dan mementingkan kebaikan untuk semua makhluk. Berarti harus mampu berkorban tanpa pemikiran egois sedikit pun, dia hanya memikirkan orang lain, harus bisa menempatkan semua makhluk di dalam pikiran, inilah konsep pemahaman untuk menyelamatkan semua makhluk dalam menekuni Dharma.
Kalian tahu bahwa dengan mengandalkan kekuatan Master dan Guan Shi Yin Pu Sa dalam menyelamatkan semua makhluk, hasil yang terbaik adalah bisa membuat bumi ini kiamat lebih lambat, bencana menjadi lebih berkurang. Kalau begitu, mengapa tidak terpikir bahwa segala benda terbentuk dari molekul, jika tidak ada molekul, bagaimana mungkin bisa tercipta benda-benda atau materiil? Misalnya, sehelai rambut jika diteropong melalui mikroskop, maka ia pun terbentuk dari banyak molekul. Kulit manusia, daging, dan lain sebagainya terbentuk dari air, jika kamu menguji dan menguraikannya, pada akhirnya yang akan ditemukan adalah air, tidak ada benda yang lain.
Kalian adalah air, kalian adalah benda, dan dari bersatunya kalian terbentuklah dunia ini. Sama seperti sebuah rumah, dari berbagai macam perabotan rumah tangga baru bisa membentuk sebuah rumah, akan tetapi perabot-perabot ini pada suatu hari nanti pun akan rapuh dan rusak, tidak bisa digunakan lagi, terakhir dibuang, maka rumah ini pun akan hilang.
Begitu pula dengan bumi ini. Jika kalian semua melakukan kejahatan, maka menurut kalian apakah kita masih bisa mempertahankan “rumah” ini? Setiap orang begitu egois, melakukan penelitian bom atom, menebang pohon, merusak keseimbangan alam, lalu menurut kalian, berapa lama lagi umur bumi ini? Maka, meningkatkan kesadaran spiritual sangatlah penting.
Oleh karena itu, kita harus bisa menganggap penderitaan semua makhluk, yakni penderitaan dan kesusahan semua makhluk di dunia ini, mengibaratkannya sebagai sebuah “pintu welas asih”, lalu dengan menggunakan “awan amal dan kebaikan” untuk memenuhinya. Dengan kata lain, welas asihmu harus seperti awan, yang mampu memenuhi “pintu welas asih” ini, maka dikatakan, “awan memenuhi pintu welas asih, lautan kasih yang bergelora”. Berarti lautan welas asih di hatimu seperti samudra besar yang bergelombang dan menggelora.
Dengan kata lain, harus terus menerus memiliki hati yang welas asih dan tidak boleh terputus, selain itu harus selalu “begitu ada pergolakan, segera merespon”, dengan kata lain, begitu timbul perasaan welas asih, lalu segera melakukan tindakan. Bukannya saat diri sendiri menghadapi suatu masalah, lalu apa yang harus saya lakukan? Saya harus secepatnya melafalkan paritta. Tidak boleh tidak mementingkan masalah orang lain dan hanya memikirkan masalah diri sendiri atau keluarga sendiri. Ini bukanlah sikap yang seharusnya kalian bina.
Kalau begitu, mengapa Bodhisattva di Surga hidup dengan sangat baik, lalu masih turun ke bawah untuk menyelamatkan semua makhluk? Mengapa mereka mau menjalani begitu banyak penderitaan? Karena Bodhisattva selalu merespon begitu merasakannya – “you gan ji fu”. “Ji” berarti segera, “fu” berarti bertindak cepat. Begitu merasakan sesuatu, lalu segera menolong orang, itu baru yang dinamakan Bodhisattva. Akan tetapi “segera melakukan kebajikan” ini pun ditentukan oleh jodoh, apabila orang ini tidak berjodoh, juga tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Maka, tekad sangatlah penting, ini namanya “tiada tekad tiada hasil”. Dengan kata lain, jika orang ini tidak memiliki niat atau tekad dalam melakukan apapun, maka segala hal yang dilakukannya tidak akan bisa berhasil.
Ketahuilah bahwa Bodhisattva tidak memiliki hati – pikiran. Dengan kata lain, jika kamu mengatakan bahwa setiap Bodhisattva memiliki hati, namun sesungguhnya tidak memiliki hati; Jika kamu mengatakan kalau Bodhisattva tidak memiliki hati, namun sesungguhnya memiliki hati.
Apabila kamu mengatakan kalau Bodhisattva tidak punya hati, lalu dari manakah asalnya perasaan welas asih Bodhisattva? Dari mana asalnya rasa kasihan? Dia memiliki hati. Namun di saat yang sama juga tidak memiliki hati, karena Bodhisattva sudah memandang segala hal di dunia ini sebagai sesuatu yang kosong, setelah memiliki pandangan kosong ini, bisa merefleksikan bahwa jiwa pikiran Bodhisattva adalah kosong. Jika kamu tidak memandang penting hal ini, maka sesungguhnya pikiranmu adalah kosong.
Bodhisattva memandang pikiran semua makhluk sebagai pikirannya sendiri. Apabila adalah Bodhisattva, maka apa yang kalian pikirkan juga merupakan pikiran dari Bodhisattva; Jika kalian sedih, Bodhisattva juga ikut bersedih; Jika kalian merasa pilu, Bodhisattva juga merasa pilu. Itu baru yang dinamakan dengan Bodhisattva memandang pikiran semua makhluk sebagai pikirannya sendiri. Bodhisattva tidak memiliki kesadaran spiritual. Dikatakan Bodhisattva tidak memiliki kesadaran spiritual karena kesadaran spiritual Bodhisattva adalah kesadaran spiritual semua makhluk.
Saat semua makhluk menderita, maka Bodhisattva akan turun ke Alam Manusia untuk menyelamatkan jiwa mereka; Saat semua makhluk berbahagia, Bodhisattva juga turut berbahagia. Saat Bodhisattva melihat kalian mengalami gempa bumi atau dilanda tsunami, atau tertimpa bencana, sama seperti kalian, Bodhisattva pun akan merasa sangat sedih.
Oleh karena itu, pahamilah bahwa, “begitu ada respon segera terhubung”. Yakni begitu kamu mendapatkan suatu respon, berarti kamu sudah terhubung. Dengan kata lain, saat pikiranmu sudah memiliki respon dengan pikiran semua makhluk, berarti kamu sudah terhubungkan. Saat semua makhluk menderita, maka kamu bisa merasakan penderitaan mereka, maka sesungguhnya kamu sudah menjadi Bodhisattva.
Saat semua makhluk akan tertimpa bencana, kamu akan merasa sangat sakit, maka sesungguhnya kamu sudah memiliki hati Buddha. Banyak orang yang suka melihat kejelekan orang lain, banyak orang merasa senang saat melihat orang lain terjatuh, atau saat orang lain tertimpa bencana, maka akan terlahir suatu perasaan senang di hatinya. Maka, pertama, orang seperti ini memiliki potensi kesadaran yang sangat rendah; Yang kedua, jiwanya sudah ternodai, tidak memiliki pola berpikir yang normal, dia bukanlah Bodhisattva.
Dia merasa penderitaan orang lain merupakan suatu kenikmatan bagi dirinya, suatu bentuk pelampiasan, maka sesungguhnya orang-orang seperti ini sama seperti binatang. Karena anjing adalah binatang, maka saat orang lain menendangnya, dia pasti akan membalas dengan menggigitnya. Jika dia melakukan kesalahan, lalu kamu juga turut melakukan kesalahan, bukankah berarti kamu sama sepertinya – juga adalah binatang?
Sebagai praktisi Buddhis, kalian harus bisa memahami satu prinsip kebenaran, yakni: tiada kebencian tanpa alasan, tiada hutang tanpa penghutang. Semua halangan karma buruk dan akar sifat buruk tercipta dari kehidupanmu yang sebelumnya. Karena bibit sebab yang kamu ciptakan di kehidupan sebelumnya baru bisa menyebabkan kamu harus menanggung begitu banyak penderitaan di kehidupan ini.
Jika di kehidupan ini, kesadaranmu masih belum terbuka dan terus hidup di tengah gelombang dosa ini, maka kamu akan terus berguling-guling di tengah gelombang karma buruk ini dan tidak akan pernah bisa keluar. Seperti para muda-mudi masa kini yang tidak pernah bisa memikirkan orang lain, tidak bisa berpikir dari sudut pandang orang lain. Inilah mengapa orang-orang zaman sekarang semakin tidak punya hati nurani. Inilah mengapa mereka menjadi semakin jauh dengan Bodhisattva. Karena Bodhisattva selalu memikirkan orang lain, yaitu pikiran semua makhluk adalah pikiranku, rupa semua makhluk adalah rupaku, kerisauan semua makhluk adalah kerisauanku.
Bodhisattva berpikir demikian. Sedangkan muda-mudi zaman sekarang apakah bisa berpikir demi kalian? Karena mereka bukan Bodhisattva, mereka tidak menekuni Dharma, maka segala hal yang mereka lakukan layaknya seorang manusia yang berada di Alam Manusia; Jika yang dilakukannya lebih buruk, maka bagaikan binatang di Alam Manusia; Jika yang dilakukannya lebih buruk lagi, maka mereka seperti setan di Alam Manusia; Bila lebih buruk lagi, maka mereka seperti iblis di Alam Manusia, yang nantinya pasti akan masuk Neraka. Pikiran Bodhisattva dan semua makhluk akan terhubung secara serentak. Secara serentak di sini berarti seperti saya dan dirimu sama sekali tidak perlu berdiskusi terlebih dahulu, namun konsep pemikiran dan tindakan yang kita lakukan semuanya sama.
Kita sering membahas tentang hati nurani, apakah kalian tahu dari manakah hati nurani berasal? Hati nurani berasal dari wujud semula semua makhluk, karena seseorang yang memiliki hati nurani, berarti ia memiliki wujud semula semua makhluk, sedangkan wujud semula semua makhluk adalah suatu jiwa yang seharusnya memang dimiliki oleh semua makhluk, suatu wujud yang nyata. Wujud semula semua makhluk harus berkaitan erat dengan pikiran Bodhisattva.
Dengan kata lain, seseorang yang benar-benar memiliki hati nurani yang baik, maka ucapan yang dikatakannya, tindakan yang dilakukannya, bahkan pemikiran di dalam pikirannya akan sama seperti Bodhisattva. Maka ia pasti bisa terhindarkan dari malapetaka, karena pikiranmu sudah terhubungkan dengan pikiran Bodhisattva. Jika kamu memiliki pikiran Buddha, maka asalkan muncul suatu pemikiran dalam dirimu, yang disebut “tumbuh pemikiran”, dalam bahasa kuno disebut sebagai “segera mendapatkan respon”, dengan kata lain, begitu muncul pemikiran dalam dirimu, Bodhisattva segera tiba.
Seperti perkataan, “Semua yang dilakukan manusia diketahui oleh Surga.” Kalau begitu, apa yang sedang kalian lakukan? Kalian sedang melakukan hal-hal duniawi, kalian tidak menekuni Dharma, kalian tidak melakukan hal-hal yang mulia, kalian masih berkeliaran di dunia ini. Jika saat bencana benar-benar tiba, lalu apa yang akan terjadi pada diri kalian? Kalian mengira hal-hal pribadi sendiri yang paling penting, semua masalah pribadi sendiri yang paling utama.
Master sering memberi tahu kalian, sebesar apapun masalah pribadi sendiri, tetap saja adalah masalah kecil; Namun hal kecil dalam menekuni dan membabarkan Dharma, tetap merupakan hal penting. Manusia bersifat egois. Segala hal yang kamu terima pada hari ini semuanya dikarenakan dirimu tidak melakukannya dengan baik. Dengan kata lain, seperti bibit yang kamu tanam di ladang ini tidak bagus, makanya tidak bisa tumbuh menjadi buah yang baik. Tunggu sampai kamu melihat pohon dengan buah-buahan yang buruk ini, kamu menjadi benci dan marah, dan kembali ingin supaya orang lain membantumu menyelesaikan masalah-masalah ini.
Maka saat itu, semuanya sudah terlambat. Ada pepatah di Tiongkok yang berbunyi, “Untuk menguraikan simpul diperlukan si pengikat simpul.” Buah karma buruk yang kamu tanam sendiri, jika dirimu sendiri tidak menyelesaikannya, malah meminta orang lain membantumu menyelesaikannya, apakah mungkin?
Jika pikiranmu senantiasa terhubung dengan Bodhisattva, maka saat dirimu menghadapi bencana, kamu bisa segera mendapatkan petunjuk dari Bodhisattva. Sesungguhnya yang terjadi pada dirimu adalah, “segera menampakkan tubuh Kebuddhaan”, dengan kata lain Bodhisattva bisa segera terlihat pada dirimu, berarti kamu sudah mendapatkan kebebasan.
Jika kamu bisa terhindar saat terjadi bencana, sesungguhnya berarti kamu sudah berbeda dengan orang-orang, kamu adalah Bodhisattva, karena Bodhisattva tidak akan tertimpa bencana. Akan tetapi bagaimana Bodhisattva ini bisa terbentuk? Ini semua mengandalkan pada sikap dan perilakumu sehari-hari yang sama seperti Bodhisattva.
